alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Asal Mula Desa Tajau Pecah

Pada awal mulanya Desa Tajau Pecah hanya hutan belukar biasa di Tanah Laut. Di lokasi tersebut ada perkebunan sahang (lada) yang mulai ditanam sekitar tahun 1939.

Adanya perkebunan lada itu, membuat penduduk yang berasa dari Banua Lima, yakni Barabai, Amuntai, Kandangan, Tabalong dan Rantau bermukim di daerah tersebut. Permukiman yang terbentuk itu belum dinamakan desa Tajau Pecah. Baru pada tahun 1953 desa itu diberi nama Desa Tajau Pecah.

Menurut Kepala Desa Tajau Pecah Badri, Tajau Pecah itu berasal dari penduduk yang membawa tempat menyerupai tajau–tempat yang digunakan untuk menampung air –yang diambil dari sumur ketika berangkat bercocok tanamam sahang, kelapa, padi dan sebagainya.

“Saat melewati jalan didesa, tempat penampungan air yang berbentuk tajau itu terjatuh ke tanah dan pecah, dari hal itulah nama Desa Tajau Pecah berasal,” terangnya.

Baca Juga :  Sebenarnya, Banjarbaru Hanya Nama Proyek Sementara

Dirinya menceritakan Desa Tajau Pecah pertama kali dipimpin oleh Kai Tabrani sebagai Kepala Desa.”Kemudian Kai Kuluk, Kai Acut, Udin, Pak Artum,” sebutnya.

Dan sekitar tahun 1977-1978 Kepala Desa dipimpin oleh Samlan, kemudian Supiharianto, Tamrin, Badri, Salam.”Dan pada satu Desember kemarin, saya memenangi pilkades dan dipercaya untuk menjadi kepala desa Tajau Pecah untuk periode kedua,” terang Badri.

Lebih lanjut dia mengatakan penduduk Desa Tajau Pecah ada yang berasal dari Jawa, Madura dan Bali. Sebagian besar penduduknya adalah Suku Banjar. Tajau Pacah menjadi salah satu desa multi etnis di Tanah Laut. “Mayoritasnya adalah Islam dan minoritas ada Hindu dan Kristen,” ucapnya.

Selain memiliki berbagai macam agama, Desa Tajau Pecah juga memiliki beragam suku dan kesenian, seperti kesenian kuda lumping, kesenian khas banjar habsyi, musik panting dan tarian bali.

Baca Juga :  Sejarah Menarik Nama Teluk Miliar

Adapun penghasilan penduduk Tajau Pecah mayoritas adalah bercocok tanam, yaitu menanam sawit, karet, padi dan hanya sekitar lima persen yang bekerja sebagai pedagang.

“Di Tajau Pecah juga berdiri beberapa perusahaan, seperti perusahaan sawit Candi Arta dan perusahaan karet PT Dalem Sakti serta berdiri dua Indomaret dan Alfamart dan satu SPBU,” sebutnya.

Sekarang ini Desa Tajau Pecah tidak lagi berada dibawah Pemerintahan Kecamatan Jorong, akan tetapi berada dibawah Pemerintahan Kecamatan Batu Ampar. Luas Desa Tajau Pecah saat ini adalah 5003 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 3133, terbagi menjadi 16 RT dan empat dusun pada tahun 2021.

Pada masa kepemimpinan Kepala Desa Badri pada periode pertama, ada tugu berbentuk Tajau yang terpajang di perbatasan desa dan berdiri kokoh hingga saat ini. (sal/by/ran).

Pada awal mulanya Desa Tajau Pecah hanya hutan belukar biasa di Tanah Laut. Di lokasi tersebut ada perkebunan sahang (lada) yang mulai ditanam sekitar tahun 1939.

Adanya perkebunan lada itu, membuat penduduk yang berasa dari Banua Lima, yakni Barabai, Amuntai, Kandangan, Tabalong dan Rantau bermukim di daerah tersebut. Permukiman yang terbentuk itu belum dinamakan desa Tajau Pecah. Baru pada tahun 1953 desa itu diberi nama Desa Tajau Pecah.

Menurut Kepala Desa Tajau Pecah Badri, Tajau Pecah itu berasal dari penduduk yang membawa tempat menyerupai tajau–tempat yang digunakan untuk menampung air –yang diambil dari sumur ketika berangkat bercocok tanamam sahang, kelapa, padi dan sebagainya.

“Saat melewati jalan didesa, tempat penampungan air yang berbentuk tajau itu terjatuh ke tanah dan pecah, dari hal itulah nama Desa Tajau Pecah berasal,” terangnya.

Baca Juga :  Masjid Keramat Al Mukarramah, Sudah Direhab tapi Miring Lagi

Dirinya menceritakan Desa Tajau Pecah pertama kali dipimpin oleh Kai Tabrani sebagai Kepala Desa.”Kemudian Kai Kuluk, Kai Acut, Udin, Pak Artum,” sebutnya.

Dan sekitar tahun 1977-1978 Kepala Desa dipimpin oleh Samlan, kemudian Supiharianto, Tamrin, Badri, Salam.”Dan pada satu Desember kemarin, saya memenangi pilkades dan dipercaya untuk menjadi kepala desa Tajau Pecah untuk periode kedua,” terang Badri.

Lebih lanjut dia mengatakan penduduk Desa Tajau Pecah ada yang berasal dari Jawa, Madura dan Bali. Sebagian besar penduduknya adalah Suku Banjar. Tajau Pacah menjadi salah satu desa multi etnis di Tanah Laut. “Mayoritasnya adalah Islam dan minoritas ada Hindu dan Kristen,” ucapnya.

Selain memiliki berbagai macam agama, Desa Tajau Pecah juga memiliki beragam suku dan kesenian, seperti kesenian kuda lumping, kesenian khas banjar habsyi, musik panting dan tarian bali.

Baca Juga :  Kesaktian Masukkiri Bugis Pagatan

Adapun penghasilan penduduk Tajau Pecah mayoritas adalah bercocok tanam, yaitu menanam sawit, karet, padi dan hanya sekitar lima persen yang bekerja sebagai pedagang.

“Di Tajau Pecah juga berdiri beberapa perusahaan, seperti perusahaan sawit Candi Arta dan perusahaan karet PT Dalem Sakti serta berdiri dua Indomaret dan Alfamart dan satu SPBU,” sebutnya.

Sekarang ini Desa Tajau Pecah tidak lagi berada dibawah Pemerintahan Kecamatan Jorong, akan tetapi berada dibawah Pemerintahan Kecamatan Batu Ampar. Luas Desa Tajau Pecah saat ini adalah 5003 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 3133, terbagi menjadi 16 RT dan empat dusun pada tahun 2021.

Pada masa kepemimpinan Kepala Desa Badri pada periode pertama, ada tugu berbentuk Tajau yang terpajang di perbatasan desa dan berdiri kokoh hingga saat ini. (sal/by/ran).

Most Read

Artikel Terbaru

Penyebar Islam Pertama di Balangan

Kyai Hasbullah dari Sungai Pandan

Kisah Gusti Datu Aminin

/