alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Optimis Target Investasi Tercapai

BANJARBARU – Meski data secara keseluruhan belum keluar, namun Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel optimis target investasi di Banua pada 2021 dapat tercapai.

Kepala DPMPTSP Kalsel Nafarin mengatakan, optimisme mereka berdasarkan nilai investasi sampai triwulan III (Januari-September) yang sudah mencapai Rp9.435.299.040.000. “Target kita sebesar Rp11,8 triliun, jadi sisa sedikit lagi kurangnya,” katanya.

Dia mengungkapkan, untuk hasil triwulan keempat masih dalam proses dan baru disampaikan pada akhir Januari ini. “Kita optimis investasi Kalsel tahun 2021 akan terpenuhi target Rp11,8 triliun. Mudah-mudahan akan lebih dari pada itu, karena investasi mulai ramai,” lanjut Nafarin.

Menurutnya, ramainya investor masuk ke Banua dikarenakan mulai melandainya kasus Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir. “Seiring kondisi pandemi yang mulai melandai, banyak pemodal yang sudah berani berinvestasi,” ujarnya.

Nafarin menambahkan, dihitung dari peringkat nasional capaian investasi penanam modal dalam negeri (PMDN) di Kalsel berada di urutan 12. Sementara penanam modal asing masih peringkat 25. “Itu untuk realisasi selama tahun ini, tapi kalau khusus untuk triwulan III kita urutan 10,” bebernya.

Dikatakan Nafarin, proyek paling banyak pada triwulan III ada di sektor perdagangan dan reparasi: sebanyak 390. Jumlah tersebut terdiri dari 7 proyek PMA dan 383 proyek PMDN, dengan nilai investasi Rp718.344.100.000.

Baca Juga :  Jadi Ibu Kota, Banjabaru Diincar Banyak Investor

Sedangkan di peringkat kedua, dia menyebut, sektor jasa lainnya. Dengan total 105 proyek, terdiri dari PMA 5 proyek dan PMDN 100 proyek. Nilai investasinya sebesar Rp478.223.000.000. “Sedangkan peringkat ketiga asektor pertambangan, dengan jumlah 69 proyek. Terdiri dari PMA 23 Proyek dan PMDN 46 Proyek, nilai investasinya Rp2.044.864.500.000,” papar Nafarin.

Jika dihitung secara keseluruhan dari Januari sampai September, Nafarin menuturkan, jumlah proyek terbesar tetap di sektor perdagangan dan reparasi dengan jumlah 934 (PMA 64 proyek dan PMDN 129 proyek).

Lalu peringkat kedua terbanyak ialah sektor jasa lainnya sebanyak 270 proyek, disusul transportasi, gudang dan telekomunikasi dengan jumlah 203 proyek. “Sedangkan nilainya, sampai triwulan III ini yang terbesar masih sektor pertambangan dengan nilai investasi Rp3.987.503.280.000,” tutur Nafarin.

Masih menurut Nafarin, jika dilihat dari sebaran daerah sampai dengan triwulan III proyek paling banyak ada di Kota Banjarmasin dengan 568 proyek. Terdiri dari 42 PMA dan 526 PMDN, dengan nilai investasi Rp1.049.647.980.000.

Berbeda dengan Banjarmasin, meski proyek di Kabupaten Tabalong tidak terlalu banyak yaitu 250 proyek, namun urutan jumlah investasi kabupaten ini paling besar: Rp3.508.291.880.000.

Ditambahkan Nafarin, dilihat dari negaranya, triwulan III tahun 2021 negara Singapura menjadi negara terbanyak dalam jumlah proyek yaitu sebanyak 34 proyek. Namun nilai investasi yang dihasilkan nihil. Disusul Malaysia dengan 9 proyek senilai Rp2.319.940.000.

Baca Juga :  Tapin Buka 13 Pelatihan Berbasis Kompetensi

Lanjutnya, kemudian peringkat ketiga Korea Selatan dan Mauritius dengan sama-sama 6 proyek. Nilainya, masing-masing Rp4.787.340.000 dan Rp316.820.000. “Sedangkan nilai investasi terbesar berasal dari Australia. Totalnya Rp153.983.280.000, dengan 2 Proyek,” paparnya.

Terkait investasi tahun ini, Nafarin menyebut, targetnya mengalami kenaikan menjadi Rp13 triliun. “Mudah-mudahan ada investasi baru, sehingga tahun ini kita bisa mencapai target,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Kalsel, Mahyuni menyampaikan, dalam rangka hilirisasi industri ada banyak investasi yang diperlukan Kalsel. “Yang pertama, hilirisasi pengolahan karet. Seperti, industri pengolahan ban dan industri pengolahan belt conveyor,” ucapnya.

Dia menambahkan, Kalsel juga perlu industri untuk hilirisasi sawit. Seperti pengolahan CPO menjadi oleo energi, oleo food dan oleo chemical. “Juga hilirisasi pengolahan tandan kosong sawit, pelepah dan batang menjadi pulp serta kertas pembungkus/karton,” ujarnya.

Selain itu, sebagai daerah yang memiliki batubara melimpah, Banua juga perlu mencari investasi untuk mengolah batubara menjadi barang jadi. Misal, jadi LPG atau polypropylene.

“Kalsel juga perlu ada hilirisasi industri pengolahan biji besi menjadi baja karbon, serta metal forming atau pembentukan logam. Juga pengolahan amoniak dan pupuk,” papar Mahyuni. (ris/by/ran)

 

BANJARBARU – Meski data secara keseluruhan belum keluar, namun Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel optimis target investasi di Banua pada 2021 dapat tercapai.

Kepala DPMPTSP Kalsel Nafarin mengatakan, optimisme mereka berdasarkan nilai investasi sampai triwulan III (Januari-September) yang sudah mencapai Rp9.435.299.040.000. “Target kita sebesar Rp11,8 triliun, jadi sisa sedikit lagi kurangnya,” katanya.

Dia mengungkapkan, untuk hasil triwulan keempat masih dalam proses dan baru disampaikan pada akhir Januari ini. “Kita optimis investasi Kalsel tahun 2021 akan terpenuhi target Rp11,8 triliun. Mudah-mudahan akan lebih dari pada itu, karena investasi mulai ramai,” lanjut Nafarin.

Menurutnya, ramainya investor masuk ke Banua dikarenakan mulai melandainya kasus Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir. “Seiring kondisi pandemi yang mulai melandai, banyak pemodal yang sudah berani berinvestasi,” ujarnya.

Nafarin menambahkan, dihitung dari peringkat nasional capaian investasi penanam modal dalam negeri (PMDN) di Kalsel berada di urutan 12. Sementara penanam modal asing masih peringkat 25. “Itu untuk realisasi selama tahun ini, tapi kalau khusus untuk triwulan III kita urutan 10,” bebernya.

Dikatakan Nafarin, proyek paling banyak pada triwulan III ada di sektor perdagangan dan reparasi: sebanyak 390. Jumlah tersebut terdiri dari 7 proyek PMA dan 383 proyek PMDN, dengan nilai investasi Rp718.344.100.000.

Baca Juga :  Mulai Tahun Ini, 1682 Tenaga Kontrak Dapat Jaminan BPJS Ketenagakerjaan

Sedangkan di peringkat kedua, dia menyebut, sektor jasa lainnya. Dengan total 105 proyek, terdiri dari PMA 5 proyek dan PMDN 100 proyek. Nilai investasinya sebesar Rp478.223.000.000. “Sedangkan peringkat ketiga asektor pertambangan, dengan jumlah 69 proyek. Terdiri dari PMA 23 Proyek dan PMDN 46 Proyek, nilai investasinya Rp2.044.864.500.000,” papar Nafarin.

Jika dihitung secara keseluruhan dari Januari sampai September, Nafarin menuturkan, jumlah proyek terbesar tetap di sektor perdagangan dan reparasi dengan jumlah 934 (PMA 64 proyek dan PMDN 129 proyek).

Lalu peringkat kedua terbanyak ialah sektor jasa lainnya sebanyak 270 proyek, disusul transportasi, gudang dan telekomunikasi dengan jumlah 203 proyek. “Sedangkan nilainya, sampai triwulan III ini yang terbesar masih sektor pertambangan dengan nilai investasi Rp3.987.503.280.000,” tutur Nafarin.

Masih menurut Nafarin, jika dilihat dari sebaran daerah sampai dengan triwulan III proyek paling banyak ada di Kota Banjarmasin dengan 568 proyek. Terdiri dari 42 PMA dan 526 PMDN, dengan nilai investasi Rp1.049.647.980.000.

Berbeda dengan Banjarmasin, meski proyek di Kabupaten Tabalong tidak terlalu banyak yaitu 250 proyek, namun urutan jumlah investasi kabupaten ini paling besar: Rp3.508.291.880.000.

Ditambahkan Nafarin, dilihat dari negaranya, triwulan III tahun 2021 negara Singapura menjadi negara terbanyak dalam jumlah proyek yaitu sebanyak 34 proyek. Namun nilai investasi yang dihasilkan nihil. Disusul Malaysia dengan 9 proyek senilai Rp2.319.940.000.

Baca Juga :  Kontrak Sopir Ambulans Diperpanjang, Para Nakes Harap Bersabar

Lanjutnya, kemudian peringkat ketiga Korea Selatan dan Mauritius dengan sama-sama 6 proyek. Nilainya, masing-masing Rp4.787.340.000 dan Rp316.820.000. “Sedangkan nilai investasi terbesar berasal dari Australia. Totalnya Rp153.983.280.000, dengan 2 Proyek,” paparnya.

Terkait investasi tahun ini, Nafarin menyebut, targetnya mengalami kenaikan menjadi Rp13 triliun. “Mudah-mudahan ada investasi baru, sehingga tahun ini kita bisa mencapai target,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Kalsel, Mahyuni menyampaikan, dalam rangka hilirisasi industri ada banyak investasi yang diperlukan Kalsel. “Yang pertama, hilirisasi pengolahan karet. Seperti, industri pengolahan ban dan industri pengolahan belt conveyor,” ucapnya.

Dia menambahkan, Kalsel juga perlu industri untuk hilirisasi sawit. Seperti pengolahan CPO menjadi oleo energi, oleo food dan oleo chemical. “Juga hilirisasi pengolahan tandan kosong sawit, pelepah dan batang menjadi pulp serta kertas pembungkus/karton,” ujarnya.

Selain itu, sebagai daerah yang memiliki batubara melimpah, Banua juga perlu mencari investasi untuk mengolah batubara menjadi barang jadi. Misal, jadi LPG atau polypropylene.

“Kalsel juga perlu ada hilirisasi industri pengolahan biji besi menjadi baja karbon, serta metal forming atau pembentukan logam. Juga pengolahan amoniak dan pupuk,” papar Mahyuni. (ris/by/ran)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/