alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Molor, Warga Keluhkan Debu Jalanan

BANJARMASIN – Di bawah terik matahari, belasan pekerja tengah menyelesaiakan pelebaran Jalan Handil Bakti, Barito Kuala. Sedianya, pekerjaan ini sudah harus tuntas akhir tahun tadi. Lantaran terlambat, kontraktor pun harus bekerja di masa denda.

Nilai kontrak pekerjaan pelebaran jalan ini sendiri nilainya mencapai Rp49 miliar. Didanai dengan APBN melalui Balai Jalan Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin pada 2020 tadi. “Debunya membuat kami terganggu,” keluh Hadi warga sekitar, kemarin.

Dia menyayangkan pekerjaan yang seharusnya bisa tuntas cepat, tetapi tak bisa selesai cepat. Padahal lingkup pekerjaannya berbeda dengan pekerjaan Jalan Liang Anggang-Bati-Bati yang kondisi jalannya dilintasi kendaraan berat.

Di jalan ini fokus pekerjaan hanya di sisi karena cuma proyek pelebaran. Sangat aneh jika masih terjadi keterlambatan. “Tak mengerti juga saya, tapi kalau begini warga yang dibuat tak nyaman,” ucapnya.

Hadi adalah warga Komplek Persada Raya 3 yang di depannya terkena pelebaran jalan. Dikatakannya, saat hujan turun kondisi jalan sedikit berlumpur. Sebaliknya, jika cuaca panas berdebu. “Apalagi kalau malam, takutnya terjadi kecelakaan,” imbuhnya.

Keluhan serupa disampaikan Dani, pedagang yang berada di sisi jalan ini, sudah lama dia harus berpasrah karena debu pekerjaan memenuhi kiosnya. “Dalam sehari tak terhitung berapa kali membersihkan kaca dan dinding,” tuturnya.

Dia berharap, pekerjaan pelebaran jalan ini segera selesai. Pasalnya, pengunjung pun tak seramai dulu. “Kalau lambat seperti ini, siapa yang mau menanggung sepinya pelanggan saya,” tukasnya.

Baca Juga :  Kualitas Jalan di Kalsel Memprihatinkan

Dari pantauan koran ini, selain belum tuntasnya pengaspalan, beberapa utilitis seperti tiang listrik juga ada yang belum dilepas. Itu artinya, pekerjaan ini tak mungkin selesai dalam waktu cepat.

Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin, Syauqi Kamal mengatakan, pekerjaan pelebaran jalan sudah masuh progres 95 persen. Tersisa pengaspalan di beberapa titik.

Dia menjelaskan, belum tuntasnya pekerjaan lantaran sempat terkendala dengan cuaca. Seringnya turun hujan membuat area pelebaran tergenang air yang mengakibatkan tak bisanya dilakukan pengerasan dan pengaspalan.

Selaiin itu, kontraktor juga memang lamban bekerja. “Faktor alam, cuaca yang sering turun hujan menghambat pekerjaan. Tapi seharusnya bisa antisipasi oleh kontraktor,” ujarnya.

Dengan keterlambatan pekerjaan ini, dia mengungkapkan, dendan per hari yang harus ditanggung kontraktor sebesar Rp49 juta. Pasalnya nilai kontraknya sebesar Rp49 miliar. “Akan dipotong dari nilai kontrak mereka, setelah selesai pengerjaan, jadi kalau misalnya nilai kontrak Rp49 miliar, dipotong nilai denda misalnya Rp637 juta karena keterlambatan hingga 13 hari,” jelas Syauqi.

Selain pekerjaan pelebaran jalan ini, pekerjaan lain yang juga harus ditanggung kontraktor dengan biaya denda adalah pekerjaan Jalan Liang Anggang-Bati-Bati. Seperti diketahui, ruas jalan ini dikerjarakan dua paket. Paket pertama atau seksi I dengan anggaran Rp41,7 miliar adalah pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Liang Anggang sampai Batas Kota Pelaihari dengan panjang mencapai 3,52 Km.

Baca Juga :  Jalan Tergenang, Lubang Tak Terlihat

Kontraktornya adalah PT Anugerah Karya Agra Sentosa yang beralamat di Jalan Besar Ijen Malang, Jawa Timur. Jika mengacu aturan, mereka denda 1/1000. Itu artinya kontraktor harus membayar Rp41,7 juta per hari.

Sementara, paket kedua yakni seksi II dengan anggaran Rp32,9 miliar, adalah pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Liang Anggang sampai Batas Kota Pelaihari dan Batas Pelaihari sampai pertigaan Bati-Bati hingga Jalan Benua Raya, Bati-Bati. Panjang jalan yang ditangani mencapai 2,7 Km.

Di ruas jalan ini kontraktornya adalah PT Nugroho Lestari yang beralamat di Jalan Ciliwung Malang, Jawa Timur. Nilai denda yang harus mereka bayar mengacu aturan adalah sebesar Rp32,9 juta per hari. “Ini konsekuensinya. Mereka harus bayar denda karena bekerja tak sesuai waktu kontrak,” tekannya.

Lalu bagaimana dengan Jembatan Paringin, Kabupaten Balangan? Syauqi menuturkan, kontrak kerjanya sampai Februari mendatang. Disampaikannya, kontrak awal adalah 7 bulan sejak September 2021 lalu.

Karena belum melebihi batas waktu penyelesaian, maka pekerjaan ini tak dikenakan denda seperti paket pekerjaan di atas. “Pekerjaan jembatan itu batas waktunya sampai akhir Februari, bukan terlambat, karena hanya lewat tahun saja,” terangnya. (mof/by/ran)

BANJARMASIN – Di bawah terik matahari, belasan pekerja tengah menyelesaiakan pelebaran Jalan Handil Bakti, Barito Kuala. Sedianya, pekerjaan ini sudah harus tuntas akhir tahun tadi. Lantaran terlambat, kontraktor pun harus bekerja di masa denda.

Nilai kontrak pekerjaan pelebaran jalan ini sendiri nilainya mencapai Rp49 miliar. Didanai dengan APBN melalui Balai Jalan Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin pada 2020 tadi. “Debunya membuat kami terganggu,” keluh Hadi warga sekitar, kemarin.

Dia menyayangkan pekerjaan yang seharusnya bisa tuntas cepat, tetapi tak bisa selesai cepat. Padahal lingkup pekerjaannya berbeda dengan pekerjaan Jalan Liang Anggang-Bati-Bati yang kondisi jalannya dilintasi kendaraan berat.

Di jalan ini fokus pekerjaan hanya di sisi karena cuma proyek pelebaran. Sangat aneh jika masih terjadi keterlambatan. “Tak mengerti juga saya, tapi kalau begini warga yang dibuat tak nyaman,” ucapnya.

Hadi adalah warga Komplek Persada Raya 3 yang di depannya terkena pelebaran jalan. Dikatakannya, saat hujan turun kondisi jalan sedikit berlumpur. Sebaliknya, jika cuaca panas berdebu. “Apalagi kalau malam, takutnya terjadi kecelakaan,” imbuhnya.

Keluhan serupa disampaikan Dani, pedagang yang berada di sisi jalan ini, sudah lama dia harus berpasrah karena debu pekerjaan memenuhi kiosnya. “Dalam sehari tak terhitung berapa kali membersihkan kaca dan dinding,” tuturnya.

Dia berharap, pekerjaan pelebaran jalan ini segera selesai. Pasalnya, pengunjung pun tak seramai dulu. “Kalau lambat seperti ini, siapa yang mau menanggung sepinya pelanggan saya,” tukasnya.

Baca Juga :  BPJN: Jalan Nasional di Tapin Akan Diperbaiki Tahun ini

Dari pantauan koran ini, selain belum tuntasnya pengaspalan, beberapa utilitis seperti tiang listrik juga ada yang belum dilepas. Itu artinya, pekerjaan ini tak mungkin selesai dalam waktu cepat.

Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin, Syauqi Kamal mengatakan, pekerjaan pelebaran jalan sudah masuh progres 95 persen. Tersisa pengaspalan di beberapa titik.

Dia menjelaskan, belum tuntasnya pekerjaan lantaran sempat terkendala dengan cuaca. Seringnya turun hujan membuat area pelebaran tergenang air yang mengakibatkan tak bisanya dilakukan pengerasan dan pengaspalan.

Selaiin itu, kontraktor juga memang lamban bekerja. “Faktor alam, cuaca yang sering turun hujan menghambat pekerjaan. Tapi seharusnya bisa antisipasi oleh kontraktor,” ujarnya.

Dengan keterlambatan pekerjaan ini, dia mengungkapkan, dendan per hari yang harus ditanggung kontraktor sebesar Rp49 juta. Pasalnya nilai kontraknya sebesar Rp49 miliar. “Akan dipotong dari nilai kontrak mereka, setelah selesai pengerjaan, jadi kalau misalnya nilai kontrak Rp49 miliar, dipotong nilai denda misalnya Rp637 juta karena keterlambatan hingga 13 hari,” jelas Syauqi.

Selain pekerjaan pelebaran jalan ini, pekerjaan lain yang juga harus ditanggung kontraktor dengan biaya denda adalah pekerjaan Jalan Liang Anggang-Bati-Bati. Seperti diketahui, ruas jalan ini dikerjarakan dua paket. Paket pertama atau seksi I dengan anggaran Rp41,7 miliar adalah pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Liang Anggang sampai Batas Kota Pelaihari dengan panjang mencapai 3,52 Km.

Baca Juga :  Warga Rogoh Kantong Sendiri, Bosan Menanti Perbaikan Simpang Pengambangan

Kontraktornya adalah PT Anugerah Karya Agra Sentosa yang beralamat di Jalan Besar Ijen Malang, Jawa Timur. Jika mengacu aturan, mereka denda 1/1000. Itu artinya kontraktor harus membayar Rp41,7 juta per hari.

Sementara, paket kedua yakni seksi II dengan anggaran Rp32,9 miliar, adalah pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Liang Anggang sampai Batas Kota Pelaihari dan Batas Pelaihari sampai pertigaan Bati-Bati hingga Jalan Benua Raya, Bati-Bati. Panjang jalan yang ditangani mencapai 2,7 Km.

Di ruas jalan ini kontraktornya adalah PT Nugroho Lestari yang beralamat di Jalan Ciliwung Malang, Jawa Timur. Nilai denda yang harus mereka bayar mengacu aturan adalah sebesar Rp32,9 juta per hari. “Ini konsekuensinya. Mereka harus bayar denda karena bekerja tak sesuai waktu kontrak,” tekannya.

Lalu bagaimana dengan Jembatan Paringin, Kabupaten Balangan? Syauqi menuturkan, kontrak kerjanya sampai Februari mendatang. Disampaikannya, kontrak awal adalah 7 bulan sejak September 2021 lalu.

Karena belum melebihi batas waktu penyelesaian, maka pekerjaan ini tak dikenakan denda seperti paket pekerjaan di atas. “Pekerjaan jembatan itu batas waktunya sampai akhir Februari, bukan terlambat, karena hanya lewat tahun saja,” terangnya. (mof/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/