alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Kasus Stunting dan Obesitas Masih Tinggi di Kalsel

BANJARMASIN – Kasus stunting dan obesitas di Kalimantan Selatan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secepatnya. Karena Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, persentase stunting di Banua berada di kisaran 33,08 persen. Sedangkan angka obesitas tahun 2021 sebesar 2,95 persen.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi ( Kalsel ) Hj Raudhatul Jannah mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan pihaknya hingga bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menekan stunting dan obesitas di Banua.

“Upaya itu, diantaranya diawali dengan komitmen bersama deklarasi loksado, revitalisasi Posyandu, dan kader-kader posyandu. Serta, PKK gencar melakukan edukasi,” katanya pada puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke 62 tahun 2022, di SMPN 1 Mandastana, Marabahan, belum lama tadi.

Dia menyebut, permasalahan yang dihadapi sekarang dalam menekan angka kasus stunting dan obesitas ialah soal ketersediaan gizi.”Momentum Hari Gizi Nasional 2022 ini Pemprov Kalsel sudah menggalang dana, namun yang penting komitmen bersama semua pihak untuk membangun gizi terbaik untuk anak di Kalsel,” tegasnya.

Baca Juga :  Perhatikan Gaya Hidup Atlet

Menurutnya, permasalahan gizi memiliki dampak buruk bagi generasi di Kalsel. Sebab berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kecerdasan anak serta remaja. “Sehingga akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kalsel pada masa mendatang,” ujarnya.

Raudatul mengungkapkan, penyebab stunting dan obesitas selain karena faktor kebutuhan pangan dan ekonomi, juga dipengaruhi oleh perilaku dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Pencegahan dan penanggulangan masalah gizi, ujar dia memerlukan beberapa pendekatan dan solusi untuk mengatasinya. “Di antaranya, mengubah sikap dan perilaku yang akan menjadi budaya pro gizi dan kesehatan, intervensi kecukupan keseimbangan dalam asupan gizi juga sangat diperlukan,” bebernya.

Selain itu, menurutnya diperlukan adanya komitmen yang kuat serta konsisten melakukan aksi bersama secara nyata dalam rangka cegah stunting dan obesitas dengan melibatkan semua unsur dan elemen masyarakat, serta lintas sektor terkait.

Baca Juga :  Layanan Home Care Banjarbaru Mulai Berjalan, Rizana: Sudah 339 Kunjungan

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Muslim menerangkan, secara nasional kasus stunting dan obesitas di Kalsel masih terbilang tinggi.

Namun secara progress setiap tahunnya kasus stunting dan obesitas terjadi penurunan yang cukup signifikan, meski belum memenuhi target nasional. (ris/by/ran)

BANJARMASIN – Kasus stunting dan obesitas di Kalimantan Selatan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secepatnya. Karena Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, persentase stunting di Banua berada di kisaran 33,08 persen. Sedangkan angka obesitas tahun 2021 sebesar 2,95 persen.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi ( Kalsel ) Hj Raudhatul Jannah mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan pihaknya hingga bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menekan stunting dan obesitas di Banua.

“Upaya itu, diantaranya diawali dengan komitmen bersama deklarasi loksado, revitalisasi Posyandu, dan kader-kader posyandu. Serta, PKK gencar melakukan edukasi,” katanya pada puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke 62 tahun 2022, di SMPN 1 Mandastana, Marabahan, belum lama tadi.

Dia menyebut, permasalahan yang dihadapi sekarang dalam menekan angka kasus stunting dan obesitas ialah soal ketersediaan gizi.”Momentum Hari Gizi Nasional 2022 ini Pemprov Kalsel sudah menggalang dana, namun yang penting komitmen bersama semua pihak untuk membangun gizi terbaik untuk anak di Kalsel,” tegasnya.

Baca Juga :  Perhatikan Gaya Hidup Atlet

Menurutnya, permasalahan gizi memiliki dampak buruk bagi generasi di Kalsel. Sebab berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kecerdasan anak serta remaja. “Sehingga akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kalsel pada masa mendatang,” ujarnya.

Raudatul mengungkapkan, penyebab stunting dan obesitas selain karena faktor kebutuhan pangan dan ekonomi, juga dipengaruhi oleh perilaku dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Pencegahan dan penanggulangan masalah gizi, ujar dia memerlukan beberapa pendekatan dan solusi untuk mengatasinya. “Di antaranya, mengubah sikap dan perilaku yang akan menjadi budaya pro gizi dan kesehatan, intervensi kecukupan keseimbangan dalam asupan gizi juga sangat diperlukan,” bebernya.

Selain itu, menurutnya diperlukan adanya komitmen yang kuat serta konsisten melakukan aksi bersama secara nyata dalam rangka cegah stunting dan obesitas dengan melibatkan semua unsur dan elemen masyarakat, serta lintas sektor terkait.

Baca Juga :  Angka Stunting di Banjarbaru Masih Tinggi

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Muslim menerangkan, secara nasional kasus stunting dan obesitas di Kalsel masih terbilang tinggi.

Namun secara progress setiap tahunnya kasus stunting dan obesitas terjadi penurunan yang cukup signifikan, meski belum memenuhi target nasional. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/