alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Dari Pemutaran Film Ibnu-Silah: Contoh Sukses Pasangan Antipacaran

Kisah cinta Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina dan istrinya Siti Wasilah difilmkan. Kemarin (5/1) pagi, film pendek itu diputar perdana di dua tempat. Di Kota Cinema Mall (KCM) dan Studio XXI Duta Mall.

***

BANJARMASIN – Tahun 1995, Ibnu ditunjuk seorang dosen mengawasi praktik mahasiswa di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Di situ lah Ibnu pertama kali bertemu Silah. Pada satu momen yang tak disengaja, keduanya sama-sama menoleh dan memandang.

Tapi, jauh sebelum itu, Ibnu sudah lebih dulu mendengar nama perempuan ini.

Bahwa Silah adalah seorang mahasiswi berprestasi. Selalu meraih nilai sempurna dalam kuliahnya dan sosok mandiri dalam kehidupan kesehariannya.

Bagaimana tidak, sembari menempuh pendidikan di perguruan ringgi, Silah bekerja sebagai penjual kue dan kitab agama.

Namanya juga berjodoh. Barang dagangan diambil Silah dari rumah seorang ustaz yang tak lain guru agama Ibnu.

Seiring waktu, tahun 1999, Ibnu mulai aktif mengisi ceramah agama di kampus dan masjid.

Sang ustaz menilai, Ibnu sudah mapan dan pantas berkeluarga. Gurunya pula yang mencarikan calon pendampingnya.

Dimulai dari taaruf (perkenalan), Ibnu coba menahan rasa girangnya ketika menerima biodata calonnya, karena di situ tertulis nama Silah.

Tapi tak semudah itu, Silah sempat menolak. Alasannya, masih ada cita-cita yang ingin dikejarnya. Dari kuliah hingga menjadi dosen.

Baca Juga :  Sebulan Libur, Jadwal Manggung Artis Dangdut Penuh di Bulan Ini

Ketika Ibnu mendengar jawaban tersebut, ia mencoba teguh. Bersedia menunggu hingga Silah siap.

Akhirnya, tiga tahun berselang, Silah menerima pinangan Ibnu. Keduanya menikah dan diberkahi empat anak laki-laki.

Film pun selesai, ditutup dengan cuplikan ucapan ulang tahun dari keluarga, pejabat pemko hingga warga.

Diwawancara seusai pemutaran film, Ibnu tampak semringah. Ia tersanjung oleh hasil kerja para sineas muda Banua itu.

“Ini jadi kado ulang tahun 47 saya dan 19 tahun pernikahan kami. Semoga film ini bisa menginspirasi para penonton muda dalam mengejar cita-citanya,” ujarnya.

“Kami juga ingin menjadi contoh, model suami istri yang disatukan tidak melalui pacaran. Melainkan melalui taaruf. Kami berpacarannya setelah menikah,” tambahnya.

“Ini apresiasi bagi ruang budaya, sebuah kemajuan ekonomi kreatif di Kota Banjarmasin.

Khususnya dalam bidang sinematografi. Silakan semua berkreasi, meski di tengah pandemi, kita harus tetap produktif,” lanjutnya.

Syuting film ini hanya butuh sepekan. Tapi risetnya perlu enam bulan.

“Sebetulnya mau ditayangkan pas hari ulang tahun. Tapi karena ada kesibukan, jadi ditunda. Soal biaya penggarapan film ini tidak besar. Sekitar Rp10 juta. Memakai dana pribadi,” tutupnya.

Diangkat dari Buku Catatan Lama

Film berdurasi 26 menit diproduseri, disutradai dan naskahnya ditulis oleh Sitti Adhila Suprihana.

Perempuan yang akrab disapa Dhila itu mengatakan, film ini diangkat dari buku cacatan lama milik Wali Kota Banjarmasin tersebut.

Baca Juga :  Dari Layar Film Banjar, Kamera Ponsel pun Jadi!

“Dari catatan itu, saya menilai Pak Ibnu adalah sosok lelaki yang menjaga hatinya. Meski tertarik dengan seorang perempuan, ia tetap ingat dengan agamanya. Bahwa ada cara yang tepat untuk mengungkapkannya,” jelasnya.

Sebenarnya, Dhila ingin membuat film dengan durasi yang lebih panjang. Lantaran masih banyak hal yang bisa diambil dari buku catatan tersebut.

Namun, karena keterbatasan waktu dan dana, mereka memutuskan untuk fokus pada kisah pertemuan tersebut. “Dan ide yang ditawarkan kepada kami sedari awal memang mengangkat kisah asmaranya,” ungkapnya.

Dhila pun tak menyangka jika film ini bakal ditayangkan di bioskop. Sebelumnya, ia mengira hanya akan ditonton oleh keluarga Ibnu, sebagai kado ulang tahunnya.

“Kami tentu senang. Membuat kami bersemangat untuk membuat film lagi,” tekannya.

Sementara kedua aktor di film ini, M Rizqani yang berperan sebagai Ibnu dan Fatima Azizah yang berperan Silah, sempat tak menyangka diberikan kesempatan menjadi pemeran utama.

“Kaget, tapi juga senang,” ungkap keduanya berbarengan.

“Walaupun tidak berpengalaman dalam akting, tapi karena dibantu kru yang¬† berpengalaman, alhamdulilah berjalan lancar,” ungkap Rizkani.

“Ibu Wasilah itu orangnya kalem dan santun, berbanding terbalik dengan saya yang hiperaktif,” timpal Azizah. (war/at/fud)

Kisah cinta Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina dan istrinya Siti Wasilah difilmkan. Kemarin (5/1) pagi, film pendek itu diputar perdana di dua tempat. Di Kota Cinema Mall (KCM) dan Studio XXI Duta Mall.

***

BANJARMASIN – Tahun 1995, Ibnu ditunjuk seorang dosen mengawasi praktik mahasiswa di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Di situ lah Ibnu pertama kali bertemu Silah. Pada satu momen yang tak disengaja, keduanya sama-sama menoleh dan memandang.

Tapi, jauh sebelum itu, Ibnu sudah lebih dulu mendengar nama perempuan ini.

Bahwa Silah adalah seorang mahasiswi berprestasi. Selalu meraih nilai sempurna dalam kuliahnya dan sosok mandiri dalam kehidupan kesehariannya.

Bagaimana tidak, sembari menempuh pendidikan di perguruan ringgi, Silah bekerja sebagai penjual kue dan kitab agama.

Namanya juga berjodoh. Barang dagangan diambil Silah dari rumah seorang ustaz yang tak lain guru agama Ibnu.

Seiring waktu, tahun 1999, Ibnu mulai aktif mengisi ceramah agama di kampus dan masjid.

Sang ustaz menilai, Ibnu sudah mapan dan pantas berkeluarga. Gurunya pula yang mencarikan calon pendampingnya.

Dimulai dari taaruf (perkenalan), Ibnu coba menahan rasa girangnya ketika menerima biodata calonnya, karena di situ tertulis nama Silah.

Tapi tak semudah itu, Silah sempat menolak. Alasannya, masih ada cita-cita yang ingin dikejarnya. Dari kuliah hingga menjadi dosen.

Baca Juga :  Dari Layar Film Banjar, Kamera Ponsel pun Jadi!

Ketika Ibnu mendengar jawaban tersebut, ia mencoba teguh. Bersedia menunggu hingga Silah siap.

Akhirnya, tiga tahun berselang, Silah menerima pinangan Ibnu. Keduanya menikah dan diberkahi empat anak laki-laki.

Film pun selesai, ditutup dengan cuplikan ucapan ulang tahun dari keluarga, pejabat pemko hingga warga.

Diwawancara seusai pemutaran film, Ibnu tampak semringah. Ia tersanjung oleh hasil kerja para sineas muda Banua itu.

“Ini jadi kado ulang tahun 47 saya dan 19 tahun pernikahan kami. Semoga film ini bisa menginspirasi para penonton muda dalam mengejar cita-citanya,” ujarnya.

“Kami juga ingin menjadi contoh, model suami istri yang disatukan tidak melalui pacaran. Melainkan melalui taaruf. Kami berpacarannya setelah menikah,” tambahnya.

“Ini apresiasi bagi ruang budaya, sebuah kemajuan ekonomi kreatif di Kota Banjarmasin.

Khususnya dalam bidang sinematografi. Silakan semua berkreasi, meski di tengah pandemi, kita harus tetap produktif,” lanjutnya.

Syuting film ini hanya butuh sepekan. Tapi risetnya perlu enam bulan.

“Sebetulnya mau ditayangkan pas hari ulang tahun. Tapi karena ada kesibukan, jadi ditunda. Soal biaya penggarapan film ini tidak besar. Sekitar Rp10 juta. Memakai dana pribadi,” tutupnya.

Diangkat dari Buku Catatan Lama

Film berdurasi 26 menit diproduseri, disutradai dan naskahnya ditulis oleh Sitti Adhila Suprihana.

Perempuan yang akrab disapa Dhila itu mengatakan, film ini diangkat dari buku cacatan lama milik Wali Kota Banjarmasin tersebut.

Baca Juga :  Bioskop Cempaka, Spesialis Film Panas

“Dari catatan itu, saya menilai Pak Ibnu adalah sosok lelaki yang menjaga hatinya. Meski tertarik dengan seorang perempuan, ia tetap ingat dengan agamanya. Bahwa ada cara yang tepat untuk mengungkapkannya,” jelasnya.

Sebenarnya, Dhila ingin membuat film dengan durasi yang lebih panjang. Lantaran masih banyak hal yang bisa diambil dari buku catatan tersebut.

Namun, karena keterbatasan waktu dan dana, mereka memutuskan untuk fokus pada kisah pertemuan tersebut. “Dan ide yang ditawarkan kepada kami sedari awal memang mengangkat kisah asmaranya,” ungkapnya.

Dhila pun tak menyangka jika film ini bakal ditayangkan di bioskop. Sebelumnya, ia mengira hanya akan ditonton oleh keluarga Ibnu, sebagai kado ulang tahunnya.

“Kami tentu senang. Membuat kami bersemangat untuk membuat film lagi,” tekannya.

Sementara kedua aktor di film ini, M Rizqani yang berperan sebagai Ibnu dan Fatima Azizah yang berperan Silah, sempat tak menyangka diberikan kesempatan menjadi pemeran utama.

“Kaget, tapi juga senang,” ungkap keduanya berbarengan.

“Walaupun tidak berpengalaman dalam akting, tapi karena dibantu kru yang¬† berpengalaman, alhamdulilah berjalan lancar,” ungkap Rizkani.

“Ibu Wasilah itu orangnya kalem dan santun, berbanding terbalik dengan saya yang hiperaktif,” timpal Azizah. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/