alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Cakupan Lansia Hambat Target Vaksinasi

BANJARMASIN – Tak hanya empot-empotan mengejar 70 persen cakupan vaksinasi hingga akhir tahun, Satgas Covid-19 Kalsel juga dipusingkan belum maksimalnya capaian vaksinasi untuk lanjut usia (lansia). Data mereka menyebut, cakupan baru 33 persen.

“Berbagai upaya sudah kami lakukan. Dari memberikan sembako hingga yang lainnya agar sasaran lansia ini tinggi,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel, M Muslim kemarin.

Pihaknya menargetkan dari jumlah sasaran sekitar 200 ribu orang yang tervaksin sampai akhir tahun nanti prentasenya di atas 50 persen. “Meyakinkan lansia untuk divaksin berbeda perlakuannya dengan usia remaja dan produktif. Perlu strategi dan kesabaran,” imbuhnya.

Upaya untuk meningkatkan cakupan lansia sendiri, mulai dari memberikan bantuan hingga jemput bola ke daerah pelosok. “Buktinya ketika dilakukan dua kali vaksinasi bergerak lalu, daerah yang jauh juga kami sasar demi cakupan tinggi,” imbuhnya.

Dia berharap bupati dan walikota sebagai pemegang komando di daerah agar terus masif melakukan percepatan vaksinasi lansia ini. “Gubernur sangat mendukung. Bahkan sangat memperhatian. Jika vaksinatornya kurang, kami siap memfasilitasi,” ujar Muslim.

Capaian rendah sebutnya, ada di Kabupaten Banjar yang juga secara cakupan total menjadi daerah yang masih rendah. Cakupannya masih 20 persen. “Selain Kabupaten Banjar, Tanah Laut juga masih rendah,” terangnya.

Tanbu sebutnya adalah daerah dengan capaian tertinggi di cakupan lansia. Persentasenya mencapai 56 persen. Setelah itu disusul, Banjarbaru 50 persen dan 40 persen Kabupaten Balangan. “Banjarmasin juga masih terbilang rendah, baru sekitar 37 persen,” paparnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel ini menekankan, lambannya capaian lansia karena memang faktor kendala akses ke fasilitas kesehatan. “Makanya door to door terus digiatkan,” tukasnya.

Memberi pemahaman melalui pentingnya vaksin bagi lansia sebutnya sudah sering digaungkan. Seperti ketika ingin melakukan perjalanan ke luar daerah yang harus sudah tervaksin. “Salah satunya nanti ketika ingin umrah. Ini yang perlu diperhatikan para lansia dan keluarganya,” cetusnya.

Kabar miring dampak vaksinasi, sebutnya juga menjadi tantangan pihaknya untuk meyakinkan para lansia. “Membujuk dan meyakinkan lansia ini perlu ketelatenan dan kesabaran. Informasi hoaks membuat mereka semakin takut. Ini tak hanya terjadi di Kalsel, tapi hampir semua provinsi,” tandasnya.

Takut akan dampak vaksin, dituturkan Yuli, orang tuanya yang sudah berusia lanjut dikhawatirkannya berdampak dengan kesehatan. “Biar kami di keluarga saja. Kasihan ibu yang sudah tua ketika divaksin nanti merasakan meriang dan lemas seperti saya dulu. Takutnya malah muncul penyakit tua,” ujarnya memberi alasan. (mof/by/ran)

BANJARMASIN – Tak hanya empot-empotan mengejar 70 persen cakupan vaksinasi hingga akhir tahun, Satgas Covid-19 Kalsel juga dipusingkan belum maksimalnya capaian vaksinasi untuk lanjut usia (lansia). Data mereka menyebut, cakupan baru 33 persen.

“Berbagai upaya sudah kami lakukan. Dari memberikan sembako hingga yang lainnya agar sasaran lansia ini tinggi,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel, M Muslim kemarin.

Pihaknya menargetkan dari jumlah sasaran sekitar 200 ribu orang yang tervaksin sampai akhir tahun nanti prentasenya di atas 50 persen. “Meyakinkan lansia untuk divaksin berbeda perlakuannya dengan usia remaja dan produktif. Perlu strategi dan kesabaran,” imbuhnya.

Upaya untuk meningkatkan cakupan lansia sendiri, mulai dari memberikan bantuan hingga jemput bola ke daerah pelosok. “Buktinya ketika dilakukan dua kali vaksinasi bergerak lalu, daerah yang jauh juga kami sasar demi cakupan tinggi,” imbuhnya.

Dia berharap bupati dan walikota sebagai pemegang komando di daerah agar terus masif melakukan percepatan vaksinasi lansia ini. “Gubernur sangat mendukung. Bahkan sangat memperhatian. Jika vaksinatornya kurang, kami siap memfasilitasi,” ujar Muslim.

Capaian rendah sebutnya, ada di Kabupaten Banjar yang juga secara cakupan total menjadi daerah yang masih rendah. Cakupannya masih 20 persen. “Selain Kabupaten Banjar, Tanah Laut juga masih rendah,” terangnya.

Tanbu sebutnya adalah daerah dengan capaian tertinggi di cakupan lansia. Persentasenya mencapai 56 persen. Setelah itu disusul, Banjarbaru 50 persen dan 40 persen Kabupaten Balangan. “Banjarmasin juga masih terbilang rendah, baru sekitar 37 persen,” paparnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel ini menekankan, lambannya capaian lansia karena memang faktor kendala akses ke fasilitas kesehatan. “Makanya door to door terus digiatkan,” tukasnya.

Memberi pemahaman melalui pentingnya vaksin bagi lansia sebutnya sudah sering digaungkan. Seperti ketika ingin melakukan perjalanan ke luar daerah yang harus sudah tervaksin. “Salah satunya nanti ketika ingin umrah. Ini yang perlu diperhatikan para lansia dan keluarganya,” cetusnya.

Kabar miring dampak vaksinasi, sebutnya juga menjadi tantangan pihaknya untuk meyakinkan para lansia. “Membujuk dan meyakinkan lansia ini perlu ketelatenan dan kesabaran. Informasi hoaks membuat mereka semakin takut. Ini tak hanya terjadi di Kalsel, tapi hampir semua provinsi,” tandasnya.

Takut akan dampak vaksin, dituturkan Yuli, orang tuanya yang sudah berusia lanjut dikhawatirkannya berdampak dengan kesehatan. “Biar kami di keluarga saja. Kasihan ibu yang sudah tua ketika divaksin nanti merasakan meriang dan lemas seperti saya dulu. Takutnya malah muncul penyakit tua,” ujarnya memberi alasan. (mof/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/