alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Permintaan Ekspor Kalsel ke Sejumlah Negara Turun

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis nilai ekspor dan impor selama Desember 2021. Dalam rilis itu diketahui, nilai ekspor turun sekitar 25,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan impor naik, 57,07 persen.

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai ekspor Kalsel pada Desember 2021 tercatat USD870,99 juta. Sementara nilai impor tembus USD 105,88 juta.

Terkait ekspor, Kepala BPS Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, penurunan ekspor pada Desember 2021 dibandingkan bulan sebelumnya terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktor utama ujar dia, adanya penurunan nilai ekspor komoditas bahan bakar mineral sebesar 29,88 persen. “Penurunan ini berpengaruh secara signifikan, karena nilainya yang cukup besar,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, kelompok bahan bakar mineral memberikan kontribusi terbesar yaitu 80,84 persen. Diikuti kelompok lemak dan minyak hewan/nabati dan kelompok kayu, barang dari kayu dengan kontribusi masing-masing sebesar 10,93 persen dan 5,56 persen.

Berikutnya di urutan keempat dan kelima terdapat kelompok karet dan barang dari karet, serta kelompok berbagai produk kimia dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,41 persen dan 0,44 persen.

Terkait nilai ekspornya, dia mengungkapkan, kelompok bahan bakar mineral pada Desember 2021 menyumbangkan USD704,14 juta. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 29,88 persen dibanding November 2021 yang sebesar USD1,00 miliar.

“Pada urutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang menyumbang ekspor sebesar USD95,23 juta. Naik sebesar 29,83 persen dibandingkan November 2021 yang sebesar USD73,35 juta,” ungkapnya.

Sedangkan pada urutan ketiga adalah kelompok kayu dan barang dari kayu, dengan nilai ekspor USD48,44 juta yang naik 14,06 persen dibandingkan bulan November 2021 yang sebesar USD42,46 juta.

Baca Juga :  Ekspor-Impor Kalsel Melonjak di Bulan ini

Untuk kelompok barang terbesar keempat dan kelima adalah kelompok karet dan barang dari karet sebesar USD12,32 juta yang turun 22,06 persen dan kelompok berbagai produk kimia dengan nilai USD3,83 juta, turun 23,62 persen dibandingkan November 2021.

Menurut pangsa pasar, Yos menyebut terjadi penurunan permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor terbesar dari Kalimantan Selatan pada Desember 2021 ini jika dibandingkan November 2021.

Negara Tiongkok misalnya, dia menyampaikan, nilai ekspor ke sana pada Desember 2021 cuma USD434,81 juta. Turun sebesar 26,54 persen dibanding ekspor November 2021 yang mencapai USD591,90 juta.

Kemudian ekspor ke India, hanya sebesar USD78,49 juta. Nilai ini turun 3,95 persen dibanding bulan sebelumnya. “Ekspor ke Jepang sebesar US60,18 juta juga turun sebesar 13,89 persen dibandingkan nilai ekspor ke negara ini bulan November 2021,” papar Yos.

Selanjutnya, ekspor ke Malaysia nilainya pada Desember 2021 USD44,78 juta mengalami penurunan sebesar 43,87 persen dan Filipina dengan nilai US$44,24 juta yang juga mengalami penurunan sebesar 46,29 persen.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Yos menuturkan, menurut penggunaan barang ekonomi, selama Desember 2021 impor golongan barang konsumsi Kalimantan Selatan mencapai USD9,52 juta. “Nilai ini naik sebesar 51,49 persen dibandingkan November 2021,” tuturnya.

Begitu pula impor golongan bahan baku/penolong, mengalami kenaikan sebesar 52,86 persen. Dari USD60,52 juta pada November 2021 menjadi USD92,51 juta di Desember 2021. “Sedangkan golongan barang modal mengalami kenaika, dari USD0,61 juta menjadi USD3,85 juta,” beber Yos.

Baca Juga :  Larangan Dicabut, Perusahaan Langsung Kirim Batu Bara ke Luar Negeri

Mengenai impor menurut negara asal, Yos merincikan, tertinggi berasal dari Korea Selatan yang mencapai USD43, 93 juta. Diikuti Malaysia, USD30, 79 juta dan Singapura, USD17,11 juta. “Korea Selatan jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 41,49 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada Desember 2021 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD765,11 juta. “Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan neraca perdagangan pada November 2021 yang surplus USD1,09 miliar,” paparnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel Birhasani membenarkan nilai ekspor Kalsel pada Desember 2021 mengalami penurunan dibandingkan November 2021. “Penurunan terjadi pada komoditi karet alam, produk rotan, batubara dan produk lainnya,” katanya.

Penyebab turunnya ekspor ujar dia, hanya lebih kepada mekanisme pasar. Yakni suplai dan demand. “Tepatnya permintaan pasar internasional yang turun, bisa akibat masih banyaknya stok pada mitra negara tujuan, bisa juga turunnya permintaan konsumen pada negara tujuan,” ujarnya.

Namun khusus untuk batubara, menurutnya bisa disebabkan karena turunnya Harga Batubara Acuan (HBA) pada Desember 2021.

“Sehingga bisa saja menjadi pertimbangan bagi eksportir batubara kita untuk mengurangi ekspornya sambil menunggu harga yang lebih baik dan lebih menguntungkan,” pungkasnya. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis nilai ekspor dan impor selama Desember 2021. Dalam rilis itu diketahui, nilai ekspor turun sekitar 25,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan impor naik, 57,07 persen.

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai ekspor Kalsel pada Desember 2021 tercatat USD870,99 juta. Sementara nilai impor tembus USD 105,88 juta.

Terkait ekspor, Kepala BPS Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, penurunan ekspor pada Desember 2021 dibandingkan bulan sebelumnya terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktor utama ujar dia, adanya penurunan nilai ekspor komoditas bahan bakar mineral sebesar 29,88 persen. “Penurunan ini berpengaruh secara signifikan, karena nilainya yang cukup besar,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, kelompok bahan bakar mineral memberikan kontribusi terbesar yaitu 80,84 persen. Diikuti kelompok lemak dan minyak hewan/nabati dan kelompok kayu, barang dari kayu dengan kontribusi masing-masing sebesar 10,93 persen dan 5,56 persen.

Berikutnya di urutan keempat dan kelima terdapat kelompok karet dan barang dari karet, serta kelompok berbagai produk kimia dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,41 persen dan 0,44 persen.

Terkait nilai ekspornya, dia mengungkapkan, kelompok bahan bakar mineral pada Desember 2021 menyumbangkan USD704,14 juta. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 29,88 persen dibanding November 2021 yang sebesar USD1,00 miliar.

“Pada urutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang menyumbang ekspor sebesar USD95,23 juta. Naik sebesar 29,83 persen dibandingkan November 2021 yang sebesar USD73,35 juta,” ungkapnya.

Sedangkan pada urutan ketiga adalah kelompok kayu dan barang dari kayu, dengan nilai ekspor USD48,44 juta yang naik 14,06 persen dibandingkan bulan November 2021 yang sebesar USD42,46 juta.

Baca Juga :  Larangan Dicabut, Perusahaan Langsung Kirim Batu Bara ke Luar Negeri

Untuk kelompok barang terbesar keempat dan kelima adalah kelompok karet dan barang dari karet sebesar USD12,32 juta yang turun 22,06 persen dan kelompok berbagai produk kimia dengan nilai USD3,83 juta, turun 23,62 persen dibandingkan November 2021.

Menurut pangsa pasar, Yos menyebut terjadi penurunan permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor terbesar dari Kalimantan Selatan pada Desember 2021 ini jika dibandingkan November 2021.

Negara Tiongkok misalnya, dia menyampaikan, nilai ekspor ke sana pada Desember 2021 cuma USD434,81 juta. Turun sebesar 26,54 persen dibanding ekspor November 2021 yang mencapai USD591,90 juta.

Kemudian ekspor ke India, hanya sebesar USD78,49 juta. Nilai ini turun 3,95 persen dibanding bulan sebelumnya. “Ekspor ke Jepang sebesar US60,18 juta juga turun sebesar 13,89 persen dibandingkan nilai ekspor ke negara ini bulan November 2021,” papar Yos.

Selanjutnya, ekspor ke Malaysia nilainya pada Desember 2021 USD44,78 juta mengalami penurunan sebesar 43,87 persen dan Filipina dengan nilai US$44,24 juta yang juga mengalami penurunan sebesar 46,29 persen.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Yos menuturkan, menurut penggunaan barang ekonomi, selama Desember 2021 impor golongan barang konsumsi Kalimantan Selatan mencapai USD9,52 juta. “Nilai ini naik sebesar 51,49 persen dibandingkan November 2021,” tuturnya.

Begitu pula impor golongan bahan baku/penolong, mengalami kenaikan sebesar 52,86 persen. Dari USD60,52 juta pada November 2021 menjadi USD92,51 juta di Desember 2021. “Sedangkan golongan barang modal mengalami kenaika, dari USD0,61 juta menjadi USD3,85 juta,” beber Yos.

Baca Juga :  Ekspor Dibuka, Tapi Batu Bara Kalsel Belum Bisa Dikapalkan

Mengenai impor menurut negara asal, Yos merincikan, tertinggi berasal dari Korea Selatan yang mencapai USD43, 93 juta. Diikuti Malaysia, USD30, 79 juta dan Singapura, USD17,11 juta. “Korea Selatan jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 41,49 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada Desember 2021 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD765,11 juta. “Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan neraca perdagangan pada November 2021 yang surplus USD1,09 miliar,” paparnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel Birhasani membenarkan nilai ekspor Kalsel pada Desember 2021 mengalami penurunan dibandingkan November 2021. “Penurunan terjadi pada komoditi karet alam, produk rotan, batubara dan produk lainnya,” katanya.

Penyebab turunnya ekspor ujar dia, hanya lebih kepada mekanisme pasar. Yakni suplai dan demand. “Tepatnya permintaan pasar internasional yang turun, bisa akibat masih banyaknya stok pada mitra negara tujuan, bisa juga turunnya permintaan konsumen pada negara tujuan,” ujarnya.

Namun khusus untuk batubara, menurutnya bisa disebabkan karena turunnya Harga Batubara Acuan (HBA) pada Desember 2021.

“Sehingga bisa saja menjadi pertimbangan bagi eksportir batubara kita untuk mengurangi ekspornya sambil menunggu harga yang lebih baik dan lebih menguntungkan,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/