alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Upaya Banjarbaru Mencegah Banjir: Dua Selesai, Sisanya Masih Dikerjakan

BANJARBARU – Beberapa waktu lalu, luapan air kembali menggenang sejumlah wilayah di Banjarbaru. Pemicu utamanya yakni guyuran hujan deras yang turun cukup lama.

Selain faktor alam, kesiapan infrastruktur yang dibangun pemerintah daerah tentunya tak bisa diabaikan. Apalagi awal tahun 2021 lalu, banjir parah yang terjadi harusnya jadi evaluasi pemerintah untuk berupaya menanggulanginya.

Pemko Banjarbaru melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengklaim sudah melakukan upaya. Program jangka pendek dan yang sudah dikerjakan yakni normalisasi aliran sungai yang kerap meluber.

Kepala Bidang SDA DPUPR Banjarbaru, Subrianto mengurai saat ini fokus normalisasi menyasar wilayah Cempaka. Maklum, kawasan ini memang kerap langganan diterjang banjir.

“Kawasan lain sebenarnya juga kita benahi, misalnya wilayah Kemuning ataupun titik rawan lain di Landasan Ulin dan Liang Anggang. Tapi memang Cempaka salah satu fokus utama kita terkait banjir ini,” katanya.

Khusus di Cempaka, bidangnya aku Subri menormalisasi empat aliran sungai. Ada di Sungai Ujung Murung, Sungai Dadap, Sungai Handil Kyai dan Sungai Daya Sakti. Keempatnya kerap meluber ketika debit air lagi tinggi-tingginya.

“Dua sudah selesai. Kini dua masih kita kerjakan, yakni di kawasan Ujung Murung dan juga di saluran Daya Sakti. Semuanya kita normalisasi untuk mereduksi ancaman banjir,” katanya.

Disinggung soal masih terjadinya luapan di sebagian wilayah Cempaka pada tanggal 11 November lalu. Subri menjawab jika memang sejumlah kendala yang membuat upaya mereka terdampak.

Misalnya cerita Subri bahwa luapan lalu dikarenakan tidak optimalnya kinerja dari sungai Kuranji. Hal ini ceritanya dipicu adanya hambatan arus pembuangan limpasan karena ada bangunan-bangunan yang menjorok ke badan sungai.

“Sama seperti tahun sebelumnya kendala kita adalah tidak bisa melakukan pelebaran sungai Kuranji. Karena banyak rumah warga di bantaran sungai. Selain itu bagian tiang juga masuk aliran sehingga menghambat pembuangannya,” akunya.

Tetapi, meski masih ada kendala dalam hal ini. Subri masih optimistis jika normalisasi empat sungai yang mereka garap akan berefek terhadap mencegah banjir meluap hebat.

“Jika intensitasnya tinggi mungkin tetap akan memicu luapan, tetapi kita analisa tak akan separah tahun lalu, minimal cepat surut karena aliran-aliran sungai yang selama ini terhambat sudah kita normalisasi,” ujarnya.

Lalu, apakah normalisasi ini bisa dikatakan efektif dalam mereduksi ancaman luapan? Subri tak mau sesumbar. Sebab saat ini pihaknya belum bisa melihat efektivitasnya karena belum ada terjadi intensitas hujan yang sangat tinggi.

“Nanti akan kelihatan jika ada intensitas tinggi, apakah normalisasi efektif atau tidak. Yang jelas dalam upaya mencegah banjir dalam waktu dekat dan cepat, normalisasi ini adalah upaya yang bisa kita lakukan,” pungkasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Beberapa waktu lalu, luapan air kembali menggenang sejumlah wilayah di Banjarbaru. Pemicu utamanya yakni guyuran hujan deras yang turun cukup lama.

Selain faktor alam, kesiapan infrastruktur yang dibangun pemerintah daerah tentunya tak bisa diabaikan. Apalagi awal tahun 2021 lalu, banjir parah yang terjadi harusnya jadi evaluasi pemerintah untuk berupaya menanggulanginya.

Pemko Banjarbaru melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengklaim sudah melakukan upaya. Program jangka pendek dan yang sudah dikerjakan yakni normalisasi aliran sungai yang kerap meluber.

Kepala Bidang SDA DPUPR Banjarbaru, Subrianto mengurai saat ini fokus normalisasi menyasar wilayah Cempaka. Maklum, kawasan ini memang kerap langganan diterjang banjir.

“Kawasan lain sebenarnya juga kita benahi, misalnya wilayah Kemuning ataupun titik rawan lain di Landasan Ulin dan Liang Anggang. Tapi memang Cempaka salah satu fokus utama kita terkait banjir ini,” katanya.

Khusus di Cempaka, bidangnya aku Subri menormalisasi empat aliran sungai. Ada di Sungai Ujung Murung, Sungai Dadap, Sungai Handil Kyai dan Sungai Daya Sakti. Keempatnya kerap meluber ketika debit air lagi tinggi-tingginya.

“Dua sudah selesai. Kini dua masih kita kerjakan, yakni di kawasan Ujung Murung dan juga di saluran Daya Sakti. Semuanya kita normalisasi untuk mereduksi ancaman banjir,” katanya.

Disinggung soal masih terjadinya luapan di sebagian wilayah Cempaka pada tanggal 11 November lalu. Subri menjawab jika memang sejumlah kendala yang membuat upaya mereka terdampak.

Misalnya cerita Subri bahwa luapan lalu dikarenakan tidak optimalnya kinerja dari sungai Kuranji. Hal ini ceritanya dipicu adanya hambatan arus pembuangan limpasan karena ada bangunan-bangunan yang menjorok ke badan sungai.

“Sama seperti tahun sebelumnya kendala kita adalah tidak bisa melakukan pelebaran sungai Kuranji. Karena banyak rumah warga di bantaran sungai. Selain itu bagian tiang juga masuk aliran sehingga menghambat pembuangannya,” akunya.

Tetapi, meski masih ada kendala dalam hal ini. Subri masih optimistis jika normalisasi empat sungai yang mereka garap akan berefek terhadap mencegah banjir meluap hebat.

“Jika intensitasnya tinggi mungkin tetap akan memicu luapan, tetapi kita analisa tak akan separah tahun lalu, minimal cepat surut karena aliran-aliran sungai yang selama ini terhambat sudah kita normalisasi,” ujarnya.

Lalu, apakah normalisasi ini bisa dikatakan efektif dalam mereduksi ancaman luapan? Subri tak mau sesumbar. Sebab saat ini pihaknya belum bisa melihat efektivitasnya karena belum ada terjadi intensitas hujan yang sangat tinggi.

“Nanti akan kelihatan jika ada intensitas tinggi, apakah normalisasi efektif atau tidak. Yang jelas dalam upaya mencegah banjir dalam waktu dekat dan cepat, normalisasi ini adalah upaya yang bisa kita lakukan,” pungkasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/