alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Pemprov Minta Daerah Lebih Aktif Tangani Banjir

Dinas Sosial Kalsel mencatat ada tiga kabupaten yang terdampak banjir. Yakni Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.

Di tiga daerah ini, Dinsos Kalsel mencatat, sebanyak 14.990 jiwa yang terdampak. “Dari data kami per Selasa (16/11), sudah hampir 15 ribu jiwa yang terdampak banjir,” sebut Kasi Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kalsel, Achmad kemarin.

Dia merinci, banjir di Balangan yang saat ini air sudah surut, warga yang terdampak sebanyak 704 jiwa dari 176 kepala keluarga. Sedangkan di Hulu Sungai Selatan, warga yang terdampak 12 jiwa dari 4 kepala keluarga. “Hulu Sungai Tengah memang paling banyak yang terdampak. Jumlahnya sebanyak 14.274 jiwa dari 3.834 kepala keluarga,” bebernya.

Banjir yang terjadi saat ini terangnya, karena faktor curah hujan yang cukup tinggi di daerah pegunungan sejak 14 November tadi yang menyebabkan meluapnya air sungai. Dijelaskannya, banjir yang terjadi dengan ketinggian air bervariasi 30-75 centimeter. “Di Kabupaten HST mengalami dampak yang terparah. Saat ini banjir masih merendam pemukiman warga di beberapa desa dan mengharuskan ratusan jiwa mengungsi,” terangnya.

Achmad menyampaikan, pihaknya telah mendirikan pos-pos siaga bencana guna mengantisipasi banjir kiriman. Khusus di kawasan terdampak, pihaknya sudah melakukan pelayanan bantuan dan mendirikan posko darurat.

“Saat ini stok bantuan logistik senilai Rp360 juta dari Pemprov berangsur disalurkan. Kami juga sudah mengajukan tambahan logistik ke Kementerian Sosial,” bebernya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kalsel, Abriansyah Alam mengatakan BPBD Kalsel telah mengirim tim reaksi cepat untuk melakukan kajian cepat ke lokasi banjir. “Di lokasi tim bertugas menghitung berapa yang terdampak, kerugian dan apa saja yang diperlukan,” ucapnya.

Diungkapkan Abriansyah, apabila daerah meminta bantuan maka BPBD Kalsel akan langsung memberikannya. “Misal perlu dapur umum, pemprov siap untuk membantu untuk pengungsi,” ungkapnya.

Selain itu, dia menyebut, Pemprov Kalsel juga siap membantu melakukan evakuasi apabila diperlukan. “Tim di Kalsel siap untuk berangkat ke lokasi kapan saja. Tapi sampai sekarang belum ada permintaan, sehingga kami memantau dulu,” sebutnya.

Sementara itu, Sekdaprov Kalsel Roy Rizali Anwar menyampaikan, semua daerah yang rawan bencana sudah mereka petakan. Bahkan, beberapa kabupaten telah menetapkan siaga darurat banjir.

Di samping itu, dia menuturkan, upaya mitigasi bencana dengan merencanakan tempat penampungan dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana juga sudah direncanakan.

Meski begitu, Roy meminta agar pemerintah kabupaten/kota lebih aktif lagi dalam mengantisipasi menghadapi bencana banjir dan tanah longsor pada musim penghujan ini.

Di sisi lain, ihwal kondisi cuaca saat ini, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menuturkan, wilayah Kalsel sudah memasuki La Nina lemah sejak Oktober 2021. “Diprakirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2022,” tuturnya.

La Nina sendiri merupakan fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Diketahui El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya. Sementara, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Goeroeh menjelaskan, La Nina di Kalsel untuk tiga bulan ke depan diprakirakan sifatnya akan didominasi normal hingga atas normal.

Sedangkan curah hujan pada November 2021 ini didominasi kriteria menengah (200 – 300 mm). “Kemudian curah hujan Desember 2021 dan Januari 2022 didominasi kriteria tinggi (300-400 mm),” jelas Goeroeh. (ris/mof/by/ran)

Dinas Sosial Kalsel mencatat ada tiga kabupaten yang terdampak banjir. Yakni Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.

Di tiga daerah ini, Dinsos Kalsel mencatat, sebanyak 14.990 jiwa yang terdampak. “Dari data kami per Selasa (16/11), sudah hampir 15 ribu jiwa yang terdampak banjir,” sebut Kasi Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kalsel, Achmad kemarin.

Dia merinci, banjir di Balangan yang saat ini air sudah surut, warga yang terdampak sebanyak 704 jiwa dari 176 kepala keluarga. Sedangkan di Hulu Sungai Selatan, warga yang terdampak 12 jiwa dari 4 kepala keluarga. “Hulu Sungai Tengah memang paling banyak yang terdampak. Jumlahnya sebanyak 14.274 jiwa dari 3.834 kepala keluarga,” bebernya.

Banjir yang terjadi saat ini terangnya, karena faktor curah hujan yang cukup tinggi di daerah pegunungan sejak 14 November tadi yang menyebabkan meluapnya air sungai. Dijelaskannya, banjir yang terjadi dengan ketinggian air bervariasi 30-75 centimeter. “Di Kabupaten HST mengalami dampak yang terparah. Saat ini banjir masih merendam pemukiman warga di beberapa desa dan mengharuskan ratusan jiwa mengungsi,” terangnya.

Achmad menyampaikan, pihaknya telah mendirikan pos-pos siaga bencana guna mengantisipasi banjir kiriman. Khusus di kawasan terdampak, pihaknya sudah melakukan pelayanan bantuan dan mendirikan posko darurat.

“Saat ini stok bantuan logistik senilai Rp360 juta dari Pemprov berangsur disalurkan. Kami juga sudah mengajukan tambahan logistik ke Kementerian Sosial,” bebernya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kalsel, Abriansyah Alam mengatakan BPBD Kalsel telah mengirim tim reaksi cepat untuk melakukan kajian cepat ke lokasi banjir. “Di lokasi tim bertugas menghitung berapa yang terdampak, kerugian dan apa saja yang diperlukan,” ucapnya.

Diungkapkan Abriansyah, apabila daerah meminta bantuan maka BPBD Kalsel akan langsung memberikannya. “Misal perlu dapur umum, pemprov siap untuk membantu untuk pengungsi,” ungkapnya.

Selain itu, dia menyebut, Pemprov Kalsel juga siap membantu melakukan evakuasi apabila diperlukan. “Tim di Kalsel siap untuk berangkat ke lokasi kapan saja. Tapi sampai sekarang belum ada permintaan, sehingga kami memantau dulu,” sebutnya.

Sementara itu, Sekdaprov Kalsel Roy Rizali Anwar menyampaikan, semua daerah yang rawan bencana sudah mereka petakan. Bahkan, beberapa kabupaten telah menetapkan siaga darurat banjir.

Di samping itu, dia menuturkan, upaya mitigasi bencana dengan merencanakan tempat penampungan dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana juga sudah direncanakan.

Meski begitu, Roy meminta agar pemerintah kabupaten/kota lebih aktif lagi dalam mengantisipasi menghadapi bencana banjir dan tanah longsor pada musim penghujan ini.

Di sisi lain, ihwal kondisi cuaca saat ini, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menuturkan, wilayah Kalsel sudah memasuki La Nina lemah sejak Oktober 2021. “Diprakirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2022,” tuturnya.

La Nina sendiri merupakan fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Diketahui El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya. Sementara, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Goeroeh menjelaskan, La Nina di Kalsel untuk tiga bulan ke depan diprakirakan sifatnya akan didominasi normal hingga atas normal.

Sedangkan curah hujan pada November 2021 ini didominasi kriteria menengah (200 – 300 mm). “Kemudian curah hujan Desember 2021 dan Januari 2022 didominasi kriteria tinggi (300-400 mm),” jelas Goeroeh. (ris/mof/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/