alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Minyak Goreng: Harganya Murah, Tinggal Pengawasannya

BANJARMASIN – Mulai hari ini (1/2), harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng berlaku. Minyak goreng curah ditetapkan seharga Rp11.500 per liter, kemasan sederhana Rp13.500 per liter, dan kemasan premium Rp14 ribu per liter.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Kalsel, Ahmad Murjani mengapresiasinya. Menyebutnya sebagai kebijakan yang pro rakyat dan pro pemulihan perekonomian akibat pandemi.

Tinggal bagaimana regulasi dan teknis pengawasan di lapangan. “Harus ada,” ujarnya kemarin (31/1).

Seperti sanksi apa yang dijatuhkan kepada pedagang nakal yang menjual dengan harga di atas HET. “Bikin sanksi tegas, apalagi kalau sudah termasuk penimbun,” tambahnya.

Murjani juga mempertanyakan, apakah kebijakan satu harga ini bisa menjamin kelancaran distribusi dan ketersediaan stok minyak goreng. Ia tak ingin HET malah memicu masalah baru.

Baca Juga :  Pendemo Robek Surat Pernyataan DPRD

Kembali pada soal pengawasan, YLK mengambil contoh penerapan di ritel-ritel modern.

Dengan harga murah, pembelian dibatasi dua liter per orang. Mencegah aksi borong. Menurutnya, ini masih bisa disiasati. Dengan cara berkeliling ke banyak toko atau membawa kerabat berbelanja.

“Siapa yang bisa melarangnya? Mungkin sekali banyak yang melakukan hal demikian,” tukasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang minyak goreng di Pasar Lama, Banjarmasin Tengah, mengatakan sudah beberapa hari ini mengikuti harga yang dianjurkan pemerintah.

“Kalau terlanjur membeli dengan harga lama, terpaksa jual rugi. Untungnya ada kebijakan dari salesnya agar mengikuti harga baru,” kata Haji Iwan.

Di kiosnya, kemasan satu liter dijual Rp14 ribu. Sebelumnya dijual dengan harga Rp17 ribu. Lalu, kemasan dua liter turun harga Rp28 ribu, dari semula Rp29 ribu.

Baca Juga :  Disidak, Rak Minyak Goreng Dibiarkan Kosong

Pedagang lain, Imar mengatakan hal senada. Beberapa hari yang lewat, ada petugas Dinas Perdagangan dan Perindustrian yang meminta pedagang mengikuti HET pemerintah.

“Orang dinas yang memberi tahu,” ujarnya. Untungnya, dia tak sempat menyetok banyak. Jadi kerugian yang dideritanya tak terlampau besar.

“Biasanya menjual Rp17 ribu per liter, sekarang diminta Rp14 ribu. Saya memilih menjual Rp15 ribu agar tak terlalu banyak ruginya,” bebernya. (gmp/at/fud)

BANJARMASIN – Mulai hari ini (1/2), harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng berlaku. Minyak goreng curah ditetapkan seharga Rp11.500 per liter, kemasan sederhana Rp13.500 per liter, dan kemasan premium Rp14 ribu per liter.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Kalsel, Ahmad Murjani mengapresiasinya. Menyebutnya sebagai kebijakan yang pro rakyat dan pro pemulihan perekonomian akibat pandemi.

Tinggal bagaimana regulasi dan teknis pengawasan di lapangan. “Harus ada,” ujarnya kemarin (31/1).

Seperti sanksi apa yang dijatuhkan kepada pedagang nakal yang menjual dengan harga di atas HET. “Bikin sanksi tegas, apalagi kalau sudah termasuk penimbun,” tambahnya.

Murjani juga mempertanyakan, apakah kebijakan satu harga ini bisa menjamin kelancaran distribusi dan ketersediaan stok minyak goreng. Ia tak ingin HET malah memicu masalah baru.

Baca Juga :  Kapolres HSU Sidak Gudang Migor

Kembali pada soal pengawasan, YLK mengambil contoh penerapan di ritel-ritel modern.

Dengan harga murah, pembelian dibatasi dua liter per orang. Mencegah aksi borong. Menurutnya, ini masih bisa disiasati. Dengan cara berkeliling ke banyak toko atau membawa kerabat berbelanja.

“Siapa yang bisa melarangnya? Mungkin sekali banyak yang melakukan hal demikian,” tukasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang minyak goreng di Pasar Lama, Banjarmasin Tengah, mengatakan sudah beberapa hari ini mengikuti harga yang dianjurkan pemerintah.

“Kalau terlanjur membeli dengan harga lama, terpaksa jual rugi. Untungnya ada kebijakan dari salesnya agar mengikuti harga baru,” kata Haji Iwan.

Di kiosnya, kemasan satu liter dijual Rp14 ribu. Sebelumnya dijual dengan harga Rp17 ribu. Lalu, kemasan dua liter turun harga Rp28 ribu, dari semula Rp29 ribu.

Baca Juga :  Yang Dilarang Ekspor Bukan CPO, Perusahaan Harus Beli TBS dengan Harga Wajar

Pedagang lain, Imar mengatakan hal senada. Beberapa hari yang lewat, ada petugas Dinas Perdagangan dan Perindustrian yang meminta pedagang mengikuti HET pemerintah.

“Orang dinas yang memberi tahu,” ujarnya. Untungnya, dia tak sempat menyetok banyak. Jadi kerugian yang dideritanya tak terlampau besar.

“Biasanya menjual Rp17 ribu per liter, sekarang diminta Rp14 ribu. Saya memilih menjual Rp15 ribu agar tak terlalu banyak ruginya,” bebernya. (gmp/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/