alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

3 SMPN Ditutup, PTM di Tengah Tren Kenaikan Covid Masih Diperbolehkan

Tren kasus COVID-19 di Banjarmasin kembali meningkat. Mengacu data dinas kesehatan, tercatat 101 kasus aktif. Tiga SMP kembali belajar daring.

***

BANJARMASIN – Itu data per tanggal 30 Januari. Padahal, pada 28 Januari hanya 52 kasus aktif. Dua hari sebelumnya cuma 33 kasus aktif.

Sementara pemko masih mengizinkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara penuh. Izin itu berlaku sejak 4 Januari lalu.

Pemko telah mengevaluasi keadaan dan meyakinkan masih cukup aman untuk membuka sekolah-sekolah.
“Belum ada perubahan kebijakan, masih PTM,” ucap Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto, kemarin (30/1).

Namun, informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, seorang siswa SMP terinfeksi virus corona di tengah PTM. Ketika dikonfirmasi, Totok pun tak menampiknya.

“Sekolah sudah melaporkan, ada satu anak yang sakit dan positif covid. Sudah saya instruksikan untuk melacak kontak eratnya. Jadi belum bisa dipastikan apakah muncul klaster atau tidak di sekolahnya,” jelasnya.

“Tapi kalau memang terjadi penularan, maka sesuai SKB 4 menteri, maka PTM di sekolah yang bersangkutan akan diliburkan. Dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring selama 14 hari ke depan,” imbuhnya.

“Kami sebenarnya yakin bahwa sekolah sudah cukup disiplin menjalankan prokes. Tapi, namanya anak-anak kan tak hanya berada di sekolah saja. Mereka bisa beraktivitas di luar, jadi banyak kemungkinan untuk sumber penularannya,” lanjutnya.

“Kami berharap, orang tua di rumah bisa mengingatkan anak-anaknya untuk disiplin prokes di luar sekolah,” imbaunya.

Terpisah, Kepala Bidang Bina SMP Disdik, Saifuddin Zuhri mengaku sudah meneruskan kondisi siswa SMP ini ke Satgas COVID-19 Banjarmasin.

Apalagi, tak hanya dinyatakan positif, siswa ini juga harus dirawat di rumah sakit.

Baca Juga :  Anak Sungai Limas Jadi Sasaran Vaksin

Diceritakannya, siswa ini jatuh sakit dan kemudian harus dirawat di rumah sakit. Saat diperiksa, rupanya terinfeksi corona.

Siswa kelas VII ini belajar di SMPN 1 Banjarmasin yang beralamat Jalan Batu Tiban, Banjarmasin Tengah.

“Rumah sakit lalu memberitahu pihak sekolah bahwa salah satu siswanya ada yang positif covid,” jelasnya.

“Sebagai antisipasi, kepala sekolah kemudian melapor ke kami. Dan kami sudah berkoordinasi ke satgas,” tambahnya.

Akhirnya diputuskan, SMPN 1 Banjarmasin ditutup. Kembali belajar daring selama sepekan, terhitung dari tanggal 31 Januari sampai 6 Februari.

“Dilihat perkembangannya dulu, kalau misalkan perlu ditambah waktu PJJ-nya selama dua pekan, maka akan kami tambah,” tekannya.

Ketika berita ini ditulis, SMPN 2 Banjarmasin di Jalan Batu Benawa, Banjarmasin Tengah dan SMPN 19 Banjarmasin di Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan juga ditutup.

Radar Banjarmasin juga menanyakan hasil evaluasi PTM di jenjang SD.

“Sabtu tadi kami sudah menerima laporan dari semua kepsek. Alhamdulillah, tak ada siswa atau guru yang terpapar covid,” kata Kepala Bidang Bina SD Disdik, Nuryadi.

Kalau muncul penularan, Nuryadi memastikan penutupan sekolah akan diputuskan oleh atasannya.

“Kalau toh diminta PJJ, kami siap. Yang jelas, kami selalu mengingatkan sekolah untuk mengawasi siswa-siswinya dalam menjalankan prokes,” pungkasnya.

Pelacakan Kasus Temukan OTG

Kepala SMPN 1 Banjarmasin, Gusti Khairurrahman membenarkan ada seorang siswanya yang terinfeksi COVID-19. Konfirmasi positif itu diketahui pada Sabtu (29/1) sore.

“Yang bersangkutan beberapa waktu lalu memang izin tidak masuk jelas karena sakit. Setelah beberapa hari kemudian masuk rumah sakit,” ceritanya.

Saat ini, sekolah masih berunding terkait instruksi PJJ. “Yang jelas, besok seluruh siswa diistirahatkan di rumah dahulu. Karena besok, kami mau rapat penyusunan jadwal PJJ. Karena baru hari ini instruksi PJJ disampaikan. Malam ini kami umumkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Ribuan Anak dan Lansia di Banjarbaru Belum Vaksin

Pelacakan kasus kemudian menemukan belasan dugaan. “Setelah di-tracking, kami diberitahu ada 12 anak lain yang terpapar, kalau saya tak keliru mengingat jumlahnya,” imbuhnya.

“Tapi mereka tidak bergejala. Itu menurut keterangan Puskesmas Teluk Dalam yang hasilnya dilaporkan ke Rumah Sakit Sultan Suriansyah,” pungkasnya.

Vaksin Bukan Syarat Wajib PTM

Di luar, ingar-bingar vaksinasi sebagai syarat bagi siswa untuk bisa mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) masih terdengar.

Seiring dengan dimulainya vaksinasi anak usia 6 sampai 11 tahun di Kota Banjarmasin.

Pemko menetapkan sasaran 69.608 anak. Tujuannya, mencegah penularan COVID-19 beserta varian mutasinya.
Faktanya, vaksinasi bukan syarat untuk mengikuti PTM. Seperti yang ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto.

“Kami masih berpedoman pada surat keputusan bersama (SKB) empat menteri. Vaksin bukan menjadi kewajiban untuk siswa yang mengikuti PTM,” jelasnya, kemarin (30/1).

Sementara di sejumlah daerah, vaksinasi telah menjadi kewajiban bagi pelajar. Ditanya apakah Banjarmasin takkan menirunya, ditekankannya disdik bukan penentu.

Penetapan kewajiban itu merupakan wewenang wali kota. “Banjarmasin saat ini masih belum,” tambah Totok.
Sehari sebelumnya (29/1), Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menjelaskan pemko masih memberikan kelonggaran.

“Kalau kami moderat saja. Kalau orang tua tidak mengizinkan, ya tak masalah. Artinya tetap PTM. Tapi diimbau agar anak-anak lekas divaksin,” terangnya.

Intinya, vaksinasi anak atau pelajar tetap membutuhkan persetujuan dari orang tua. “Yang tidak bervaksin masih bisa mengikuti PTM,” pungkas Ibnu. (war/at/fud)

Tren kasus COVID-19 di Banjarmasin kembali meningkat. Mengacu data dinas kesehatan, tercatat 101 kasus aktif. Tiga SMP kembali belajar daring.

***

BANJARMASIN – Itu data per tanggal 30 Januari. Padahal, pada 28 Januari hanya 52 kasus aktif. Dua hari sebelumnya cuma 33 kasus aktif.

Sementara pemko masih mengizinkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara penuh. Izin itu berlaku sejak 4 Januari lalu.

Pemko telah mengevaluasi keadaan dan meyakinkan masih cukup aman untuk membuka sekolah-sekolah.
“Belum ada perubahan kebijakan, masih PTM,” ucap Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto, kemarin (30/1).

Namun, informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, seorang siswa SMP terinfeksi virus corona di tengah PTM. Ketika dikonfirmasi, Totok pun tak menampiknya.

“Sekolah sudah melaporkan, ada satu anak yang sakit dan positif covid. Sudah saya instruksikan untuk melacak kontak eratnya. Jadi belum bisa dipastikan apakah muncul klaster atau tidak di sekolahnya,” jelasnya.

“Tapi kalau memang terjadi penularan, maka sesuai SKB 4 menteri, maka PTM di sekolah yang bersangkutan akan diliburkan. Dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring selama 14 hari ke depan,” imbuhnya.

“Kami sebenarnya yakin bahwa sekolah sudah cukup disiplin menjalankan prokes. Tapi, namanya anak-anak kan tak hanya berada di sekolah saja. Mereka bisa beraktivitas di luar, jadi banyak kemungkinan untuk sumber penularannya,” lanjutnya.

“Kami berharap, orang tua di rumah bisa mengingatkan anak-anaknya untuk disiplin prokes di luar sekolah,” imbaunya.

Terpisah, Kepala Bidang Bina SMP Disdik, Saifuddin Zuhri mengaku sudah meneruskan kondisi siswa SMP ini ke Satgas COVID-19 Banjarmasin.

Apalagi, tak hanya dinyatakan positif, siswa ini juga harus dirawat di rumah sakit.

Baca Juga :  Anak Sungai Limas Jadi Sasaran Vaksin

Diceritakannya, siswa ini jatuh sakit dan kemudian harus dirawat di rumah sakit. Saat diperiksa, rupanya terinfeksi corona.

Siswa kelas VII ini belajar di SMPN 1 Banjarmasin yang beralamat Jalan Batu Tiban, Banjarmasin Tengah.

“Rumah sakit lalu memberitahu pihak sekolah bahwa salah satu siswanya ada yang positif covid,” jelasnya.

“Sebagai antisipasi, kepala sekolah kemudian melapor ke kami. Dan kami sudah berkoordinasi ke satgas,” tambahnya.

Akhirnya diputuskan, SMPN 1 Banjarmasin ditutup. Kembali belajar daring selama sepekan, terhitung dari tanggal 31 Januari sampai 6 Februari.

“Dilihat perkembangannya dulu, kalau misalkan perlu ditambah waktu PJJ-nya selama dua pekan, maka akan kami tambah,” tekannya.

Ketika berita ini ditulis, SMPN 2 Banjarmasin di Jalan Batu Benawa, Banjarmasin Tengah dan SMPN 19 Banjarmasin di Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan juga ditutup.

Radar Banjarmasin juga menanyakan hasil evaluasi PTM di jenjang SD.

“Sabtu tadi kami sudah menerima laporan dari semua kepsek. Alhamdulillah, tak ada siswa atau guru yang terpapar covid,” kata Kepala Bidang Bina SD Disdik, Nuryadi.

Kalau muncul penularan, Nuryadi memastikan penutupan sekolah akan diputuskan oleh atasannya.

“Kalau toh diminta PJJ, kami siap. Yang jelas, kami selalu mengingatkan sekolah untuk mengawasi siswa-siswinya dalam menjalankan prokes,” pungkasnya.

Pelacakan Kasus Temukan OTG

Kepala SMPN 1 Banjarmasin, Gusti Khairurrahman membenarkan ada seorang siswanya yang terinfeksi COVID-19. Konfirmasi positif itu diketahui pada Sabtu (29/1) sore.

“Yang bersangkutan beberapa waktu lalu memang izin tidak masuk jelas karena sakit. Setelah beberapa hari kemudian masuk rumah sakit,” ceritanya.

Saat ini, sekolah masih berunding terkait instruksi PJJ. “Yang jelas, besok seluruh siswa diistirahatkan di rumah dahulu. Karena besok, kami mau rapat penyusunan jadwal PJJ. Karena baru hari ini instruksi PJJ disampaikan. Malam ini kami umumkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Di HSS, PTM Sudah Enam Jam Pelajaran

Pelacakan kasus kemudian menemukan belasan dugaan. “Setelah di-tracking, kami diberitahu ada 12 anak lain yang terpapar, kalau saya tak keliru mengingat jumlahnya,” imbuhnya.

“Tapi mereka tidak bergejala. Itu menurut keterangan Puskesmas Teluk Dalam yang hasilnya dilaporkan ke Rumah Sakit Sultan Suriansyah,” pungkasnya.

Vaksin Bukan Syarat Wajib PTM

Di luar, ingar-bingar vaksinasi sebagai syarat bagi siswa untuk bisa mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) masih terdengar.

Seiring dengan dimulainya vaksinasi anak usia 6 sampai 11 tahun di Kota Banjarmasin.

Pemko menetapkan sasaran 69.608 anak. Tujuannya, mencegah penularan COVID-19 beserta varian mutasinya.
Faktanya, vaksinasi bukan syarat untuk mengikuti PTM. Seperti yang ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto.

“Kami masih berpedoman pada surat keputusan bersama (SKB) empat menteri. Vaksin bukan menjadi kewajiban untuk siswa yang mengikuti PTM,” jelasnya, kemarin (30/1).

Sementara di sejumlah daerah, vaksinasi telah menjadi kewajiban bagi pelajar. Ditanya apakah Banjarmasin takkan menirunya, ditekankannya disdik bukan penentu.

Penetapan kewajiban itu merupakan wewenang wali kota. “Banjarmasin saat ini masih belum,” tambah Totok.
Sehari sebelumnya (29/1), Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menjelaskan pemko masih memberikan kelonggaran.

“Kalau kami moderat saja. Kalau orang tua tidak mengizinkan, ya tak masalah. Artinya tetap PTM. Tapi diimbau agar anak-anak lekas divaksin,” terangnya.

Intinya, vaksinasi anak atau pelajar tetap membutuhkan persetujuan dari orang tua. “Yang tidak bervaksin masih bisa mengikuti PTM,” pungkas Ibnu. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/