alexametrics
26.3 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Kelakaan BPK: Satu Pelajar Masih Kritis, Kakek 62 Tahun Tersangka

BANJARMASIN – Sopir armada BPK Gadang, Ahmad Dharmawan resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Pria 62 tahun inilah yang menabrak lima pesepeda motor di Jalan Sutoyo S, Banjarmasin Tengah, Rabu (5/1) siang.

Dua di antaranya adalah pelajar SMAN 1 Banjarmasin, Amanda Rahmania S dan temannya Nia Kusuma Dewi. Keduanya masih berusia 17 tahun.

Amanda dirawat di Rumah Sakit Suaka Insan dan sudah siuman. Sementara Nia masih koma, dalam penanganan tim medis Rumah Sakit Sari Mulia.

Kecelakaan itu terjadi saat BPK ini mengejar musibah kebakaran di Jalan Barito Hulu, Banjarmasin Barat.
Dharmawan saat ini tercatat sebagai warga Jalan AES Nasution Gang Musyawarah, Banjarmasin Tengah.

Penyidik menjeratnya pasal 310 ayat 3 dan 2 Undang-Undang Lalu Lintas terkait kelalaian yang menyebabkan korban luka. Ancamannya, penjara satu tahun dan atau denda Rp2 juta.

“Benar, sopir BPK itu sudah menjadi tersangka. Masih diperiksa,” ungkap Kasat Lantas Polresta Banjarmasin, Kompol Gustaf Adolf Mamuaya, kemarin (6/1).

Hasil penyelidikan sementara, mobil Kijang dengan nopol DA 7816 AJ ini mengebut dengan mengambil lajur kanan (lajur berlawanan).

Di kawasan Teluk Dalam, ada motor Scoopy dengan nopol DA 6590 PBQ yang dikendarai Nia dan membonceng Amanda.

Baca Juga :  Perda Damkar Bakal Direvisi, Bakal Memuat Pasal Sanksi

“Karena kecepatan tinggi, sehingga tak bisa menghindari lagi,” terang Gustaf.

Selain menabrak kedua pelajar ini, motor Yamaha Mio Soul dengan nopol DA 6146 AEA yang dikendarai Illin Satriawirawan juga dihantamnya.

Begitu sopir membanting setir ke kanan, kembali menabrak pejalan kaki bernama Sayyidah Nur Aqilla. Bocah ini baru berumur delapan tahun.

Tapi Illin dan Aqilla hanya menderita luka lecet di tangan dan kaki. Sedangkan Nia dan Amanda menderita cedera berat di kepala. Tersangka sendiri mengalami pendarahan di bagian mulut.

Keluarga Amanda menyatakan, sempat kritis selama berjam-jam, akhirnya putri mereka sadar.

“Siuman, kondisinya sekitar 80 persen. Belum bisa banyak bergerak karena badannya masih lemas. Dia kemudian bercerita tak jadi pulang ke rumah naik ojol, tapi ikut temannya,” kisah kakak Amanda.

Perlu Dinas Khusus Damkar

Plt Kepala Bidang Pemadam Kebakaran di Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Misranudin menyayangkan kecelakaan yang melibatkan relawan BPK.

Bersama kepolisian, dia merasa sudah bekerja ekstra dalam mengedukasi BPK di ibu kota provinsi ini.

“Tiga bulan belakangan, BPK di setiap kecamatan sudah dipanggil. Bahkan, di masing-masing kecamatan, pertemuannya sampai dua kali. Nyatanya, kejadian yang sama kembali terulang,” keluhnya, kemarin (6/1).

Baca Juga :  Kecelakaan Maut: Perawat vs Angkutan Batubara

Menurutnya, ini lantaran dalam Perda Nomor 13 Tahun 2008, tak ada pasal sanksi. “Di situ hanya mengatur soal zonasi (wilayah pemadaman). Tapi tak bisa ditegakkan lantaran tak ada sanksi,” tekannya.
Pemko juga kesulitan menerapkan perda itu, lantaran tak ada kontribusi langsung dan nyata kepada para relawan BPK.

“Armada dan bensinnya beli sendiri. Mesin pompanya juga milik mereka. Itu keluhan yang saya banyak dengar di lapangan,” tambahnya.

Ditanya solusi, Misranuddin menceritakan, ada rencana membuat dinas tersendiri untuk mengatur BPK-BPK ini.

“Masih digodok. Sebelum adanya instansi khusus, kami berharap kesadaran pimpinan BPK agar menerapkan aturan zonasi ini,” tutupnya.

Terpisah, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan kebutuhan atas dinas damkar ini sudah mendesak.

Soal aturan zonasi yang tak kunjung ditegakkan, dia melihat perlunya pemetaan ulang masalah. “Minimal, perda itu bisa diterapkan BPK yang berada di bawah naungan pemko,” tutupnya.

Aturan zonasi itu mengatur wilayah pemadaman BPK. Contoh, BPK yang bermarkas di Banjarmasin Timur tak boleh menyeberang mengejar musibah kebakaran di Banjarmasin Barat. (war/at/fud)

BANJARMASIN – Sopir armada BPK Gadang, Ahmad Dharmawan resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Pria 62 tahun inilah yang menabrak lima pesepeda motor di Jalan Sutoyo S, Banjarmasin Tengah, Rabu (5/1) siang.

Dua di antaranya adalah pelajar SMAN 1 Banjarmasin, Amanda Rahmania S dan temannya Nia Kusuma Dewi. Keduanya masih berusia 17 tahun.

Amanda dirawat di Rumah Sakit Suaka Insan dan sudah siuman. Sementara Nia masih koma, dalam penanganan tim medis Rumah Sakit Sari Mulia.

Kecelakaan itu terjadi saat BPK ini mengejar musibah kebakaran di Jalan Barito Hulu, Banjarmasin Barat.
Dharmawan saat ini tercatat sebagai warga Jalan AES Nasution Gang Musyawarah, Banjarmasin Tengah.

Penyidik menjeratnya pasal 310 ayat 3 dan 2 Undang-Undang Lalu Lintas terkait kelalaian yang menyebabkan korban luka. Ancamannya, penjara satu tahun dan atau denda Rp2 juta.

“Benar, sopir BPK itu sudah menjadi tersangka. Masih diperiksa,” ungkap Kasat Lantas Polresta Banjarmasin, Kompol Gustaf Adolf Mamuaya, kemarin (6/1).

Hasil penyelidikan sementara, mobil Kijang dengan nopol DA 7816 AJ ini mengebut dengan mengambil lajur kanan (lajur berlawanan).

Di kawasan Teluk Dalam, ada motor Scoopy dengan nopol DA 6590 PBQ yang dikendarai Nia dan membonceng Amanda.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut: Perawat vs Angkutan Batubara

“Karena kecepatan tinggi, sehingga tak bisa menghindari lagi,” terang Gustaf.

Selain menabrak kedua pelajar ini, motor Yamaha Mio Soul dengan nopol DA 6146 AEA yang dikendarai Illin Satriawirawan juga dihantamnya.

Begitu sopir membanting setir ke kanan, kembali menabrak pejalan kaki bernama Sayyidah Nur Aqilla. Bocah ini baru berumur delapan tahun.

Tapi Illin dan Aqilla hanya menderita luka lecet di tangan dan kaki. Sedangkan Nia dan Amanda menderita cedera berat di kepala. Tersangka sendiri mengalami pendarahan di bagian mulut.

Keluarga Amanda menyatakan, sempat kritis selama berjam-jam, akhirnya putri mereka sadar.

“Siuman, kondisinya sekitar 80 persen. Belum bisa banyak bergerak karena badannya masih lemas. Dia kemudian bercerita tak jadi pulang ke rumah naik ojol, tapi ikut temannya,” kisah kakak Amanda.

Perlu Dinas Khusus Damkar

Plt Kepala Bidang Pemadam Kebakaran di Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Misranudin menyayangkan kecelakaan yang melibatkan relawan BPK.

Bersama kepolisian, dia merasa sudah bekerja ekstra dalam mengedukasi BPK di ibu kota provinsi ini.

“Tiga bulan belakangan, BPK di setiap kecamatan sudah dipanggil. Bahkan, di masing-masing kecamatan, pertemuannya sampai dua kali. Nyatanya, kejadian yang sama kembali terulang,” keluhnya, kemarin (6/1).

Baca Juga :  Kecelakaan Misterius, Dua Orang TMD di Desa Sungai Jalungan

Menurutnya, ini lantaran dalam Perda Nomor 13 Tahun 2008, tak ada pasal sanksi. “Di situ hanya mengatur soal zonasi (wilayah pemadaman). Tapi tak bisa ditegakkan lantaran tak ada sanksi,” tekannya.
Pemko juga kesulitan menerapkan perda itu, lantaran tak ada kontribusi langsung dan nyata kepada para relawan BPK.

“Armada dan bensinnya beli sendiri. Mesin pompanya juga milik mereka. Itu keluhan yang saya banyak dengar di lapangan,” tambahnya.

Ditanya solusi, Misranuddin menceritakan, ada rencana membuat dinas tersendiri untuk mengatur BPK-BPK ini.

“Masih digodok. Sebelum adanya instansi khusus, kami berharap kesadaran pimpinan BPK agar menerapkan aturan zonasi ini,” tutupnya.

Terpisah, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan kebutuhan atas dinas damkar ini sudah mendesak.

Soal aturan zonasi yang tak kunjung ditegakkan, dia melihat perlunya pemetaan ulang masalah. “Minimal, perda itu bisa diterapkan BPK yang berada di bawah naungan pemko,” tutupnya.

Aturan zonasi itu mengatur wilayah pemadaman BPK. Contoh, BPK yang bermarkas di Banjarmasin Timur tak boleh menyeberang mengejar musibah kebakaran di Banjarmasin Barat. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/