alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Petani Batola Terancam Gagal Tanam

MARABAHAN – Tingginya curah hujan memicu ketinggian air di beberapa wilayah pertanian di Batola. Petani padi dan jagung di marabahan pun terancam gagal panen.

Di wilayah Ulu Benteng, hampir seluruh bibit padi tahunan tenggelam. Sarpin, petani setempat mengaku bibit semaiannya sudah dua kali gagal karena tenggelam oleh air pasang akibat hujan. “Baru-baru ini kembali melambak, tapi hujan datang, dan sawah kembali dalam. Lambakan mati lagi,” ujarnya.

Sarpin mengatakan, dirinya bersama petani lainnya memang terancam tidak bisa tanam pada tahun ini. Semua bibit yang dimulai dari manugal (pembibitan padi pertama kali) gagal. Apabila manugal lagi dari awal, maka waktu tanam yang akan terlambat. “Saat ini seharusnya lambakan sudah besar dan siap untuk dilacak (tahap pembibitan akhir sebelum dipecah lagi),” ujarnya.

Anton Suteno, petani jagung hibrida di Desa Sido Makmur Kecamatan Marabahan juga harus gigit jari. Jagung yang ditanamnya dengan luasan sekitar 4 hektare, terendam air. “Dipastikan gagal panen,” ujar Anton Suteno.

Anton mengatakan apabila dihitung secara menyeluruh, hampir ada sekitar 50 hektare jagung hibrida petani Desa Sido Makmur yang gagal panen. Termasuk 4 hektare lahan miliknya. Semua gagal dikarenakan semua jagung terendam. Baik yang sudah berumur dua bulan, satu bulan, ataupun baru seminggu tanam.

Anton mengakui pihaknya sempat berjuang. Berusaha mengeluarkan air yang ada di ladang dengan menggunakan mesin. Namun semua gagal dalam satu minggu belakangan. Curah hujan yang tinggi membuat debit air semakin tinggi. “Sabtu Minggu ini air sangat tinggi. Padahal dua Minggu sebelumnya sudah diusahakan menggunakan mesin sedot dari ukuran kecil hingga besar,” ceritanya.

Lelaki pekerja keras ini mengatakan, pihaknya banyak mengalami kerugian. Satu hektare lahan jagung hibrida Rp12 juta. “Kerugian saya sekitar Rp50 juta,” ujarnya.

Anton berharap kegagalan yang mereka alami ini, bisa dikompenasi pemerintah melalui bantuan. “Kami berharap ada bantuan dari dinas terkait agar petani jagung terus semangat,” ucapnya.

Sementara itu Murniati Kepala Dinas Pertanian TPH Batola tidak menampik adanya kerusakan tanaman akibat banjir. Terutama untuk padi unggul dan padi tahun. Dia mengungkapkan, berdasarkan data periode pengamatan 16-30 November, ada kerusakan persemaian padi akibat banjir. Terutama untuk padi unggul.

Di Batola tercatat sekitar 92.407 KG yang terendam. Dengan total 18.750 KG yang mati karena terendam. Sedangkan untuk padi tahunan, pihaknya belum mencat adanya penyemaian yang mati. Hanya terendam sekitar 3.052 KG.

Sedangkan untuk petani jagung hibrida yang mengalami gagal panen, pihaknya mengaku akan berusaha memberikan bantuan. Akan dilakukan usulan bantuan Saprodi ke Provinsi. (bar/by/ran)

MARABAHAN – Tingginya curah hujan memicu ketinggian air di beberapa wilayah pertanian di Batola. Petani padi dan jagung di marabahan pun terancam gagal panen.

Di wilayah Ulu Benteng, hampir seluruh bibit padi tahunan tenggelam. Sarpin, petani setempat mengaku bibit semaiannya sudah dua kali gagal karena tenggelam oleh air pasang akibat hujan. “Baru-baru ini kembali melambak, tapi hujan datang, dan sawah kembali dalam. Lambakan mati lagi,” ujarnya.

Sarpin mengatakan, dirinya bersama petani lainnya memang terancam tidak bisa tanam pada tahun ini. Semua bibit yang dimulai dari manugal (pembibitan padi pertama kali) gagal. Apabila manugal lagi dari awal, maka waktu tanam yang akan terlambat. “Saat ini seharusnya lambakan sudah besar dan siap untuk dilacak (tahap pembibitan akhir sebelum dipecah lagi),” ujarnya.

Anton Suteno, petani jagung hibrida di Desa Sido Makmur Kecamatan Marabahan juga harus gigit jari. Jagung yang ditanamnya dengan luasan sekitar 4 hektare, terendam air. “Dipastikan gagal panen,” ujar Anton Suteno.

Anton mengatakan apabila dihitung secara menyeluruh, hampir ada sekitar 50 hektare jagung hibrida petani Desa Sido Makmur yang gagal panen. Termasuk 4 hektare lahan miliknya. Semua gagal dikarenakan semua jagung terendam. Baik yang sudah berumur dua bulan, satu bulan, ataupun baru seminggu tanam.

Anton mengakui pihaknya sempat berjuang. Berusaha mengeluarkan air yang ada di ladang dengan menggunakan mesin. Namun semua gagal dalam satu minggu belakangan. Curah hujan yang tinggi membuat debit air semakin tinggi. “Sabtu Minggu ini air sangat tinggi. Padahal dua Minggu sebelumnya sudah diusahakan menggunakan mesin sedot dari ukuran kecil hingga besar,” ceritanya.

Lelaki pekerja keras ini mengatakan, pihaknya banyak mengalami kerugian. Satu hektare lahan jagung hibrida Rp12 juta. “Kerugian saya sekitar Rp50 juta,” ujarnya.

Anton berharap kegagalan yang mereka alami ini, bisa dikompenasi pemerintah melalui bantuan. “Kami berharap ada bantuan dari dinas terkait agar petani jagung terus semangat,” ucapnya.

Sementara itu Murniati Kepala Dinas Pertanian TPH Batola tidak menampik adanya kerusakan tanaman akibat banjir. Terutama untuk padi unggul dan padi tahun. Dia mengungkapkan, berdasarkan data periode pengamatan 16-30 November, ada kerusakan persemaian padi akibat banjir. Terutama untuk padi unggul.

Di Batola tercatat sekitar 92.407 KG yang terendam. Dengan total 18.750 KG yang mati karena terendam. Sedangkan untuk padi tahunan, pihaknya belum mencat adanya penyemaian yang mati. Hanya terendam sekitar 3.052 KG.

Sedangkan untuk petani jagung hibrida yang mengalami gagal panen, pihaknya mengaku akan berusaha memberikan bantuan. Akan dilakukan usulan bantuan Saprodi ke Provinsi. (bar/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/