alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Sejumlah Daerah Berpotensi Banjir

BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, kemarin (21/11) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Kalsel untuk hari ini (22/11) dan besok (23/11).

Dalam peringatan tersebut menyebutkan, pada dua hari ke depan sejumlah daerah di Banua berpotensi diterjang banjir lantaran diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Rizqi Nur Fitriani mengatakan, berdasarkan data mereka pada hari ini diprakirakan terdapat potensi banjir dalam tingkat waspada di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Utara.

Kemudian pada esok hari, dia menuturkan, mengacu peringatan dini cuaca ekstrem harian terdapat potensi banjir di wilayah Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Tengah.

Terkait adanya potensi banjir tersebut, Rizqi mengimbau agar masyarakat selalu waspada apabila daerahnya diguyur hujan deras. “Apalagi secara umum cuaca tiga hari ke depan di Kalsel diprakirakan berawan hingga hujan lebat,” imbaunya.

Tingginya curah hujan sendiri menurutnya, dikarenakan adanya daerah Low Pressure di selatan Jawa yang secara tidak langsung menyebabkan terbentuknya daerah belokan angin (shearline) di sekitar Kalimantan Selatan. “Juga adanya tingkat labilitas lokal kuat mendukung proses konvektif pada skala lokal di wilayah Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Ditanya, apakah deforestasi hutan di kalsel memengaruhi cuaca dan banjir lantaran wilayah serapan air semakin berkurang, Rizqi enggan menjawabnya. “Mohon maaf tidak bisa memberi pendapat, karena itu di luar ranah BMKG. Apalagi setiap wilayah memiliki topografi yang berbeda-beda,” paparnya.

Sementara itu, terkait musim saat ini, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menuturkan, wilayah Kalsel sudah memasuki La Nina lemah sejak Oktober 2021. “Diprakirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2022,” tuturnya.

La Nina sendiri merupakan fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Diketahui El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya. Sementara, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Goeroeh menjelaskan, La Nina di Kalsel untuk tiga bulan ke depan diprakirakan sifatnya akan didominasi normal hingga atas normal.

Sedangkan curah hujan pada November 2021 ini didominasi kriteria menengah (200 – 300 mm). “Kemudian curah hujan Desember 2021 dan Januari 2022 didominasi kriteria tinggi (300-400 mm),” jelas Goeroeh. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, kemarin (21/11) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Kalsel untuk hari ini (22/11) dan besok (23/11).

Dalam peringatan tersebut menyebutkan, pada dua hari ke depan sejumlah daerah di Banua berpotensi diterjang banjir lantaran diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Rizqi Nur Fitriani mengatakan, berdasarkan data mereka pada hari ini diprakirakan terdapat potensi banjir dalam tingkat waspada di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Utara.

Kemudian pada esok hari, dia menuturkan, mengacu peringatan dini cuaca ekstrem harian terdapat potensi banjir di wilayah Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Tengah.

Terkait adanya potensi banjir tersebut, Rizqi mengimbau agar masyarakat selalu waspada apabila daerahnya diguyur hujan deras. “Apalagi secara umum cuaca tiga hari ke depan di Kalsel diprakirakan berawan hingga hujan lebat,” imbaunya.

Tingginya curah hujan sendiri menurutnya, dikarenakan adanya daerah Low Pressure di selatan Jawa yang secara tidak langsung menyebabkan terbentuknya daerah belokan angin (shearline) di sekitar Kalimantan Selatan. “Juga adanya tingkat labilitas lokal kuat mendukung proses konvektif pada skala lokal di wilayah Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Ditanya, apakah deforestasi hutan di kalsel memengaruhi cuaca dan banjir lantaran wilayah serapan air semakin berkurang, Rizqi enggan menjawabnya. “Mohon maaf tidak bisa memberi pendapat, karena itu di luar ranah BMKG. Apalagi setiap wilayah memiliki topografi yang berbeda-beda,” paparnya.

Sementara itu, terkait musim saat ini, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menuturkan, wilayah Kalsel sudah memasuki La Nina lemah sejak Oktober 2021. “Diprakirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2022,” tuturnya.

La Nina sendiri merupakan fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Diketahui El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya. Sementara, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Goeroeh menjelaskan, La Nina di Kalsel untuk tiga bulan ke depan diprakirakan sifatnya akan didominasi normal hingga atas normal.

Sedangkan curah hujan pada November 2021 ini didominasi kriteria menengah (200 – 300 mm). “Kemudian curah hujan Desember 2021 dan Januari 2022 didominasi kriteria tinggi (300-400 mm),” jelas Goeroeh. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/