alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Minyak Goreng di Ritel Lebih Murah, Pedagang Geleng-geleng Kepala

BANJARBARU – Pemerintah pusat memang memberi subsidi minyak goreng. Melalui Kementerian Perdagangan, satu liter minyak goreng kemasan dipatok Rp14.000.

Namun sayangnya, kebijakan ini masih diterapkan di level ritel-ritel modern. Sementara, pedagang kecil atau pedagang tradisional masih harus menjual migor dengan harga mahal, sebagaimana modal yang mereka keluarkan.

Kesenjangan harga ini pun membuat pedagang tradisional kehilangan daya saing dan pelanggan. Dari pantauan Radar Banjarmasin di Banjarbaru, selisih harga antara minyak goreng kemasan satu liter antara di ritel modern dan pasar hingga Rp7 sampai 10 ribu.

Bayangkan, di pasar harga perliternya masih Rp20 ribu lebih.

Salah seorang pedagang di Pasar Bauntung, Ani mengaku tak bisa memangkas harga. Sebab, ia dapat harga beli di agen sudah tinggi.

“Ujungan (laba, red) paling selisih 500-1000 rupiah dari harga agen perliternya.”

Ia sendiri mengaku keberatan dengan adanya kebijakan subsidi di ritel modern. Selain pembelinya mulai kabur, ia juga menuntut agar pemerintah bisa adil terhadap pedagang kecil atau pasar.

“Itu kan berlaku di ritel-ritel modern saja sedangkan kita yang ambil barang di agen tidak ada subsidi, harusnya subsidi juga diberlakukan di kita dan agen agar bisa jual murah juga,” gerutunya.

Baca Juga :  Habiskan Stok Lama Minyak Goreng, Harga Menyesuaikan

Sama halnya dengan Ani, Rina juga yang dibuat geleng-geleng kepala dengan kondisi ini. Kini, pedagang pasar Bauntung ini enggan menyetok lagi minyak goreng dari agen lantaran di ritel lebih murah.

“Menghabiskan barang yang ada saja susah, apalagi menyetok lagi. Kita jujur gak bisa menurunkan harga, harga modal saja sudah tinggi. Kalau ngambil di ritel modern juga gak bisa, kan dibatasi perorangnya,” katanya.

Kendati begitu, Rina mengaku tetap harus bersyukur juga. Sebab, katanya ada saja sejumlah pembeli yang datang ke tokonya dan mau tak mau membeli harga yang cukup tinggi tersebut.

“Karena di ritel cepat habis lantaran berebut, akhirnya ada juga yang beli ke pasar. Tapi cukup ribet juga menjelaskannya mengapa harganya beda, soalnya kan pembeli tahunya harga di luar cuman Rp14 ribu,” ceritanya.

Adapun secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Banjarbaru, Abdul Basid mengatakan jika subsidi ini mengikuti arahan pemerintah pusat. Yang mana diakuinya masih hanya berlaku di seputaran ritel-ritel modern.

Baca Juga :  Bukan Cuma Rasa, Harga Cabai Rawit Juga Makin "Pedas"

“Untuk tahap ini kan ritel modern dulu untuk menanggulangi melambungnya harga minyak goreng ini. Untuk pedagang atau agen kita masih menunggu instruksi pusat, ini kan bersifat nasional” katanya kemarin.

Dari pantauannya, memang ujar Basid bahwa di pasar tradisional masih berpatokan harga lawas. Ia pun tak menampik jika mendengar curhatan para pedagang yang mau tak mau harus menjual di atas harga ritel.

Untuk mengatasi ini, Basid mengklaim jika Disdag Banjarbaru akan menggelar operasi pasar dalam waktu dekat. Fokus barang yang dijual nanti katanya masih seputaran minyak goreng kemasan.

“Hari Selasa tanggal 25 Januari rencananya di depan kantor Disdag Banjarbaru. Untuk mereknya yang dijual yakni merek Alif dari lokal juga,” infonya.

Terakhir, ia memastikan bahwa ritel-ritel modern di Banjarbaru terutama yang punya jaringan atau manajemen besar tegas Basid sudah memberlakukan harga Rp14.000 perliternya sejak tanggal 19 Januari lalu.

“Karena ritel ini kan sifatnya ada manajemen, jadi mereka secara serentak menurunkan harganya. Kita juga terus informasikan ke ritel-ritel modern lainnya,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Pemerintah pusat memang memberi subsidi minyak goreng. Melalui Kementerian Perdagangan, satu liter minyak goreng kemasan dipatok Rp14.000.

Namun sayangnya, kebijakan ini masih diterapkan di level ritel-ritel modern. Sementara, pedagang kecil atau pedagang tradisional masih harus menjual migor dengan harga mahal, sebagaimana modal yang mereka keluarkan.

Kesenjangan harga ini pun membuat pedagang tradisional kehilangan daya saing dan pelanggan. Dari pantauan Radar Banjarmasin di Banjarbaru, selisih harga antara minyak goreng kemasan satu liter antara di ritel modern dan pasar hingga Rp7 sampai 10 ribu.

Bayangkan, di pasar harga perliternya masih Rp20 ribu lebih.

Salah seorang pedagang di Pasar Bauntung, Ani mengaku tak bisa memangkas harga. Sebab, ia dapat harga beli di agen sudah tinggi.

“Ujungan (laba, red) paling selisih 500-1000 rupiah dari harga agen perliternya.”

Ia sendiri mengaku keberatan dengan adanya kebijakan subsidi di ritel modern. Selain pembelinya mulai kabur, ia juga menuntut agar pemerintah bisa adil terhadap pedagang kecil atau pasar.

“Itu kan berlaku di ritel-ritel modern saja sedangkan kita yang ambil barang di agen tidak ada subsidi, harusnya subsidi juga diberlakukan di kita dan agen agar bisa jual murah juga,” gerutunya.

Baca Juga :  Emak-Emak Mulai Menjerit, Minyak Goreng Sampai Cabe Rawit Meroket

Sama halnya dengan Ani, Rina juga yang dibuat geleng-geleng kepala dengan kondisi ini. Kini, pedagang pasar Bauntung ini enggan menyetok lagi minyak goreng dari agen lantaran di ritel lebih murah.

“Menghabiskan barang yang ada saja susah, apalagi menyetok lagi. Kita jujur gak bisa menurunkan harga, harga modal saja sudah tinggi. Kalau ngambil di ritel modern juga gak bisa, kan dibatasi perorangnya,” katanya.

Kendati begitu, Rina mengaku tetap harus bersyukur juga. Sebab, katanya ada saja sejumlah pembeli yang datang ke tokonya dan mau tak mau membeli harga yang cukup tinggi tersebut.

“Karena di ritel cepat habis lantaran berebut, akhirnya ada juga yang beli ke pasar. Tapi cukup ribet juga menjelaskannya mengapa harganya beda, soalnya kan pembeli tahunya harga di luar cuman Rp14 ribu,” ceritanya.

Adapun secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Banjarbaru, Abdul Basid mengatakan jika subsidi ini mengikuti arahan pemerintah pusat. Yang mana diakuinya masih hanya berlaku di seputaran ritel-ritel modern.

Baca Juga :  Habiskan Stok Lama Minyak Goreng, Harga Menyesuaikan

“Untuk tahap ini kan ritel modern dulu untuk menanggulangi melambungnya harga minyak goreng ini. Untuk pedagang atau agen kita masih menunggu instruksi pusat, ini kan bersifat nasional” katanya kemarin.

Dari pantauannya, memang ujar Basid bahwa di pasar tradisional masih berpatokan harga lawas. Ia pun tak menampik jika mendengar curhatan para pedagang yang mau tak mau harus menjual di atas harga ritel.

Untuk mengatasi ini, Basid mengklaim jika Disdag Banjarbaru akan menggelar operasi pasar dalam waktu dekat. Fokus barang yang dijual nanti katanya masih seputaran minyak goreng kemasan.

“Hari Selasa tanggal 25 Januari rencananya di depan kantor Disdag Banjarbaru. Untuk mereknya yang dijual yakni merek Alif dari lokal juga,” infonya.

Terakhir, ia memastikan bahwa ritel-ritel modern di Banjarbaru terutama yang punya jaringan atau manajemen besar tegas Basid sudah memberlakukan harga Rp14.000 perliternya sejak tanggal 19 Januari lalu.

“Karena ritel ini kan sifatnya ada manajemen, jadi mereka secara serentak menurunkan harganya. Kita juga terus informasikan ke ritel-ritel modern lainnya,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/