alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Pemalu yang Mudah Bermigrasi, Upaya Penyelamatan Bekantan di Pulau Curiak

Kiprah Amalia Rezeki dalam pelestarian bekantan sudah tak diragukan lagi. Dia meyakini, satu-satunya cara menyelamatkan satwa endemik Kalimantan itu dengan mempertahankan habitat aslinya.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

DARI dermaga yang berada tepat di bawah Jembatan Barito, Kabupaten Barito Kuala, perahu mesin meluncur cepat membelah aliran Sungai Barito menuju Pulau Curiak.

Suara mesin perahu yang memekakkan telinga, membuat segerombolan burung yang bertengger di dahan dan ranting pohon di tepi sungai beterbangan.

Sama dengan seekor monyet berekor panjang berwarna kecokelatan. Melihat perahu kami, monyet itu bergegas kabur. Hingga hilang dari pandangan.

Kurang dari 14 menit, motoris memelankan laju perahu. Bunyi mesin pun perlahan meredam.

Setelah bersandar, tepat di belakang dermaga, berdiri sebuah bangunan kayu berkelir kecokelatan. Di tiap dindingnya tampak potret wajah bekantan. Dari bekantan muda hingga bekantan dewasa.

Bangunan itulah tujuan penulis. Basecamp sekaligus Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak.

Sabtu (15/1) siang itu, suasana Pulau Curiak sangat tenang. Angin berembus pelan. Suara burung terdengar bersahutan.

Diselingi suara bekantan yang menyembunyikan diri di antara rimbunnya pepohonan mangrove.

“Motoris di sini umumnya sudah paham. Ketika memasuki kawasan Pulau Curiak, mereka harus melambatkan laju perahunya. Sehingga bising suara mesin bisa ditekan,” ucap salah seorang pemandu, Zainuddin, seusai menyambut kedatangan penulis.

“Agar para bekantan tidak merasa terganggu,” jelasnya.

Pulau Curiak adalah sebuah delta di Sungai Barito. Berjarak sekitar 22 kilometer dari pusat kota Banjarmasin.

Menurut Zainuddin, sedari dulu, pulau ini menjadi habitat asli bekantan. Tapi lantaran pulau ini tak terurus, bekantan menjadi sangat jarang ditemukan.

Imbasnya, bekantan justru kerap kali ditemukan di kawasan permukiman warga.

Namun, semua itu berubah. Ketika tahun 2013 lalu, pulau ini mulai dijadikan pusat studi dan konservasi keanekaragaman hayati.

Dilanjutkan pembangunan Stasiun Riset Bekantan, dengan tujuan sebagai wadah upaya perlindungan dan pelestarian bekantan.

Penggagasnya adalah Amalia Rezeki, ketua sekaligus pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Bersama rekan-rekannya, pulau yang semula tandus dan tidak terurus itu berubah wujud menjadi pulau yang eksotis. Ribuan mangrove ditanami.

Perlahan namun pasti, bekantan pun mulai kembali ramai di pulau ini.

Sejak saat itu hingga sekarang, pulau yang secara administratif berada di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalsel, itu pun sontak menjadi perhatian.

Baca Juga :  Banyak Perusahaan Tambang Tak Lakukan Kewajiban, DLH Janji Tak Tinggal Diam

Tidak hanya oleh masyarakat daerah, tapi juga masyarakat mancanegara. Pulau itu, digunakan sebagai tempat singgah bagi berbagai kalangan.

Baik untuk keperluan konservasi, edukasi, penelitian, hingga sekadar ingin bersantai melihat keindahan alam dan bekantan.

“Ada tiga kelompok bekantan di pulau ini. Alfa, Bravo dan Charlie. Jumlah bekantan dalam masing-masing kelompok itu berbeda-beda. Kalau ditotal keseluruhan, ada sekitar 30 ekor bekantan,” jelasnya.

Berselang beberapa menit, penulis bertemu dengan Amalia Rezeki. Dia datang belakangan bersama rekannya yang lain. Sembari meyantap kudapan, perbincangan kami terkait isu pelestarian bekantan pun kian hangat.

Dituturkan Amel, sapaan akrabnya, pihaknya telah mewakafkan diri untuk lima program pelestarian bekantan. Yakni sosialisasi edukasi, penyelamatan, restorasi, penelitian, dan ekowisata bekantan.

Mengacu data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, populasi bekantan di Kalsel diketahui menurun drastis. Bahkan sampai 50 persen.

“Contoh, di tahun 2013, populasinya diperkirakan ada 5.000 ekor. Dan kini menyusut menjadi 2.200 ekor,” tuturnya.

Kondisi itu secara tidak langsung meletakkan posisi bekantan pada posisi zona merah alias terancam kepunahannya.

“Maka kami selalu memantau perkembangan kehidupan bekantan. Termasuk di Pulau Curiak ini. Kami ingin mengubah status populasi bekantan,” tekannya.

Bagaimana hasilnya? Sebagai perbandingan, tahun 2016 lalu, bekantan di Pulau Curiak hanya berjumlah belasan ekor. Seiring dengan ragam upaya SBI, populasi bekantan di situ kini menjadi puluhan ekor.

“Salah satunya dengan merestorasi atau memulihkan kawasan Pulau Curiak,” ungkapnya.

“Kami menanam mangrove rambai yang merupakan habitat asli sekaligus makanan utama bekantan, yakni buah rambai,” jelasnya.

“Alhamdulillah, upaya yang dilakukan membuahkan hasil. Melalui penanaman mangrove, dari yang semula luasannya hanya 2,4 hektare, kini menjadi 4,01 hektare,” tambahnya.

Kendati demikian, Amel merasa sangat memerlukan bantuan masyarakat. Sejauh ini, di Pulau Curiak, baru ada tiga desa yang menjadi desa penyangga habitat bekantan.

Yakni Desa Marabahan Baru, Anjir Serapat Muara, dan Anjir Serapat Muara 1. Ke depan, pihaknya akan fokus pada pengamanan habitat melalui konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat.

Sebab, daya dukung pakan bekantan masih belum bisa dikatakan cukup. Seiring dengan adanya penambahan populasi bekantan yang dinilainya cukup signifikan di pulau tersebut.

Baca Juga :  Nekat Terobos Pemukiman, Deti Si Lutung Takkan Selincah Dulu

“Maka, kami perlu terus meningkatkan restorasi. Program ini, juga sejalan dengan program pemerintah yang menggencarkan pelestarian mangrove,” jelasnya.

Sisi lain, bila melihat karakteristik bekantan (salah satunya pemalu), dia berkesimpulan bahwa apabila sedikit saja ada kerusakan atau gangguan pada habitatnya, maka tidak menutup kemungkinan membuat bekantan akan bermigrasi.

“Pemberdayaan masyarakat baru dimulai. Kunci utama menyelamatkan bekantan adalah dengan menyelamatkan habitatnya,” pungkasnya.

Berkah Bagi Nelayan Tradisional

Ketika Sani mengangkat jaring yang dipasangnya di sekitar mangrove rambai di Pulau Curiak, seekor ikan tampak memberontak di sela-sela jala.

Itu pertama kalinya penulis melihat langsung ikan yang dijadikan maskot Kota Banjarmasin, ikan Kalabau.

Bentuknya, sudah tentu tidak sekaku yang dijadikan patung tersebut.

KETIBAN BERKAH: Sejak hutan mangrove kembali ke Pulau Curiak, nelayan tradisional turut senang. Karena habitat ikan air tawar di sana turut terjaga. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Bagi warga asal Marabahan Baru itu, hutan mangrove Pulau Curiak menyediakan ikan air tawar yang berlimpah.

Dibuktikan dengan banyaknya warga sekitar pulau yang kembali menjadi nelayan tradisional.

“Tidak hanya ikan, udang juga ada di sini,” ungkap Sani sembari meletakkan ikan hasil tangkapannya ke dalam sampan.

Dituturkannya, ada kehidupan lain di Pulau Curiak. Andaikan penulis datang lebih pagi, maka bisa melihat Pasar Terapung versi Kabupaten Batola.

“Tapi yang dijual hanya ikan. Biasanya, baik pengepul atau penjual berkumpul di sini (di depan Pulau Curiak),” ungkapnya.

“Bukan hanya buat bekantan, Pulau Curiak juga menjadi berkah bagi warga,” tambahnya.

Mendukung Pulau Curiak sebagai kawasan konservasi berbasis masyarakat, kini juga ada kawasan yang diberi nama Mangrove Rambai Center.

Lokasinya tak jauh dari basecamp Stasiun Riset Bekantan. Di sini, baik para mahasiswa maupun peneliti, bisa mempelajari berbagai macam varian mangrove.

Kendati juga dikembangkan sebagai tempat wisata, tapi kawasan ini bukan ditujukan untuk pelancong biasa. Melainkan wisata dengan minat khusus

“Tujuannya, tak lain untuk tetap menjaga habitat asli bekantan,” ungkap penggagas sekaligus Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amelia Rezeki.

Bagi yang hobi mengamati burung, Pulau Curiak juga merupakan kawasan yang tepat.

“Kawasan ini juga dihuni elang brontok. Salah satu predator yang keberadaannya juga dilindungi,” tuntasnya. (war/at/fud)

Kiprah Amalia Rezeki dalam pelestarian bekantan sudah tak diragukan lagi. Dia meyakini, satu-satunya cara menyelamatkan satwa endemik Kalimantan itu dengan mempertahankan habitat aslinya.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

DARI dermaga yang berada tepat di bawah Jembatan Barito, Kabupaten Barito Kuala, perahu mesin meluncur cepat membelah aliran Sungai Barito menuju Pulau Curiak.

Suara mesin perahu yang memekakkan telinga, membuat segerombolan burung yang bertengger di dahan dan ranting pohon di tepi sungai beterbangan.

Sama dengan seekor monyet berekor panjang berwarna kecokelatan. Melihat perahu kami, monyet itu bergegas kabur. Hingga hilang dari pandangan.

Kurang dari 14 menit, motoris memelankan laju perahu. Bunyi mesin pun perlahan meredam.

Setelah bersandar, tepat di belakang dermaga, berdiri sebuah bangunan kayu berkelir kecokelatan. Di tiap dindingnya tampak potret wajah bekantan. Dari bekantan muda hingga bekantan dewasa.

Bangunan itulah tujuan penulis. Basecamp sekaligus Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak.

Sabtu (15/1) siang itu, suasana Pulau Curiak sangat tenang. Angin berembus pelan. Suara burung terdengar bersahutan.

Diselingi suara bekantan yang menyembunyikan diri di antara rimbunnya pepohonan mangrove.

“Motoris di sini umumnya sudah paham. Ketika memasuki kawasan Pulau Curiak, mereka harus melambatkan laju perahunya. Sehingga bising suara mesin bisa ditekan,” ucap salah seorang pemandu, Zainuddin, seusai menyambut kedatangan penulis.

“Agar para bekantan tidak merasa terganggu,” jelasnya.

Pulau Curiak adalah sebuah delta di Sungai Barito. Berjarak sekitar 22 kilometer dari pusat kota Banjarmasin.

Menurut Zainuddin, sedari dulu, pulau ini menjadi habitat asli bekantan. Tapi lantaran pulau ini tak terurus, bekantan menjadi sangat jarang ditemukan.

Imbasnya, bekantan justru kerap kali ditemukan di kawasan permukiman warga.

Namun, semua itu berubah. Ketika tahun 2013 lalu, pulau ini mulai dijadikan pusat studi dan konservasi keanekaragaman hayati.

Dilanjutkan pembangunan Stasiun Riset Bekantan, dengan tujuan sebagai wadah upaya perlindungan dan pelestarian bekantan.

Penggagasnya adalah Amalia Rezeki, ketua sekaligus pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Bersama rekan-rekannya, pulau yang semula tandus dan tidak terurus itu berubah wujud menjadi pulau yang eksotis. Ribuan mangrove ditanami.

Perlahan namun pasti, bekantan pun mulai kembali ramai di pulau ini.

Sejak saat itu hingga sekarang, pulau yang secara administratif berada di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalsel, itu pun sontak menjadi perhatian.

Baca Juga :  Itik Tak Masuk Program Asuransi Ternak

Tidak hanya oleh masyarakat daerah, tapi juga masyarakat mancanegara. Pulau itu, digunakan sebagai tempat singgah bagi berbagai kalangan.

Baik untuk keperluan konservasi, edukasi, penelitian, hingga sekadar ingin bersantai melihat keindahan alam dan bekantan.

“Ada tiga kelompok bekantan di pulau ini. Alfa, Bravo dan Charlie. Jumlah bekantan dalam masing-masing kelompok itu berbeda-beda. Kalau ditotal keseluruhan, ada sekitar 30 ekor bekantan,” jelasnya.

Berselang beberapa menit, penulis bertemu dengan Amalia Rezeki. Dia datang belakangan bersama rekannya yang lain. Sembari meyantap kudapan, perbincangan kami terkait isu pelestarian bekantan pun kian hangat.

Dituturkan Amel, sapaan akrabnya, pihaknya telah mewakafkan diri untuk lima program pelestarian bekantan. Yakni sosialisasi edukasi, penyelamatan, restorasi, penelitian, dan ekowisata bekantan.

Mengacu data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, populasi bekantan di Kalsel diketahui menurun drastis. Bahkan sampai 50 persen.

“Contoh, di tahun 2013, populasinya diperkirakan ada 5.000 ekor. Dan kini menyusut menjadi 2.200 ekor,” tuturnya.

Kondisi itu secara tidak langsung meletakkan posisi bekantan pada posisi zona merah alias terancam kepunahannya.

“Maka kami selalu memantau perkembangan kehidupan bekantan. Termasuk di Pulau Curiak ini. Kami ingin mengubah status populasi bekantan,” tekannya.

Bagaimana hasilnya? Sebagai perbandingan, tahun 2016 lalu, bekantan di Pulau Curiak hanya berjumlah belasan ekor. Seiring dengan ragam upaya SBI, populasi bekantan di situ kini menjadi puluhan ekor.

“Salah satunya dengan merestorasi atau memulihkan kawasan Pulau Curiak,” ungkapnya.

“Kami menanam mangrove rambai yang merupakan habitat asli sekaligus makanan utama bekantan, yakni buah rambai,” jelasnya.

“Alhamdulillah, upaya yang dilakukan membuahkan hasil. Melalui penanaman mangrove, dari yang semula luasannya hanya 2,4 hektare, kini menjadi 4,01 hektare,” tambahnya.

Kendati demikian, Amel merasa sangat memerlukan bantuan masyarakat. Sejauh ini, di Pulau Curiak, baru ada tiga desa yang menjadi desa penyangga habitat bekantan.

Yakni Desa Marabahan Baru, Anjir Serapat Muara, dan Anjir Serapat Muara 1. Ke depan, pihaknya akan fokus pada pengamanan habitat melalui konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat.

Sebab, daya dukung pakan bekantan masih belum bisa dikatakan cukup. Seiring dengan adanya penambahan populasi bekantan yang dinilainya cukup signifikan di pulau tersebut.

Baca Juga :  Banyak Perusahaan Tambang Tak Lakukan Kewajiban, DLH Janji Tak Tinggal Diam

“Maka, kami perlu terus meningkatkan restorasi. Program ini, juga sejalan dengan program pemerintah yang menggencarkan pelestarian mangrove,” jelasnya.

Sisi lain, bila melihat karakteristik bekantan (salah satunya pemalu), dia berkesimpulan bahwa apabila sedikit saja ada kerusakan atau gangguan pada habitatnya, maka tidak menutup kemungkinan membuat bekantan akan bermigrasi.

“Pemberdayaan masyarakat baru dimulai. Kunci utama menyelamatkan bekantan adalah dengan menyelamatkan habitatnya,” pungkasnya.

Berkah Bagi Nelayan Tradisional

Ketika Sani mengangkat jaring yang dipasangnya di sekitar mangrove rambai di Pulau Curiak, seekor ikan tampak memberontak di sela-sela jala.

Itu pertama kalinya penulis melihat langsung ikan yang dijadikan maskot Kota Banjarmasin, ikan Kalabau.

Bentuknya, sudah tentu tidak sekaku yang dijadikan patung tersebut.

KETIBAN BERKAH: Sejak hutan mangrove kembali ke Pulau Curiak, nelayan tradisional turut senang. Karena habitat ikan air tawar di sana turut terjaga. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Bagi warga asal Marabahan Baru itu, hutan mangrove Pulau Curiak menyediakan ikan air tawar yang berlimpah.

Dibuktikan dengan banyaknya warga sekitar pulau yang kembali menjadi nelayan tradisional.

“Tidak hanya ikan, udang juga ada di sini,” ungkap Sani sembari meletakkan ikan hasil tangkapannya ke dalam sampan.

Dituturkannya, ada kehidupan lain di Pulau Curiak. Andaikan penulis datang lebih pagi, maka bisa melihat Pasar Terapung versi Kabupaten Batola.

“Tapi yang dijual hanya ikan. Biasanya, baik pengepul atau penjual berkumpul di sini (di depan Pulau Curiak),” ungkapnya.

“Bukan hanya buat bekantan, Pulau Curiak juga menjadi berkah bagi warga,” tambahnya.

Mendukung Pulau Curiak sebagai kawasan konservasi berbasis masyarakat, kini juga ada kawasan yang diberi nama Mangrove Rambai Center.

Lokasinya tak jauh dari basecamp Stasiun Riset Bekantan. Di sini, baik para mahasiswa maupun peneliti, bisa mempelajari berbagai macam varian mangrove.

Kendati juga dikembangkan sebagai tempat wisata, tapi kawasan ini bukan ditujukan untuk pelancong biasa. Melainkan wisata dengan minat khusus

“Tujuannya, tak lain untuk tetap menjaga habitat asli bekantan,” ungkap penggagas sekaligus Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amelia Rezeki.

Bagi yang hobi mengamati burung, Pulau Curiak juga merupakan kawasan yang tepat.

“Kawasan ini juga dihuni elang brontok. Salah satu predator yang keberadaannya juga dilindungi,” tuntasnya. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/