alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Nego Alot Warga Banjarsari dan Perusahaan Tambang

Suharti masih bertahan. Rp1,2 miliar yang dia tawarkan katanya sudah murah. Ganti rugi tanah seperempat hektare plus rumah yang sudah retak di pinggir lubang tambang.

– Oleh: Zalyan Shodiqin Abdi, Batulicin

Itik-itiknya baru saja bertelur. Biru bundar gemuk. Ditaruh di dalam wadah. “Ambil, bawa saja. Di sini banyak yang gak suka telur itik. Kebanyakan sukanya yang asin,” kata Suharti.

Akhir pekan tadi, penulis berkesempatan, kembali mengunjungi wanita paruh baya itu. Di dalam Desa Banjarsari Kecamatan Angsana.

Beberapa hari silam. Ular kobra masuk ke dapurnya. Lewat lubang di dinding. Lubang retakan akibat getaran tanah yang labil karena aktivitas tambang. Persis di belakang dapurnya.

“Makanya lubang retak kami tambal. Baru saja dikerjakan bapaknya anak-anak.”

Dinding itu retak sampai ke langit-langit. Persis di bagian dapur dan ruang utama. Yang ditambal hanya bagian bawah. Semen mereka tidak cukup.

“Kalau hujan air masuk,” tunjuknya ke salah satu sudut dapur. Dalam ruangan kecil itu ada tulisan tangan: ruang salat.

Luas lahan miliknya kurang lebih seperempat hektare. Di belakang ada kebun karet. Pohon-pohon itu sudah condong ke lubang tambang. Tanahnya melesak ke arah lubang. Tinggal menunggu waktu nampaknya.

Orang-orang dari PT Mandiri Borneo Prima Energi sudah menawar. Sayang harganya tidak masuk hitungan Suharti.

“Masak ditawar Rp500 juta. Cukup apa duit segitu sekarang. Ini juga kan saya korban,” beber wanita beranak dua bercucu tiga ini. Semua keturunannya itu perempuan semua.

Saat ini dia mengaku bingung. Mau mengadu ke mana. Mau sewa pengacara takut seperti cerita-cerita yang ia dengar. Sudah bayar mahal, ujung-ujung masalah tidak selesai.

“Kalau ke Bupati lapor bisa gak ya? Gimana caranya ketemu?” tanyanya lugu.

Dia tidak ingin seperti tetangganya, Sukarni. Istri Jumadi. Dibayar nyicil. Total Rp800 juta. Baru dibayar empat ratus. Tiga tahun menunggu sisa pembayaran sampai sekarang.

“Makanya saya gak mau tinggalkan rumah. Saya tunggu sampai pembayaran selesai,” kata Sukarni. Sembari membantu Suharti mengikat telur itik di rak.

Padahal dapur dan kamar mandi Sukarni sudah rubuh. Di dasar lubang tambang belakang rumahnya, terlihat bekas WC.

Banjarsari dulunya adalah kawasan transmigrasi. Puluhan tahun silam, transmigran asal Jawa Timur dan Jawa Barat merantau ke sana.

Tidak pernah terbayang oleh Sukarni yang Jawa dan Suharti yang Sunda. Kalau di dalam tanah mereka ada harta karun.

Mereka tahunya banyak alat berat masuk beberapa tahun silam. Orang-orang ramai menjual lahan mereka. Bahkan masjid di tengah desa dan kuburan pun dipindah.

Banyak orang menikmati hasil ganti rugi itu. Berumah di kota. Punya toko. Mobil-mobil pribadi parkir di halaman rumah warga desa bukan pemandangan asing.

Tapi tidak sedikit pula yang kecewa. Salah satunya adalah Kepala Dusun Hendra Herdiana. Akrab disapa Ujang. Bilang Ujang, rata-rata warga menyesal. Ganti rugi itu nyatanya tidak sebanding. Mereka kehilangan ketentraman seperti dulu.

Tanah yang sejatinya bisa dikelola jangka panjang terpaksa berganti dengan usaha kecil. Ujang mau tak mau harus merelakan tanahnya, berganti dengan usaha bengkel.

Kisah Ujang mirip dengan Suharti. Saat itu tanahnya sudah mau rubuh juga ke lubang tambang. Bersama beberapa rekannya dia menuntut bela. Adu urat leher ke kantor perusahaan tambang.

Perusahaan tambang yang didatangi Ujang lebih tinggi lagi kastanya. Berizin dari pemerintah pusat. Kalau perusahaan yang menambang di belakang rumah Suharti izinnya dari pemerintah daerah di 2015 silam.

Dirut PT Borneo Mandiri Prima Energi, Bambang Budiono membenarkan. Perusahaan sedang melakukan negosiasi dengan Suharti. Sebelumnya ia menyarankan, Suharti bisa turun harga. Dia mengaku sudah menghitung pasaran tanah di sana.

Kecamatan Angsana adalah salah satu surga tambang di Bumi Bersujud. Banyak perusahaan beroperasi di sana. Saking banyaknya, penulis tidak hapal semua nama mereka.

Di tepi jalan raya provinsi kemegahan tambang itu bisa terlihat. Truk besar mengangkut emas hitam seolah tidak pernah berhenti. Bergerak dari lokasi batu ke pelabuhan.

Desa-desa di Angsana beberapa terpisah oleh tambang. Kolam-kolam raksasa, pintu rumah yang angin-anginnya tertutup rapat jadi pemandangan biasa.

Jika sore hari, jalan raya macet. Bis besar mengangkut karyawan, mobil double cabin berlumpur, truk yang masuk work house hilir mudik. Rumah-rumah makan sibuk melayani tamu.

Pemandangan seperti itu awalnya ada di Desa Sungai Danau Kecamatan Satui. Ketika potensi batu mulai habis, para pendatang satu-satu pulang. Gadis-gadis karaoke yang biasa memanjakan diri di salon, sudah tidak sebanyak dulu. Yang mulai bertambah adalah ruko atau rumah bertulisan: dijual.

Batu bara merupakan proses alam jutaan tahun. Jika pemerintah tidak arif mengatur regulasinya, kekayaan alam itu, gempitanya, hanya akan dinikmati sesaat. Cukup beberapa daerah saja yang jadi contoh, mati suri karena pengelolaan hasil keuntungan tambang yang tidak tepat sasaran. (*)

Suharti masih bertahan. Rp1,2 miliar yang dia tawarkan katanya sudah murah. Ganti rugi tanah seperempat hektare plus rumah yang sudah retak di pinggir lubang tambang.

– Oleh: Zalyan Shodiqin Abdi, Batulicin

Itik-itiknya baru saja bertelur. Biru bundar gemuk. Ditaruh di dalam wadah. “Ambil, bawa saja. Di sini banyak yang gak suka telur itik. Kebanyakan sukanya yang asin,” kata Suharti.

Akhir pekan tadi, penulis berkesempatan, kembali mengunjungi wanita paruh baya itu. Di dalam Desa Banjarsari Kecamatan Angsana.

Beberapa hari silam. Ular kobra masuk ke dapurnya. Lewat lubang di dinding. Lubang retakan akibat getaran tanah yang labil karena aktivitas tambang. Persis di belakang dapurnya.

“Makanya lubang retak kami tambal. Baru saja dikerjakan bapaknya anak-anak.”

Dinding itu retak sampai ke langit-langit. Persis di bagian dapur dan ruang utama. Yang ditambal hanya bagian bawah. Semen mereka tidak cukup.

“Kalau hujan air masuk,” tunjuknya ke salah satu sudut dapur. Dalam ruangan kecil itu ada tulisan tangan: ruang salat.

Luas lahan miliknya kurang lebih seperempat hektare. Di belakang ada kebun karet. Pohon-pohon itu sudah condong ke lubang tambang. Tanahnya melesak ke arah lubang. Tinggal menunggu waktu nampaknya.

Orang-orang dari PT Mandiri Borneo Prima Energi sudah menawar. Sayang harganya tidak masuk hitungan Suharti.

“Masak ditawar Rp500 juta. Cukup apa duit segitu sekarang. Ini juga kan saya korban,” beber wanita beranak dua bercucu tiga ini. Semua keturunannya itu perempuan semua.

Saat ini dia mengaku bingung. Mau mengadu ke mana. Mau sewa pengacara takut seperti cerita-cerita yang ia dengar. Sudah bayar mahal, ujung-ujung masalah tidak selesai.

“Kalau ke Bupati lapor bisa gak ya? Gimana caranya ketemu?” tanyanya lugu.

Dia tidak ingin seperti tetangganya, Sukarni. Istri Jumadi. Dibayar nyicil. Total Rp800 juta. Baru dibayar empat ratus. Tiga tahun menunggu sisa pembayaran sampai sekarang.

“Makanya saya gak mau tinggalkan rumah. Saya tunggu sampai pembayaran selesai,” kata Sukarni. Sembari membantu Suharti mengikat telur itik di rak.

Padahal dapur dan kamar mandi Sukarni sudah rubuh. Di dasar lubang tambang belakang rumahnya, terlihat bekas WC.

Banjarsari dulunya adalah kawasan transmigrasi. Puluhan tahun silam, transmigran asal Jawa Timur dan Jawa Barat merantau ke sana.

Tidak pernah terbayang oleh Sukarni yang Jawa dan Suharti yang Sunda. Kalau di dalam tanah mereka ada harta karun.

Mereka tahunya banyak alat berat masuk beberapa tahun silam. Orang-orang ramai menjual lahan mereka. Bahkan masjid di tengah desa dan kuburan pun dipindah.

Banyak orang menikmati hasil ganti rugi itu. Berumah di kota. Punya toko. Mobil-mobil pribadi parkir di halaman rumah warga desa bukan pemandangan asing.

Tapi tidak sedikit pula yang kecewa. Salah satunya adalah Kepala Dusun Hendra Herdiana. Akrab disapa Ujang. Bilang Ujang, rata-rata warga menyesal. Ganti rugi itu nyatanya tidak sebanding. Mereka kehilangan ketentraman seperti dulu.

Tanah yang sejatinya bisa dikelola jangka panjang terpaksa berganti dengan usaha kecil. Ujang mau tak mau harus merelakan tanahnya, berganti dengan usaha bengkel.

Kisah Ujang mirip dengan Suharti. Saat itu tanahnya sudah mau rubuh juga ke lubang tambang. Bersama beberapa rekannya dia menuntut bela. Adu urat leher ke kantor perusahaan tambang.

Perusahaan tambang yang didatangi Ujang lebih tinggi lagi kastanya. Berizin dari pemerintah pusat. Kalau perusahaan yang menambang di belakang rumah Suharti izinnya dari pemerintah daerah di 2015 silam.

Dirut PT Borneo Mandiri Prima Energi, Bambang Budiono membenarkan. Perusahaan sedang melakukan negosiasi dengan Suharti. Sebelumnya ia menyarankan, Suharti bisa turun harga. Dia mengaku sudah menghitung pasaran tanah di sana.

Kecamatan Angsana adalah salah satu surga tambang di Bumi Bersujud. Banyak perusahaan beroperasi di sana. Saking banyaknya, penulis tidak hapal semua nama mereka.

Di tepi jalan raya provinsi kemegahan tambang itu bisa terlihat. Truk besar mengangkut emas hitam seolah tidak pernah berhenti. Bergerak dari lokasi batu ke pelabuhan.

Desa-desa di Angsana beberapa terpisah oleh tambang. Kolam-kolam raksasa, pintu rumah yang angin-anginnya tertutup rapat jadi pemandangan biasa.

Jika sore hari, jalan raya macet. Bis besar mengangkut karyawan, mobil double cabin berlumpur, truk yang masuk work house hilir mudik. Rumah-rumah makan sibuk melayani tamu.

Pemandangan seperti itu awalnya ada di Desa Sungai Danau Kecamatan Satui. Ketika potensi batu mulai habis, para pendatang satu-satu pulang. Gadis-gadis karaoke yang biasa memanjakan diri di salon, sudah tidak sebanyak dulu. Yang mulai bertambah adalah ruko atau rumah bertulisan: dijual.

Batu bara merupakan proses alam jutaan tahun. Jika pemerintah tidak arif mengatur regulasinya, kekayaan alam itu, gempitanya, hanya akan dinikmati sesaat. Cukup beberapa daerah saja yang jadi contoh, mati suri karena pengelolaan hasil keuntungan tambang yang tidak tepat sasaran. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/