alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Matahari Tenggelam di Muara Sungai Barito, Susur Sungai yang Naik Kelas

Sensasi menyaksikan matahari tenggelam di atas kapal pesiar seperti di Labuan Bajo dan Bali, diadopsi guide lokal di Kota Banjarmasin. Naik kelotok, wisatawan diajak menikmati suasana itu di muara Sungai Barito.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Ketika tiba di muara sungai, kelotok yang membawa 11 wisatawan itu berhenti. Diam, dibiarkan terombang-ambing dihantam ombak kecil.

Agar kelotok masih bisa dikendalikan, motoris membiarkan mesin tetap menyala.

Ketika langit sudah menyemburatkan warna kuning keemasan, wisatawan yang duduk di atas atap kelotok mulai mengarahkan gawainya ke langit. Mengabadikan sang surya yang sore itu perlahan kembali ke peraduan.

Tak sedikit pula yang berswafoto dengan latar belakang matahari tenggelam itu. Meski yang dihasilkan hanya foto siluet, tapi wisatawan tampak tersenyum puas.

Ya, bisa menyaksikan pemandangan berupa matahari yang tenggelam di alam terbuka, tanpa ada penghalang seperti atap ruko atau kabel listrik adalah momen yang istimewa.

Seperti yang diungkapkan Edo. Ia mengaku tak mengira bisa menyaksikan pemandangan sunset di atas sungai.

“Ternyata tak kalah dengan menyaksikan sunset di bibir pantai,” ungkap warga Jalan Kuripan, Banjarmasin Timur itu.

“Kalau menyaksikan pemandangan ini dari atas jembatan atau gedung, kemungkinan masih terganggu dengan bising suara kendaraan bermotor. Berbeda dengan di sini. Tenang sekali,” tambahnya.

Senada dengan Novi. Saking antusiasnya menangkap momen tersebut, ada 493 file baik foto maupun video yang dihasilkannya.

“Keasyikan…. Ini menyenangkan. Saya kira bagus untuk penyembuhan jiwa. Membebaskan diri sejenak dari rutinitas kerja. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan,” pujinya.

Pemandangan matahari tenggelam di muara Sungai Barito bisa disaksikan selama hampir setengah jam. Inilah refreshing yang coba ditawarkan seorang guide lokal, Adi Murdani.

Baca Juga :  Ngabuburit Di Jembatan Rumpiang

Ia menyulap rute susur sungai menjadi tidak biasa. Misalkan berputar-putar di Sungai Martapura dengan rute Jembatan Dewi hingga Jembatan Pasar Lama.

Adi memilih rute sendiri. Berangkat dari dermaga Siring RE Martadinata, menyusuri Sungai Martapura, melintas di bawah Jembatan Basirih hingga tiba di muara Sungai Barito.

Setiba di muara, wisatawan diajak bersantai di tengah sungai. Menyaksikan pemandangan berupa panorama matahari tenggelam.

“Saya ingin agar wisatawan susur sungai tidak hanya menyaksikan pemandangan yang itu-itu saja. Harus ada hal lain yang bisa diperlihatkan,” ujarnya, Minggu (23/1).

Yang dirasakan penulis adalah rute lama, jarak tempuhnya setengah jam. Sebenarnya ada rute baru dengan jarak lebih jauh dan lama.

Yakni dari Sungai Martapura menyusuri Sungai Kuin, lalu ke muara Sungai Barito untuk melihat sunset.

Disambung dengan Sungai Alalak, lalu berhenti dan menikmati suasana malam dengan latar Jembatan Sungai Alalak (Jembatan Basit) yang menyala sempurna.

“Rute itu khusus untuk hari Sabtu. Karena setahu saya, hanya pada Sabtu malam lampu Jembatan Basit menyala sempurna,” jelasnya

“Jangan khawatir terlewat salat maghrib. Karena kita juga singgah di masjid bersejarah di Alalak Tengah. Yakni Masjid Tuhfaturroghibin atau yang biasa dikenal dengan sebutan Masjid Nenas,” tambahnya.

Adi perlu berbulan-bulan survei untuk menemukan kedua rute ini.

Dari menentukan rute terpendek dan terjauh, menghitung waktu tempuh, hingga memperkirakan titik-titik terbaik untuk persinggahan wisatawan.

“Kalau tidak disurvei, bisa luput. Pas sampai, tahu-tahu mataharinya sudah tenggelam. Atau, malah berhenti di tempat yang pemandangannya terhalang,” jelasnya.

Baca Juga :  Wisata Bahari di Pulau Kerayaan Beccu

Adi memang piawai dalam hal memanjakan wisatawan. Contoh, ia bisa memilih musik yang pas untuk diputar di atas kelotok.

“Suasana seperti ini ada di kapal pesiar di Labuan Bajo atau Bali. Wisatawan diajak melihat pemandangan matahari tenggelam sembari menikmati alunan musik. Ini pula yang saya tawarkan di sini,” jelasnya.

“Tapi di sini, dibikin berbeda dengan mengangkat kearifan lokal. Dengan transportasi berupa kelotok, ternyata tak kalah mengasyikan,” tekannya.

Matahari sore itu hampir sepenuhnya tenggelam. Langit perlahan menggelap. Sebaliknya, senyum wisatawan semakin merekah.

Bagi Adi, tak salah bila Pemko Banjarmasin mengatakan bahwa susur sungai adalah adalah pariwisata yang sangat menjual. Ada banyak sungai-sungai yang masih bisa dieksplor.

Bukan berarti tak ada cacatan. Ia menyayangkan pemko tak tak kunjung membuat peta wisata. Kalaupun ada, masih menonjolkan tempat yang itu-itu saja.

“Masih berkutat pada wisata ikon. Seperti Menara Pandang, Masjid Sultan Suriansyah, Pasar Terapung atau Kampung Sarsirangan,” ucapnya.

“Buatlah peta susur sungai yang lebih terperinci. Jalur sungai ini namanya apa, bisa menuju ke mana saja, dan apa saja yang ada di situ,” sarannya.

“Jadi, bukan peta yang sekadar menunjukkan arah dari Sungai Martapura menuju Pulau Kembang dengan keterangan beberapa kilometer,” tekannya.

Memang takkan mudah dan membutuhkan waktu. Tapi hanya pemko punya kapasitas untuk melakukannya. Seperti menggandeng kampung wisata, perhotelan, hingga merangkul para guide.

“Saya meyakini, bila itu dilakukan, Banjarmasin akan menjadi tempat yang mengasyikan untuk dikunjungi. Bahkan dirindukan,” tutupnya. (at/fud)

Sensasi menyaksikan matahari tenggelam di atas kapal pesiar seperti di Labuan Bajo dan Bali, diadopsi guide lokal di Kota Banjarmasin. Naik kelotok, wisatawan diajak menikmati suasana itu di muara Sungai Barito.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Ketika tiba di muara sungai, kelotok yang membawa 11 wisatawan itu berhenti. Diam, dibiarkan terombang-ambing dihantam ombak kecil.

Agar kelotok masih bisa dikendalikan, motoris membiarkan mesin tetap menyala.

Ketika langit sudah menyemburatkan warna kuning keemasan, wisatawan yang duduk di atas atap kelotok mulai mengarahkan gawainya ke langit. Mengabadikan sang surya yang sore itu perlahan kembali ke peraduan.

Tak sedikit pula yang berswafoto dengan latar belakang matahari tenggelam itu. Meski yang dihasilkan hanya foto siluet, tapi wisatawan tampak tersenyum puas.

Ya, bisa menyaksikan pemandangan berupa matahari yang tenggelam di alam terbuka, tanpa ada penghalang seperti atap ruko atau kabel listrik adalah momen yang istimewa.

Seperti yang diungkapkan Edo. Ia mengaku tak mengira bisa menyaksikan pemandangan sunset di atas sungai.

“Ternyata tak kalah dengan menyaksikan sunset di bibir pantai,” ungkap warga Jalan Kuripan, Banjarmasin Timur itu.

“Kalau menyaksikan pemandangan ini dari atas jembatan atau gedung, kemungkinan masih terganggu dengan bising suara kendaraan bermotor. Berbeda dengan di sini. Tenang sekali,” tambahnya.

Senada dengan Novi. Saking antusiasnya menangkap momen tersebut, ada 493 file baik foto maupun video yang dihasilkannya.

“Keasyikan…. Ini menyenangkan. Saya kira bagus untuk penyembuhan jiwa. Membebaskan diri sejenak dari rutinitas kerja. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan,” pujinya.

Pemandangan matahari tenggelam di muara Sungai Barito bisa disaksikan selama hampir setengah jam. Inilah refreshing yang coba ditawarkan seorang guide lokal, Adi Murdani.

Baca Juga :  Ngabuburit Di Jembatan Rumpiang

Ia menyulap rute susur sungai menjadi tidak biasa. Misalkan berputar-putar di Sungai Martapura dengan rute Jembatan Dewi hingga Jembatan Pasar Lama.

Adi memilih rute sendiri. Berangkat dari dermaga Siring RE Martadinata, menyusuri Sungai Martapura, melintas di bawah Jembatan Basirih hingga tiba di muara Sungai Barito.

Setiba di muara, wisatawan diajak bersantai di tengah sungai. Menyaksikan pemandangan berupa panorama matahari tenggelam.

“Saya ingin agar wisatawan susur sungai tidak hanya menyaksikan pemandangan yang itu-itu saja. Harus ada hal lain yang bisa diperlihatkan,” ujarnya, Minggu (23/1).

Yang dirasakan penulis adalah rute lama, jarak tempuhnya setengah jam. Sebenarnya ada rute baru dengan jarak lebih jauh dan lama.

Yakni dari Sungai Martapura menyusuri Sungai Kuin, lalu ke muara Sungai Barito untuk melihat sunset.

Disambung dengan Sungai Alalak, lalu berhenti dan menikmati suasana malam dengan latar Jembatan Sungai Alalak (Jembatan Basit) yang menyala sempurna.

“Rute itu khusus untuk hari Sabtu. Karena setahu saya, hanya pada Sabtu malam lampu Jembatan Basit menyala sempurna,” jelasnya

“Jangan khawatir terlewat salat maghrib. Karena kita juga singgah di masjid bersejarah di Alalak Tengah. Yakni Masjid Tuhfaturroghibin atau yang biasa dikenal dengan sebutan Masjid Nenas,” tambahnya.

Adi perlu berbulan-bulan survei untuk menemukan kedua rute ini.

Dari menentukan rute terpendek dan terjauh, menghitung waktu tempuh, hingga memperkirakan titik-titik terbaik untuk persinggahan wisatawan.

“Kalau tidak disurvei, bisa luput. Pas sampai, tahu-tahu mataharinya sudah tenggelam. Atau, malah berhenti di tempat yang pemandangannya terhalang,” jelasnya.

Baca Juga :  Dari Pemilihan Motoris Kelotok Wisata, Minta Rompi Pelampung dan SK

Adi memang piawai dalam hal memanjakan wisatawan. Contoh, ia bisa memilih musik yang pas untuk diputar di atas kelotok.

“Suasana seperti ini ada di kapal pesiar di Labuan Bajo atau Bali. Wisatawan diajak melihat pemandangan matahari tenggelam sembari menikmati alunan musik. Ini pula yang saya tawarkan di sini,” jelasnya.

“Tapi di sini, dibikin berbeda dengan mengangkat kearifan lokal. Dengan transportasi berupa kelotok, ternyata tak kalah mengasyikan,” tekannya.

Matahari sore itu hampir sepenuhnya tenggelam. Langit perlahan menggelap. Sebaliknya, senyum wisatawan semakin merekah.

Bagi Adi, tak salah bila Pemko Banjarmasin mengatakan bahwa susur sungai adalah adalah pariwisata yang sangat menjual. Ada banyak sungai-sungai yang masih bisa dieksplor.

Bukan berarti tak ada cacatan. Ia menyayangkan pemko tak tak kunjung membuat peta wisata. Kalaupun ada, masih menonjolkan tempat yang itu-itu saja.

“Masih berkutat pada wisata ikon. Seperti Menara Pandang, Masjid Sultan Suriansyah, Pasar Terapung atau Kampung Sarsirangan,” ucapnya.

“Buatlah peta susur sungai yang lebih terperinci. Jalur sungai ini namanya apa, bisa menuju ke mana saja, dan apa saja yang ada di situ,” sarannya.

“Jadi, bukan peta yang sekadar menunjukkan arah dari Sungai Martapura menuju Pulau Kembang dengan keterangan beberapa kilometer,” tekannya.

Memang takkan mudah dan membutuhkan waktu. Tapi hanya pemko punya kapasitas untuk melakukannya. Seperti menggandeng kampung wisata, perhotelan, hingga merangkul para guide.

“Saya meyakini, bila itu dilakukan, Banjarmasin akan menjadi tempat yang mengasyikan untuk dikunjungi. Bahkan dirindukan,” tutupnya. (at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/