alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Cuaca Ekstrem Ancam 7 Daerah di Kalsel

BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, (12/12) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Kalsel untuk Senin (13/12) dan Selasa (14/12).

Dalam peringatan tersebut menyebutkan, pada hari ini dan besok potensi hujan sedang hingga lebat masih terdapat hampir seluruh wilayah kota/kabupaten di Kalimantan Selatan.

“Kondisi ini perlu diwaspadai terutama antara siang dan sore hari serta pada dini hari,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Adhitya Prakoso.

Dia mengungkapkan, khusus untuk hari ini ada tujuh kabupaten/kota yang berpotensi diguyur hujan lebat. Yakni, Barito Kuala, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Tabalong.

Adhitya menyebut, tidak bersahabatnya cuaca belakangam ini karena dipengaruhi oleh sejumlah kondisi dinamika atmosfer. Di antaranya, La Nina yang berpotensi menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia. “La Nina juga dapat menyebabkan kondisi musim hujan yang lebih panjang dari normalnya,” sebutnya.

Selain La Nina, dia menjelaskan, cuaca saat ini juga dipengaruhi adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) yang berpotensi memupuk massa udara dan membentuk pumpunan awan di sekitar Kalimantan Selatan.

Di samping itu, kondisi udara lokal yang cukup labil serta kelembapan udara di lapisan atas yang cukup tinggi menurut Adhitya juga semakin menambah potensi terbentuknya banyak awan-awan penyebab hujan di wilayah Banua.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menuturkan, La Nina sudah masuk sejak Oktober 2021 dan diprakirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2022.

La Nina sendiri merupakan fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Diketahui El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya. Sementara, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Goeroeh menjelaskan, La Nina di Kalsel untuk dua bulan ke depan diprakirakan sifatnya akan didominasi normal hingga atas normal. Sedangkan curah hujan pada Desember 2021 dan Januari 2022 didominasi kriteria tinggi (300-400 mm).

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan gelombang pasang.

Status tersebut ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor yang berlaku selama 14 hari: sejak tanggal 3 hingga 16 Desember 2021.

Sebelumnya, Pemkab Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Utara (HSU) sudah lebih dulu menetapkan status yang sama, menyusul adanya peningkatan intensitas bencana di kedua wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat mengatakan, dengan ditetapkannya status tanggap darurat maka pemerintah dapat menggunakan dana dari belanja tidak terduga (BTT) yang bersumber dari APBD untuk penanganan kebencanaan.

“Anggaran penanganan bencana juga dapat diambil dari bantuan Dana Siap Pakai (DSP) pada APBN, serta bantuan dari sumber lain yang sah dan bersifat tidak mengikat,” katanya.

Apabila kejadian bencana semakin meningkat, lanjut Mujiyat, maka status tanggap darurat dapat diperpanjang dengan mengacu pada aturan yang berlaku. “Jika terjadi peningkatan intensitas bencana, maka kita akan perpanjang lagi statusnya,” imbuhnya.

Dia berharap, dengan adanya penetapan status ini, penanganan bencana di Kalsel bisa lebih maksimal, sehingga dampak yang dirasakan masyarakat dapat diminimalisir.

Terlepas dari penetapan status tanggap darurat, pihaknya tambah Mujiyat, telah mengirimkan bantuan alat berat untuk membersihkan sisa-sisa banjir di Kabupaten HST.

Selain itu, personel Tim Reaksi Cepat dan Tagana Kalsel juga telah dikirim ke lokasi bencana untuk membantu tim yang disiapkan pemerintah daerah setempat. “Kita sesuai arahan gubernur bergerak cepat membantu penanganan bencana,” papar Mujiyat.

Untuk kondisi saat ini, dia menyampaikan, banjir yang sebelumnya terjadi di beberapa daerah kini sudah surut. Namun menurutnya kewaspadaan harus tetap ada, karena cuaca ekstrem masih berpotensi. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, (12/12) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Kalsel untuk Senin (13/12) dan Selasa (14/12).

Dalam peringatan tersebut menyebutkan, pada hari ini dan besok potensi hujan sedang hingga lebat masih terdapat hampir seluruh wilayah kota/kabupaten di Kalimantan Selatan.

“Kondisi ini perlu diwaspadai terutama antara siang dan sore hari serta pada dini hari,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Adhitya Prakoso.

Dia mengungkapkan, khusus untuk hari ini ada tujuh kabupaten/kota yang berpotensi diguyur hujan lebat. Yakni, Barito Kuala, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Tabalong.

Adhitya menyebut, tidak bersahabatnya cuaca belakangam ini karena dipengaruhi oleh sejumlah kondisi dinamika atmosfer. Di antaranya, La Nina yang berpotensi menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia. “La Nina juga dapat menyebabkan kondisi musim hujan yang lebih panjang dari normalnya,” sebutnya.

Selain La Nina, dia menjelaskan, cuaca saat ini juga dipengaruhi adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) yang berpotensi memupuk massa udara dan membentuk pumpunan awan di sekitar Kalimantan Selatan.

Di samping itu, kondisi udara lokal yang cukup labil serta kelembapan udara di lapisan atas yang cukup tinggi menurut Adhitya juga semakin menambah potensi terbentuknya banyak awan-awan penyebab hujan di wilayah Banua.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menuturkan, La Nina sudah masuk sejak Oktober 2021 dan diprakirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2022.

La Nina sendiri merupakan fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Diketahui El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya. Sementara, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Goeroeh menjelaskan, La Nina di Kalsel untuk dua bulan ke depan diprakirakan sifatnya akan didominasi normal hingga atas normal. Sedangkan curah hujan pada Desember 2021 dan Januari 2022 didominasi kriteria tinggi (300-400 mm).

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan gelombang pasang.

Status tersebut ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor yang berlaku selama 14 hari: sejak tanggal 3 hingga 16 Desember 2021.

Sebelumnya, Pemkab Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Utara (HSU) sudah lebih dulu menetapkan status yang sama, menyusul adanya peningkatan intensitas bencana di kedua wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat mengatakan, dengan ditetapkannya status tanggap darurat maka pemerintah dapat menggunakan dana dari belanja tidak terduga (BTT) yang bersumber dari APBD untuk penanganan kebencanaan.

“Anggaran penanganan bencana juga dapat diambil dari bantuan Dana Siap Pakai (DSP) pada APBN, serta bantuan dari sumber lain yang sah dan bersifat tidak mengikat,” katanya.

Apabila kejadian bencana semakin meningkat, lanjut Mujiyat, maka status tanggap darurat dapat diperpanjang dengan mengacu pada aturan yang berlaku. “Jika terjadi peningkatan intensitas bencana, maka kita akan perpanjang lagi statusnya,” imbuhnya.

Dia berharap, dengan adanya penetapan status ini, penanganan bencana di Kalsel bisa lebih maksimal, sehingga dampak yang dirasakan masyarakat dapat diminimalisir.

Terlepas dari penetapan status tanggap darurat, pihaknya tambah Mujiyat, telah mengirimkan bantuan alat berat untuk membersihkan sisa-sisa banjir di Kabupaten HST.

Selain itu, personel Tim Reaksi Cepat dan Tagana Kalsel juga telah dikirim ke lokasi bencana untuk membantu tim yang disiapkan pemerintah daerah setempat. “Kita sesuai arahan gubernur bergerak cepat membantu penanganan bencana,” papar Mujiyat.

Untuk kondisi saat ini, dia menyampaikan, banjir yang sebelumnya terjadi di beberapa daerah kini sudah surut. Namun menurutnya kewaspadaan harus tetap ada, karena cuaca ekstrem masih berpotensi. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/