alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

Alotnya Pemilihan Ketua PWI Tanbu: Dua Kali Suara Imbang

BATULICIN – Pemilihan Ketua PWI Tanah Bumbu berjalan alot, sampai digelar dua hari. Walau akhirnya berjalan antiklimaks.

Senin (31/1) tadi, ada tiga calon mengusung diri. Kristiawan, Selamat Riyadi dan Zainal Hakim.

Sebenarnya masih ada beberapa nama yang merupakan wartawan muda. Namun mereka terkendala aturan, bahwa untuk mencalon Ketua PWI minimal harus jadi anggota biasa sela satu tahun.

“Aku belum sampai setahun jadi anggota biasa,” kata Man Hidayat. Suara muda awalnya diperkirakan akan mendominasi, namun beberapa kandidat terbentur aturan.

Digelarlah pemilihan. Toal ada dua belas suara. Zainal Hakim dapat dua. Sisanya dua calon dapat suara imbang.

Pemilihan ke dua digelar. Kristiawan head to head melawan Selamat Riyadi. Hasilnya imbang lagi. Dua suara rusak. Satu bertulisan tanda silang. Satunya bertulisan zonk.

Melihat tulisan zonk itu rupanya menyinggung Ketua PWI Kalsel Zainal Helmi. “Ini jangan dibuat main-main. Masak hal begini saja tidak bisa menentukan pilihan,” sungutnya.

Baca Juga :  Silaturahmi PWI HST bersama Kajari HST

Pun begitu, para kandidat pun ditawarkan pilihan. Apakah menunda pemilihan ulang paling lambat 45 hari ke depan. Atau digelar lagi esok pagi.

Selasa (1/2) pagi, para wartawan yang tergabung di PWI dan organisasi lainnya ramai datang ke Hotel Ebony. Tempat pemilihan digelar sejak sehari sebelumnya. Mahalnya hotel ini kabarnya juga menyedot keras anggaran PWI Tanah Bumbu.

Terjadi perbedaan pendapat antara Kristiawan dan mantan Ketua PWI Tanah Bumbu M Fadli. Kris meminta pemilihan ditunda dengan berbagai pertimbangan. Sementara Fadli bersikeras hari itu juga.

Pengurus PWI pun melempar ke Ketua ‘KPU’ Ryan Mokodompit. Dia ditunjuk sebagai perwakilan jurnalis tertua selain calon. Wakil Ketua ‘KPU’ Agus Hasanuddin, anggota PWI termuda.

Agus dan Ryan memutuskan pemilihan digelar hari itu juga. Kris kemudian memilih mundur. Dan Selamet Riyadi secara otomatis jadi ketua.

Baca Juga :  Setelah Dua Tahun Absen, PWI Kalsel Akhirnya Gelar Buka Bersama

Kris kepada Radar Banjarmasin mengatakan, dia mundur untuk menjaga kekompakan wartawan di daerah.

“Karena sudah ada yang mendapat tekanan dari pihak tertentu. Jadi saya menjaga agar tetap kondusif,” ujarnya.

Dia pun meminta para wartawan muda menjadikan dinamika pemilihan itu sebagai pelajaran. “Berani mengeluarkan pendapat dan gagasan, dan tetap solid,” tekannya.

Sementara itu Selamat Riyadi mengatakan, dia akan menjalankan roda PWI di Tanah Bumbu dengan transparan. “Apa yang sudah jadi visi dan misi saya, akan saya jalankan dengan maksimal,” ujarnya.

Helmi kepada Radar Banjarmasin mengatakan, apa pun hasil pemilihan tersebut PWI di daerah mesti diperkuat dengan anggota yang muda-muda. Sebagai motor penggerak kegiatan organisasi ini.

“Kalian yang muda-muda inilah yang bisa mewarnai. Saling mendukung, dan bekerja sama,” ujarnya. (zal)

BATULICIN – Pemilihan Ketua PWI Tanah Bumbu berjalan alot, sampai digelar dua hari. Walau akhirnya berjalan antiklimaks.

Senin (31/1) tadi, ada tiga calon mengusung diri. Kristiawan, Selamat Riyadi dan Zainal Hakim.

Sebenarnya masih ada beberapa nama yang merupakan wartawan muda. Namun mereka terkendala aturan, bahwa untuk mencalon Ketua PWI minimal harus jadi anggota biasa sela satu tahun.

“Aku belum sampai setahun jadi anggota biasa,” kata Man Hidayat. Suara muda awalnya diperkirakan akan mendominasi, namun beberapa kandidat terbentur aturan.

Digelarlah pemilihan. Toal ada dua belas suara. Zainal Hakim dapat dua. Sisanya dua calon dapat suara imbang.

Pemilihan ke dua digelar. Kristiawan head to head melawan Selamat Riyadi. Hasilnya imbang lagi. Dua suara rusak. Satu bertulisan tanda silang. Satunya bertulisan zonk.

Melihat tulisan zonk itu rupanya menyinggung Ketua PWI Kalsel Zainal Helmi. “Ini jangan dibuat main-main. Masak hal begini saja tidak bisa menentukan pilihan,” sungutnya.

Baca Juga :  Setelah Dua Tahun Absen, PWI Kalsel Akhirnya Gelar Buka Bersama

Pun begitu, para kandidat pun ditawarkan pilihan. Apakah menunda pemilihan ulang paling lambat 45 hari ke depan. Atau digelar lagi esok pagi.

Selasa (1/2) pagi, para wartawan yang tergabung di PWI dan organisasi lainnya ramai datang ke Hotel Ebony. Tempat pemilihan digelar sejak sehari sebelumnya. Mahalnya hotel ini kabarnya juga menyedot keras anggaran PWI Tanah Bumbu.

Terjadi perbedaan pendapat antara Kristiawan dan mantan Ketua PWI Tanah Bumbu M Fadli. Kris meminta pemilihan ditunda dengan berbagai pertimbangan. Sementara Fadli bersikeras hari itu juga.

Pengurus PWI pun melempar ke Ketua ‘KPU’ Ryan Mokodompit. Dia ditunjuk sebagai perwakilan jurnalis tertua selain calon. Wakil Ketua ‘KPU’ Agus Hasanuddin, anggota PWI termuda.

Agus dan Ryan memutuskan pemilihan digelar hari itu juga. Kris kemudian memilih mundur. Dan Selamet Riyadi secara otomatis jadi ketua.

Baca Juga :  Silaturahmi PWI HST bersama Kajari HST

Kris kepada Radar Banjarmasin mengatakan, dia mundur untuk menjaga kekompakan wartawan di daerah.

“Karena sudah ada yang mendapat tekanan dari pihak tertentu. Jadi saya menjaga agar tetap kondusif,” ujarnya.

Dia pun meminta para wartawan muda menjadikan dinamika pemilihan itu sebagai pelajaran. “Berani mengeluarkan pendapat dan gagasan, dan tetap solid,” tekannya.

Sementara itu Selamat Riyadi mengatakan, dia akan menjalankan roda PWI di Tanah Bumbu dengan transparan. “Apa yang sudah jadi visi dan misi saya, akan saya jalankan dengan maksimal,” ujarnya.

Helmi kepada Radar Banjarmasin mengatakan, apa pun hasil pemilihan tersebut PWI di daerah mesti diperkuat dengan anggota yang muda-muda. Sebagai motor penggerak kegiatan organisasi ini.

“Kalian yang muda-muda inilah yang bisa mewarnai. Saling mendukung, dan bekerja sama,” ujarnya. (zal)

Most Read

Artikel Terbaru

/