alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Malam Tahun Baru di Kelenteng Pasar

Misteri Bayangan Merah dan Tradisi Makan Besar

Ketika rupang Tian Shang Sheng Mu diletakkan di altar pemujaan, muncul seberkas bayangan membentuk huruf Mandarin. Membuat heran pengurus Kelenteng Po An Kiong.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Peristiwa itu terjadi dua tahun silam. Saat rupang itu baru tiba di kelenteng di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah ini.

Dipesan dari Pulau Jawa, Tian Shang Sheng Mu adalah rupang kelima di lantai dua kelenteng tersebut.
Bayangan berwarna merah sebesar telapak tangan itu muncul di dinding belakang rupang.

“Saya hanya bisa duduk bersandar, sambil terus menatap ke arahnya,” tutur Wakil Ketua Pengelola Kelenteng Pasar, Chitra Suryapandi, Senin (31/1) malam.

“Heran sekaligus kagum. Karena peletakan rupang lainnya tidak menimbulkan bayangan seperti itu,” jelasnya.

Suryapandi sempat ragu. Dia meminta lampu dimatikan, siapa tahu hanya efek atau pantulan cahaya biasa.

“Tapi lampu sudah dimatikan, nyatanya tetap ada. Diraba-raba pakai tangan, bayangan itu tak tembus,” kisahnya.

Sayang, sampai sekarang, tak ada yang mengetahui makna dari huruf tersebut.

“Tiap malam Imlek seperti ini, bayangannya menjadi lebih jelas. Tapi kalau malam biasa kurang terlihat,” ungkapnya seraya mengajak penulis mengeceknya.

Baca Juga :  Tahun Ini, Penjualan Pernak-Pernik Imlek Naik Tiga Kali Lipat

Ditanya bagaimana bila posisi rupang digeser, Suryapandi tak pernah mencobanya. Karena menjadi pantangan untuk memindah-mindahkan rupang. “Peletakannya juga memiliki perhitungan tersendiri,” jelasnya.

Tian Shang Sheng Mu tampil sebagai seorang dewi yang mengenakan kostum kebesaran dan mahkota bertabur permata.

Memegang papan seremonial, seperti yang biasa dibawa pejabat kerajaan ketika menghadap kaisar. Ia didampingi dua rupang kecil yang bertindak sebagai pengawal.

Dalam kepercayaan warga Tionghoa, Tiang Shang Sheng Mu dikenal pula sebagai ibu yang suci. Dianggap dewi pelindung lautan.

“Penglihatan dan pendengarannya tajam hingga mampu menembus benua,” jelas Ketua Bidang Kerohanian di Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Darma (PTITD) Kalsel itu.

Kian malam, aroma hio (dupa) semakin pekat. Satu per satu warga Tionghoa berdatangan untuk ber sembahyang.

Karena pandemi, kelenteng-kelenteng di Banjarmasin tak menggelar sembahyang berjemaah.

“Kami mentaati anjuran pengurus PTITD pusat. Lantaran masih covid, kami sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menimbulkan kerumunan. Apalagi sekarang ada varian baru Omicron,” tekannya.

Baca Juga :  Tahun Macan Air, Tahun Keberanian

“Jadi, kami hanya merayakan secara sederhana. Masih ada batasan-batasan. Kami anjurkan warga untuk sembahyang bergiliran dan bergantian,” lanjutnya.

Sisi lain, Imlek selalu identik dengan tradisi Angpao dan Barongsai. Namun bagi Suryapandi ada tradisi lain yang tak kalah penting.

Yakni kumpul-kumpul bersama keluarga besar. Makam malam bersama, tak boleh seorang pun tertinggal. “Biasanya digelar di rumah anggota keluarga tertua pada malam puncak perayaan tahun baru,” jelasnya.

Makna makan malam besar ini adalah pengikat, pemersatu dan pengerat hubungan keluarga.

Rekan Suryapandi, Hengky Yulianus Sofian menambahkan, acara makan-makan itu bukan hanya untuk bergembira. Tapi juga membicarakan segala masalah yang dihadapi keluarga untuk dicarikan solusinya.

Bahkan, leluhur yang sudah meninggal juga diundang dengan cara memberikan persembahan di altar ruang keluarga.

Terakhir, Suryapandi dan Sofian menyerukan pesan persatuan. “Kita semua harus bersatu. Tak ada perpecahan. Tidak memandang apa pun agama atau keyakinannya,” pungkasnya. (war/at/fud)

Ketika rupang Tian Shang Sheng Mu diletakkan di altar pemujaan, muncul seberkas bayangan membentuk huruf Mandarin. Membuat heran pengurus Kelenteng Po An Kiong.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Peristiwa itu terjadi dua tahun silam. Saat rupang itu baru tiba di kelenteng di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah ini.

Dipesan dari Pulau Jawa, Tian Shang Sheng Mu adalah rupang kelima di lantai dua kelenteng tersebut.
Bayangan berwarna merah sebesar telapak tangan itu muncul di dinding belakang rupang.

“Saya hanya bisa duduk bersandar, sambil terus menatap ke arahnya,” tutur Wakil Ketua Pengelola Kelenteng Pasar, Chitra Suryapandi, Senin (31/1) malam.

“Heran sekaligus kagum. Karena peletakan rupang lainnya tidak menimbulkan bayangan seperti itu,” jelasnya.

Suryapandi sempat ragu. Dia meminta lampu dimatikan, siapa tahu hanya efek atau pantulan cahaya biasa.

“Tapi lampu sudah dimatikan, nyatanya tetap ada. Diraba-raba pakai tangan, bayangan itu tak tembus,” kisahnya.

Sayang, sampai sekarang, tak ada yang mengetahui makna dari huruf tersebut.

“Tiap malam Imlek seperti ini, bayangannya menjadi lebih jelas. Tapi kalau malam biasa kurang terlihat,” ungkapnya seraya mengajak penulis mengeceknya.

Baca Juga :  Tahun Kedua Imlek Tanpa Barongsai

Ditanya bagaimana bila posisi rupang digeser, Suryapandi tak pernah mencobanya. Karena menjadi pantangan untuk memindah-mindahkan rupang. “Peletakannya juga memiliki perhitungan tersendiri,” jelasnya.

Tian Shang Sheng Mu tampil sebagai seorang dewi yang mengenakan kostum kebesaran dan mahkota bertabur permata.

Memegang papan seremonial, seperti yang biasa dibawa pejabat kerajaan ketika menghadap kaisar. Ia didampingi dua rupang kecil yang bertindak sebagai pengawal.

Dalam kepercayaan warga Tionghoa, Tiang Shang Sheng Mu dikenal pula sebagai ibu yang suci. Dianggap dewi pelindung lautan.

“Penglihatan dan pendengarannya tajam hingga mampu menembus benua,” jelas Ketua Bidang Kerohanian di Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Darma (PTITD) Kalsel itu.

Kian malam, aroma hio (dupa) semakin pekat. Satu per satu warga Tionghoa berdatangan untuk ber sembahyang.

Karena pandemi, kelenteng-kelenteng di Banjarmasin tak menggelar sembahyang berjemaah.

“Kami mentaati anjuran pengurus PTITD pusat. Lantaran masih covid, kami sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menimbulkan kerumunan. Apalagi sekarang ada varian baru Omicron,” tekannya.

Baca Juga :  Perayaan Imlek di Kelenteng Soetji Nurani: Berharap Makmur di Tahun Harimau

“Jadi, kami hanya merayakan secara sederhana. Masih ada batasan-batasan. Kami anjurkan warga untuk sembahyang bergiliran dan bergantian,” lanjutnya.

Sisi lain, Imlek selalu identik dengan tradisi Angpao dan Barongsai. Namun bagi Suryapandi ada tradisi lain yang tak kalah penting.

Yakni kumpul-kumpul bersama keluarga besar. Makam malam bersama, tak boleh seorang pun tertinggal. “Biasanya digelar di rumah anggota keluarga tertua pada malam puncak perayaan tahun baru,” jelasnya.

Makna makan malam besar ini adalah pengikat, pemersatu dan pengerat hubungan keluarga.

Rekan Suryapandi, Hengky Yulianus Sofian menambahkan, acara makan-makan itu bukan hanya untuk bergembira. Tapi juga membicarakan segala masalah yang dihadapi keluarga untuk dicarikan solusinya.

Bahkan, leluhur yang sudah meninggal juga diundang dengan cara memberikan persembahan di altar ruang keluarga.

Terakhir, Suryapandi dan Sofian menyerukan pesan persatuan. “Kita semua harus bersatu. Tak ada perpecahan. Tidak memandang apa pun agama atau keyakinannya,” pungkasnya. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/