alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

SLB Tepis Anggapan Sumbangan Konsumsi

BANJARBARU – Kepala SLB-C Negeri Pembina Rosita Sari bersama Wakesek Bidang Humas, Sihadi dan Ketua Komite, Novita, kemarin (30/11) datang ke Kantor Pusat Radar Banjarmasin untuk mengklarifikasi berita terkait sumbangan konsumsi yang dikeluhkan orang tua.

Kepala SLB-C Negeri Pembina Rosita Sari menegaskan, konsumsi yang tertera dalam surat edaran (SE) perihal permintaan partisipasi orang tua/wali murid dalam kegiatan Hari Disabilitas 2021 bukanlah sumbangan wajib.

Selain itu, dia juga meluruskan kesalahpahaman beberapa orang tua terkait jumlah porsi makanannya. “Bukan 60 porsi per kelas, tapi per jenjang. Setiap jenjang ada 20 sampai 30 kelas,” ujarnya.

Kemudian, Rosita juga meluruskan terkait biaya menebus baju seragam Rp380 ribu yang dianggap mahal oleh orang tua. Menurutnya, mahal atau tidaknya harus dilihat dulu jenis seragamnya. “Seragam itu luas. Karena biasanya ada yang putih abu-abu, juga SD,” jelasnya.

Sedangkan, seragam yang akan mereka pesankan ialah berupa baju olahraga dan sasirangan. Di mana harganya memang mencapai Rp380 ribu. “200 ribu untuk baju olahraga ukuran besar, dan 180 ribu sasirangan karena kainnya saja 110 ribu. Belum lagi upahnya,” papar Rosita.

Lanjutnya, sekolah sendiri berinisiatif memesankan baju olahraga dan sasirangan karena banyak orang tua yang meminta. “Baju anak-anak banyak yang sudah kekecilan. Sedangkan anggaran sudah tidak ada lagi, makanya kami fasilitasi untuk memesankan,” katanya.

Di samping persoalan seragam, Rosita juga menjelaskan terkait anggaran untuk makanan bergizi. Dia menegaskan bahwa dana masih ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel. “Kami tidak ingin mengotak-atik anggaran itu, karena selama pandemi sekolah dilaksanakan secara daring,” jelasnya.

Jumlahnya pun ujar dia tidak sampai Rp1,5 juta.”Itu digunakan saat sebelum pandemi,” ujarnya.

Wakesek Bidang Humas, Sihadi turut mengklarifikasi terkait surat edaran (SE) perihal permintaan partisipasi orang tua/wali murid soal konsumsi dalam kegiatan Hari Disabilitas 2021.

Menurutnya, SE hanya berupa pemberitahuan dan masih dalam proses. “Jadi belum ada keputusan orang tua harus menyumbang. Itu baru untuk mengumpulkan informasi yang nantinya dibahas pada rapat Kamis (2/12) nanti,” bebernya.

Event Hari Disabilitas Internasional sendiri kata dia, selama ini tidak pernah dikeluhkan. Justru semua orang tua antusias.

Sementara itu, Ketua Komite, Novita menuturkan, sebelumnya memang ada beberapa orang tua yang mengeluhkan karena kurang memahami terkait jumlah porsi makanan yang disumbangkan. “Beberapa mengira 60 porsi per kelas, tapi setelah dilihat benar-benar ternyata per jenjang,” tuturnya.

Dari situ, dia mengaku telah menjelaskan ke beberapa orang tua terkait jumlah porsi makanan tersebut. “Tapi memang masih ada beberapa yang belum mengerti,” pungkasnya. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Kepala SLB-C Negeri Pembina Rosita Sari bersama Wakesek Bidang Humas, Sihadi dan Ketua Komite, Novita, kemarin (30/11) datang ke Kantor Pusat Radar Banjarmasin untuk mengklarifikasi berita terkait sumbangan konsumsi yang dikeluhkan orang tua.

Kepala SLB-C Negeri Pembina Rosita Sari menegaskan, konsumsi yang tertera dalam surat edaran (SE) perihal permintaan partisipasi orang tua/wali murid dalam kegiatan Hari Disabilitas 2021 bukanlah sumbangan wajib.

Selain itu, dia juga meluruskan kesalahpahaman beberapa orang tua terkait jumlah porsi makanannya. “Bukan 60 porsi per kelas, tapi per jenjang. Setiap jenjang ada 20 sampai 30 kelas,” ujarnya.

Kemudian, Rosita juga meluruskan terkait biaya menebus baju seragam Rp380 ribu yang dianggap mahal oleh orang tua. Menurutnya, mahal atau tidaknya harus dilihat dulu jenis seragamnya. “Seragam itu luas. Karena biasanya ada yang putih abu-abu, juga SD,” jelasnya.

Sedangkan, seragam yang akan mereka pesankan ialah berupa baju olahraga dan sasirangan. Di mana harganya memang mencapai Rp380 ribu. “200 ribu untuk baju olahraga ukuran besar, dan 180 ribu sasirangan karena kainnya saja 110 ribu. Belum lagi upahnya,” papar Rosita.

Lanjutnya, sekolah sendiri berinisiatif memesankan baju olahraga dan sasirangan karena banyak orang tua yang meminta. “Baju anak-anak banyak yang sudah kekecilan. Sedangkan anggaran sudah tidak ada lagi, makanya kami fasilitasi untuk memesankan,” katanya.

Di samping persoalan seragam, Rosita juga menjelaskan terkait anggaran untuk makanan bergizi. Dia menegaskan bahwa dana masih ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel. “Kami tidak ingin mengotak-atik anggaran itu, karena selama pandemi sekolah dilaksanakan secara daring,” jelasnya.

Jumlahnya pun ujar dia tidak sampai Rp1,5 juta.”Itu digunakan saat sebelum pandemi,” ujarnya.

Wakesek Bidang Humas, Sihadi turut mengklarifikasi terkait surat edaran (SE) perihal permintaan partisipasi orang tua/wali murid soal konsumsi dalam kegiatan Hari Disabilitas 2021.

Menurutnya, SE hanya berupa pemberitahuan dan masih dalam proses. “Jadi belum ada keputusan orang tua harus menyumbang. Itu baru untuk mengumpulkan informasi yang nantinya dibahas pada rapat Kamis (2/12) nanti,” bebernya.

Event Hari Disabilitas Internasional sendiri kata dia, selama ini tidak pernah dikeluhkan. Justru semua orang tua antusias.

Sementara itu, Ketua Komite, Novita menuturkan, sebelumnya memang ada beberapa orang tua yang mengeluhkan karena kurang memahami terkait jumlah porsi makanan yang disumbangkan. “Beberapa mengira 60 porsi per kelas, tapi setelah dilihat benar-benar ternyata per jenjang,” tuturnya.

Dari situ, dia mengaku telah menjelaskan ke beberapa orang tua terkait jumlah porsi makanan tersebut. “Tapi memang masih ada beberapa yang belum mengerti,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Pikap Tabrak Pohon, Sopir Terjepit

BPK adalah Aset Kota

Keluarga Sudah Ikhlas

Izin Kafe, Isi Karaoke

Dompet dan Handphone Sasaran Copet

/