alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Buat Inovasi untuk Turunkan Angka Stunting

Menjadi istri Wakapolres Banjarbaru, Kompol Boma Wedhayanto: Bintari Dwi Rahayu di tengah kesibukannya ingin turut membantu perkembangan Kota Banjarbaru. Salah satunya, berperan menurunkan angka stunting di kota ini.

—-
Masyarakat Banua mungkin belum banyak yang mengenal Bintari Dwi Rahayu, karena wanita berusia 32 tahun ini lebih banyak beraktivitas di Polres Banjarbaru sebagai Wakil Ketua Bhayangkari Cabang Banjarbaru.

Selain itu, ibu tiga anak ini juga bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Serta kuliah S2 Kebidanan di STIKES Dharma Husada Bandung dan S2 Kesehatan Masyarakat di STIKES Indonesia Maju Jakarta.

Meski banyak kegiatan, Bintari mengaku pekerjaan utama tetap seorang istri dan ibu yang mengurus suami dan anak-anaknya. “Alhamdulillah sekarang anak-anak kami sudah besar, jadi saya mulai menambah ilmu dan bekerja,” katanya.

Dia mengaku telat masuk kuliah, dibandingkan teman-temannya. Sebab, sebelumnya dirinya masih fokus mengurus anak-anak yang masih kecil. “Tapi lebih baik telat, daripada tidak sama sekali. Karena suami serta anak yang utama dan prioritas,” paparnya.

Baca Juga :  Perempuan Justru Lebih Gesit

Ditanya bagaimana pandangannya terkait Banjarbaru, Bintari menyebut kota ini semakin baik, maju dan sejahtera. Terutama kesehatan ibu dan anak-anak. “Hanya saja ada sedikit masalah stunting yang masih ada,” sebutnya.

Permasalahan stunting atau kondisi anak mengalami gangguan pertumbuhan sendiri menurutnya bukan hanya dialami Banjarbaru. Tapi juga seluruh daerah di Indonesia. “Di semua daerah masih ada stunting,” ujarnya.

PKK Banjarbaru beserta Dinas Kesehatan kata dia sebenarnya sudah banyak program dan inovasi untuk menekan angka stunting. Hanya saja belum ada program untuk catin (calon pengantin). “Kebanyakan untuk ibu hamil, ibu menyusui dan anak,” katanya.

Oleh karena itu, wanita kelahiran Ciamis ini berinovasi membuat program pembekalan terkait stunting untuk calon pengantin dengan menggandeng Kantor Urusan Agama (KUA) dan Gereja. “Karena KUA dan Gereja punya program wajib untuk catin, di situlah saya akan mengajukan untuk program saya,” beber Bintari.

Melalui program itu, dia menjelaskan, para calon pengantin akan diberi pembekalan dan pengetahuan terkait stunting, asupan gizi dan tumbuh kembang anak.

Baca Juga :  Kangen Berat ke Kampus

“Selain itu, tentang asupan makanan bagi ibu selama hamil yang bergizi dan berkualitas. Juga bagaimana memberikan nutrisi yang diterima janin selama dalam kandungan, sehingga bisa menghindari pertumbuhan janin yang terhambat,” urai Bintari.

Dengan adanya pembekalan itu, dia berharap masyarakat Banjarbaru dapat mengatasi kekurangan nutrisi setelah kelahiran, dengan mencukupi berbagai nutrisi penting selama hamil.

Menurut Bintari, dengan menurunnya angka stunting di Kota Banjarbaru, status gizi balita bisa semakin membaik. Serta, Program Indonesia Sehat dapat terwujud, dengan meningkatnya status kesehatan dan gizi anak.

Dijelaskan dia, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya dan memiliki penyebab utama kekurangan nutrisi.

“Oleh sebab itu menurunkan angka stunting itu penting, agar anak-anak tumbuh maksimal dengan gizi yang cukup,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Menjadi istri Wakapolres Banjarbaru, Kompol Boma Wedhayanto: Bintari Dwi Rahayu di tengah kesibukannya ingin turut membantu perkembangan Kota Banjarbaru. Salah satunya, berperan menurunkan angka stunting di kota ini.

—-
Masyarakat Banua mungkin belum banyak yang mengenal Bintari Dwi Rahayu, karena wanita berusia 32 tahun ini lebih banyak beraktivitas di Polres Banjarbaru sebagai Wakil Ketua Bhayangkari Cabang Banjarbaru.

Selain itu, ibu tiga anak ini juga bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Serta kuliah S2 Kebidanan di STIKES Dharma Husada Bandung dan S2 Kesehatan Masyarakat di STIKES Indonesia Maju Jakarta.

Meski banyak kegiatan, Bintari mengaku pekerjaan utama tetap seorang istri dan ibu yang mengurus suami dan anak-anaknya. “Alhamdulillah sekarang anak-anak kami sudah besar, jadi saya mulai menambah ilmu dan bekerja,” katanya.

Dia mengaku telat masuk kuliah, dibandingkan teman-temannya. Sebab, sebelumnya dirinya masih fokus mengurus anak-anak yang masih kecil. “Tapi lebih baik telat, daripada tidak sama sekali. Karena suami serta anak yang utama dan prioritas,” paparnya.

Baca Juga :  Utamakan Peran Jadi Istri dan Ibu

Ditanya bagaimana pandangannya terkait Banjarbaru, Bintari menyebut kota ini semakin baik, maju dan sejahtera. Terutama kesehatan ibu dan anak-anak. “Hanya saja ada sedikit masalah stunting yang masih ada,” sebutnya.

Permasalahan stunting atau kondisi anak mengalami gangguan pertumbuhan sendiri menurutnya bukan hanya dialami Banjarbaru. Tapi juga seluruh daerah di Indonesia. “Di semua daerah masih ada stunting,” ujarnya.

PKK Banjarbaru beserta Dinas Kesehatan kata dia sebenarnya sudah banyak program dan inovasi untuk menekan angka stunting. Hanya saja belum ada program untuk catin (calon pengantin). “Kebanyakan untuk ibu hamil, ibu menyusui dan anak,” katanya.

Oleh karena itu, wanita kelahiran Ciamis ini berinovasi membuat program pembekalan terkait stunting untuk calon pengantin dengan menggandeng Kantor Urusan Agama (KUA) dan Gereja. “Karena KUA dan Gereja punya program wajib untuk catin, di situlah saya akan mengajukan untuk program saya,” beber Bintari.

Melalui program itu, dia menjelaskan, para calon pengantin akan diberi pembekalan dan pengetahuan terkait stunting, asupan gizi dan tumbuh kembang anak.

Baca Juga :  Kangen Berat ke Kampus

“Selain itu, tentang asupan makanan bagi ibu selama hamil yang bergizi dan berkualitas. Juga bagaimana memberikan nutrisi yang diterima janin selama dalam kandungan, sehingga bisa menghindari pertumbuhan janin yang terhambat,” urai Bintari.

Dengan adanya pembekalan itu, dia berharap masyarakat Banjarbaru dapat mengatasi kekurangan nutrisi setelah kelahiran, dengan mencukupi berbagai nutrisi penting selama hamil.

Menurut Bintari, dengan menurunnya angka stunting di Kota Banjarbaru, status gizi balita bisa semakin membaik. Serta, Program Indonesia Sehat dapat terwujud, dengan meningkatnya status kesehatan dan gizi anak.

Dijelaskan dia, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya dan memiliki penyebab utama kekurangan nutrisi.

“Oleh sebab itu menurunkan angka stunting itu penting, agar anak-anak tumbuh maksimal dengan gizi yang cukup,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Aksen Kerut Bikin Estetis

Didik Anak Dengan Agama

Buat Taman Membaca di Polres

/