alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Sodomi Anak di Bawah Umur: Divonis 9 Bulan dari Tuntutan 8 Tahun

BANJARMASIN – M divonis sembilan bulan penjara di Pengadilan Negeri Banjarmasin, kemarin (20/1).

Pemuda 19 tahun itu terdakwa kasus sodomi. Di mana korbannya seorang anak berkebutuhan khusus.

Menjadi menarik karena keputusan hakim tunggal Febrian Ali sangat jauh dari tuntutan jaksa, yakni delapan tahun penjara.

Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Kalsel, Masrita mengaku harus melapor dulu ke atasannya sebelum menempuh banding. “Kami pikir-pikir dulu,” ujarnya.

Kuasa hukum korban, Syamsul Bahri pun mengaku sangat kecewa dengan keputusan hakim.

“Pertimbangan hakim, ada kelemahan dalam fakta-fakta yang diungkap. Karena saksi ahli tak menjelaskan asal sperma,” ujarnya.

“Kalau soal ludah dan membuka celana, memang diakui terdakwa,” tambah advokat dari Pusat Bantuan Hukum Peradi Martapura dan Banjarbaru tersebut.

Baca Juga :  3 Tahun Dicabuli Ayah Kandung

Rekan Syamsul, Hastati menambahkan, korban adalah anak berkebutuhan khusus yang tak memiliki kemampuan mengungkap fakta tersebut.

“Selain itu, ada kendala teknis. Dokter yang memeriksa korban dan dokter yang dihadirkan di persidangan adalah orang yang berbeda. Akhirnya keinginan JPU tak terpenuhi,” lanjutnya.

Kasus ini terjadi di Kabupaten Tanah Laut, Mei 2019 silam. Dilaporkan ke Polda Kalsel, sempat tersendat selama dua tahun.

Korban kala itu masih berumur sembilan tahun. Seorang penyandang disabilitas, anak autis. Antara korban dan M memang saling mengenal. (lan/at/fud)

BANJARMASIN – M divonis sembilan bulan penjara di Pengadilan Negeri Banjarmasin, kemarin (20/1).

Pemuda 19 tahun itu terdakwa kasus sodomi. Di mana korbannya seorang anak berkebutuhan khusus.

Menjadi menarik karena keputusan hakim tunggal Febrian Ali sangat jauh dari tuntutan jaksa, yakni delapan tahun penjara.

Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Kalsel, Masrita mengaku harus melapor dulu ke atasannya sebelum menempuh banding. “Kami pikir-pikir dulu,” ujarnya.

Kuasa hukum korban, Syamsul Bahri pun mengaku sangat kecewa dengan keputusan hakim.

“Pertimbangan hakim, ada kelemahan dalam fakta-fakta yang diungkap. Karena saksi ahli tak menjelaskan asal sperma,” ujarnya.

“Kalau soal ludah dan membuka celana, memang diakui terdakwa,” tambah advokat dari Pusat Bantuan Hukum Peradi Martapura dan Banjarbaru tersebut.

Baca Juga :  Terkuak di Pengadilan, Oknum ASN Dokter ini Diberhentikan Sementara

Rekan Syamsul, Hastati menambahkan, korban adalah anak berkebutuhan khusus yang tak memiliki kemampuan mengungkap fakta tersebut.

“Selain itu, ada kendala teknis. Dokter yang memeriksa korban dan dokter yang dihadirkan di persidangan adalah orang yang berbeda. Akhirnya keinginan JPU tak terpenuhi,” lanjutnya.

Kasus ini terjadi di Kabupaten Tanah Laut, Mei 2019 silam. Dilaporkan ke Polda Kalsel, sempat tersendat selama dua tahun.

Korban kala itu masih berumur sembilan tahun. Seorang penyandang disabilitas, anak autis. Antara korban dan M memang saling mengenal. (lan/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/