alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Pengamat: Kembalikan Makan Konate

BANJARMASIN – Penampilan Barito Putera yang angin-anginan musim ini menempatkan rasa waswas di benak suporter. Usai menang besar atas Persiraja Banda Aceh, Barito justru mengalami dua kekalahan beruntun dari Arema FC dan Madura United. Imbasnya, The Yellow Rivers masih berada di posisi 14 klasemen sementara dengan koleksi 12 poin.

Kondisi ini jelas bukan situasi yang ideal bagi anak asuh Djajang Nurjaman. Jika tidak segera berbenah, klub kebanggaan Urang Banua ini terancam bisa turun kasta di akhir musim.

Pengamat Barito Putera dan sepak bola Banua, Zainal Hakim menyebut satu faktor yang menyebabkan Barito kesulitan adalah hilangnya sosok playmaker yang bisa mendikte alur serangan, dan piawai dalam mendistribusikan bola. “Karena tidak mempunyai playmaker murni, terlihat serangan hanya bertumpu pada sektor sayap. Tidak ada variasi serangan menusuk dari tengah,” ucapnya.

Serangan selalu didominasi pelari cepat yang biasa melebar ke sayap seperti Rizky Pora, Amrizal Umanailo, Ferdiansyah, Beni Oktavianto, dan Rafly Ariyanto. Hal ini jelas menjadi warning tersendiri mengingat pola tersebut sudah mulai diantisipasi lawan.

Dari komposisi gelandang, tidak ada pemain yang bersatus playmaker murni. Buyung Ismu Lessy memang memiliki tipe permainan yang lebih menyerang. Namun minimnya jam terbang dan usia yang masih muda membuatnya harus banyak belajar lagi.

Krisis di sektor playmaker kian jelas terpampang saat pelatih Djajang Nurjaman memilih mempercayakan tugas tersebut pada M Rafi Syarahil. Padahal, posisi alami Rafi merupakan gelandang bertahan. Itu kerap diperankannya di era Jacksen F Tiago, serta saat bersama Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri beberapa waktu lalu.

Bak mencari kepingan puzzle yang hilang, Barito harus bisa mendaratkan setidaknya satu playmaker. Menurut Hakim, problem tersebut bisa teratasi dengan hadirnya sosok jenderal lapangan tengah dengan kemampuan mumpuni dalam hal stamina, visi bermain, pintar mendistribusikan bola, piawai dalam mencari celah, dan bahkan handal dalam melepas tembakan ke gawang.

Jika merujuk pada satu nama, Hakim tidak ragu merekomendasikan Makan Konate. Pria asal Mali itu memiliki hampir semua atribut yang dibutuhkan oleh seorang playmaker. “Makan Konate punya naluri mencetak gol bagus, baik dari open play maupun dari bola mati. Nilai plusnya, Makan Konate juga bisa jadi tembok pertama yang memutus alur serangan lawan sebelum menyentuh area pertahanan Barito Putera,” ujar Hakim.

Makan Kanote sejatinya bukan wajah baru di Barito. Pemain yang pernah memperkuat PSPS Pekanbaru, Persib Bandung, Arema FC, dan Persebaya itu pernah berseragam Barito pada musim 2013 lalu dengan membukukan enam gol, dan mampu membawa Barito bertengger di peringkat enam klasemen akhir.

Asa untuk memboyong kembali sang playmaker terbuka lebar. Kabarnya, Makan akan dilepas klubnya Terengganu FC.(bir/gr/dye)

BANJARMASIN – Penampilan Barito Putera yang angin-anginan musim ini menempatkan rasa waswas di benak suporter. Usai menang besar atas Persiraja Banda Aceh, Barito justru mengalami dua kekalahan beruntun dari Arema FC dan Madura United. Imbasnya, The Yellow Rivers masih berada di posisi 14 klasemen sementara dengan koleksi 12 poin.

Kondisi ini jelas bukan situasi yang ideal bagi anak asuh Djajang Nurjaman. Jika tidak segera berbenah, klub kebanggaan Urang Banua ini terancam bisa turun kasta di akhir musim.

Pengamat Barito Putera dan sepak bola Banua, Zainal Hakim menyebut satu faktor yang menyebabkan Barito kesulitan adalah hilangnya sosok playmaker yang bisa mendikte alur serangan, dan piawai dalam mendistribusikan bola. “Karena tidak mempunyai playmaker murni, terlihat serangan hanya bertumpu pada sektor sayap. Tidak ada variasi serangan menusuk dari tengah,” ucapnya.

Serangan selalu didominasi pelari cepat yang biasa melebar ke sayap seperti Rizky Pora, Amrizal Umanailo, Ferdiansyah, Beni Oktavianto, dan Rafly Ariyanto. Hal ini jelas menjadi warning tersendiri mengingat pola tersebut sudah mulai diantisipasi lawan.

Dari komposisi gelandang, tidak ada pemain yang bersatus playmaker murni. Buyung Ismu Lessy memang memiliki tipe permainan yang lebih menyerang. Namun minimnya jam terbang dan usia yang masih muda membuatnya harus banyak belajar lagi.

Krisis di sektor playmaker kian jelas terpampang saat pelatih Djajang Nurjaman memilih mempercayakan tugas tersebut pada M Rafi Syarahil. Padahal, posisi alami Rafi merupakan gelandang bertahan. Itu kerap diperankannya di era Jacksen F Tiago, serta saat bersama Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri beberapa waktu lalu.

Bak mencari kepingan puzzle yang hilang, Barito harus bisa mendaratkan setidaknya satu playmaker. Menurut Hakim, problem tersebut bisa teratasi dengan hadirnya sosok jenderal lapangan tengah dengan kemampuan mumpuni dalam hal stamina, visi bermain, pintar mendistribusikan bola, piawai dalam mencari celah, dan bahkan handal dalam melepas tembakan ke gawang.

Jika merujuk pada satu nama, Hakim tidak ragu merekomendasikan Makan Konate. Pria asal Mali itu memiliki hampir semua atribut yang dibutuhkan oleh seorang playmaker. “Makan Konate punya naluri mencetak gol bagus, baik dari open play maupun dari bola mati. Nilai plusnya, Makan Konate juga bisa jadi tembok pertama yang memutus alur serangan lawan sebelum menyentuh area pertahanan Barito Putera,” ujar Hakim.

Makan Kanote sejatinya bukan wajah baru di Barito. Pemain yang pernah memperkuat PSPS Pekanbaru, Persib Bandung, Arema FC, dan Persebaya itu pernah berseragam Barito pada musim 2013 lalu dengan membukukan enam gol, dan mampu membawa Barito bertengger di peringkat enam klasemen akhir.

Asa untuk memboyong kembali sang playmaker terbuka lebar. Kabarnya, Makan akan dilepas klubnya Terengganu FC.(bir/gr/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

GOR Hasanuddin Memerah

Kejurprov Atletik Dihelat Agustus

/