alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Kualitas Air Sungai Kemuning Tak Boleh untuk Sikat Gigi

BANJARBARU – Di antara beberapa aliran sungai yang ada di wilayah Kota Banjarbaru. Sungai Kemuning bak jadi primadona tersendiri. Sungai ikonik ini punya daya tarik lantaran membentang di pusat Kota.

Saat ini, Sungai Kemuning juga sudah menjelma jadi kawasan publik. Penyiringan hingga diploklamirkan sebagai tempat wisata, membuat sungai sepanjang lima kilometer ini marak disambangi warga dan wisatawan.

Kendati demikian, kualitas air sungai kemuning kerap jadi sorotan. Terlebih ketika musim penghujan tiba. Airnya keruh kecoklat-coklatan. Bahkan di puncak kemarau, beberapa kali air Sungai Kemuning menghitam tercemar.

Menurut hasil pengujian sampel oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru. Kualitas air Sungai Kemuning sebetulnya masih dalam taraf bagus. Level pencemarannya berstatus cemar ringan.

“Dari pengujian kita dan pengambil sampel di tiga titik, yakni kawasan hulu, tengah dan hilir, status pencemarannya ringan. Yang tercemar ringan juga hanya di bagian hulu, kalau tengah dan hilir itu statusnya bagus,” kata Kasi Pengawasan, Pemantauan dan Kajian Dampak Lingkungan (KPPKDL) DLH Banjarbaru, Hafidz kemarin.

Pengambilan dan pengujian sampel kata Hafidz diambil setiap tiga bulan sekali. Teranyar hasil sampel keluar pada bulan Juli lalu. Tepatnya ketika sudah mulai memasuki musim penghujan.

“Hasil triwulan keempat atau akhir tahun belum keluar. Kalau triwulan ketiga sudah keluar dan tadi hasilnya masih bagus. Memang ada kecenderungan perubahan ketika kondisi debit air meninggi karena musim penghujan,” jelasnya.

Dengan status bagus di bagian tengah dan hilir serta status cemar ringan di bagian hulu. Sungai Kemuning kata Hafidz bisa dikatakan masih aman untuk dipergunakan oleh manusia.

“Status cemar ringan ini efeknya lebih kepada biota air. Kalau untuk manusia bisa dikatakan masih aman, tetapi tidak diperkenankan untuk dikonsumsi langsung atau digunakan berkumur sikat gigi, kalau mandi masih cukup aman,” katanya.

Meski begitu, fase air sungai Kemuning yang rawan terhadap pencemaran kata Hafidz adalah di musim kemarau. Di fase ini, ia menyarankan agar menghindari berinteraksi langsung dengan bagian air, termasuk mandi.

“Musim kemarau tingkat pencemarannya lebih tinggi, ini dikarenakan debit air menyusut dan pencemaran tetap. Kalau debit air tinggi seperti sekarang, tingkat pencemaran berkurang,” katanya.

Lantas dari mana datangnya pencemaran ini? Menurut Hafidz, pencemaran pada dasarnya kerap dipengaruhi oleh benda atau zat kimia hingga kotoran atau bangkai.

“Deterjen atau sabun itu juga sudah mencemari, meski kadarnya cukup ringan. Yang berbahaya itu seperti popok bayi yang masih ada tinjanya atau bangkai hewan, nah ini kan bakteri dan tidak bagus,” ingatnya.

Selain mengawasi Sungai Kemuning, tim DLH ujar Hafidz juga mengambil serta menguji empat sampel sungai. Keempatnya meliputi Sungai Guntung Payung, Sungai Rimba Tonhar, Sungai Basung Cempaka serta Sungai Durian di kawasan Mes L.

“Pada dasarnya dari hasil pengujian kita di tahap ketiga atau triwulan ketiga semuanya berstatus bagus saja, kalaupun ada cemar ringan hanya di satu titik. Tapi bukan berarti ini bisa leluasa diminum langsung, tetap tidak diperkenankan,” pesannya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Di antara beberapa aliran sungai yang ada di wilayah Kota Banjarbaru. Sungai Kemuning bak jadi primadona tersendiri. Sungai ikonik ini punya daya tarik lantaran membentang di pusat Kota.

Saat ini, Sungai Kemuning juga sudah menjelma jadi kawasan publik. Penyiringan hingga diploklamirkan sebagai tempat wisata, membuat sungai sepanjang lima kilometer ini marak disambangi warga dan wisatawan.

Kendati demikian, kualitas air sungai kemuning kerap jadi sorotan. Terlebih ketika musim penghujan tiba. Airnya keruh kecoklat-coklatan. Bahkan di puncak kemarau, beberapa kali air Sungai Kemuning menghitam tercemar.

Menurut hasil pengujian sampel oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru. Kualitas air Sungai Kemuning sebetulnya masih dalam taraf bagus. Level pencemarannya berstatus cemar ringan.

“Dari pengujian kita dan pengambil sampel di tiga titik, yakni kawasan hulu, tengah dan hilir, status pencemarannya ringan. Yang tercemar ringan juga hanya di bagian hulu, kalau tengah dan hilir itu statusnya bagus,” kata Kasi Pengawasan, Pemantauan dan Kajian Dampak Lingkungan (KPPKDL) DLH Banjarbaru, Hafidz kemarin.

Pengambilan dan pengujian sampel kata Hafidz diambil setiap tiga bulan sekali. Teranyar hasil sampel keluar pada bulan Juli lalu. Tepatnya ketika sudah mulai memasuki musim penghujan.

“Hasil triwulan keempat atau akhir tahun belum keluar. Kalau triwulan ketiga sudah keluar dan tadi hasilnya masih bagus. Memang ada kecenderungan perubahan ketika kondisi debit air meninggi karena musim penghujan,” jelasnya.

Dengan status bagus di bagian tengah dan hilir serta status cemar ringan di bagian hulu. Sungai Kemuning kata Hafidz bisa dikatakan masih aman untuk dipergunakan oleh manusia.

“Status cemar ringan ini efeknya lebih kepada biota air. Kalau untuk manusia bisa dikatakan masih aman, tetapi tidak diperkenankan untuk dikonsumsi langsung atau digunakan berkumur sikat gigi, kalau mandi masih cukup aman,” katanya.

Meski begitu, fase air sungai Kemuning yang rawan terhadap pencemaran kata Hafidz adalah di musim kemarau. Di fase ini, ia menyarankan agar menghindari berinteraksi langsung dengan bagian air, termasuk mandi.

“Musim kemarau tingkat pencemarannya lebih tinggi, ini dikarenakan debit air menyusut dan pencemaran tetap. Kalau debit air tinggi seperti sekarang, tingkat pencemaran berkurang,” katanya.

Lantas dari mana datangnya pencemaran ini? Menurut Hafidz, pencemaran pada dasarnya kerap dipengaruhi oleh benda atau zat kimia hingga kotoran atau bangkai.

“Deterjen atau sabun itu juga sudah mencemari, meski kadarnya cukup ringan. Yang berbahaya itu seperti popok bayi yang masih ada tinjanya atau bangkai hewan, nah ini kan bakteri dan tidak bagus,” ingatnya.

Selain mengawasi Sungai Kemuning, tim DLH ujar Hafidz juga mengambil serta menguji empat sampel sungai. Keempatnya meliputi Sungai Guntung Payung, Sungai Rimba Tonhar, Sungai Basung Cempaka serta Sungai Durian di kawasan Mes L.

“Pada dasarnya dari hasil pengujian kita di tahap ketiga atau triwulan ketiga semuanya berstatus bagus saja, kalaupun ada cemar ringan hanya di satu titik. Tapi bukan berarti ini bisa leluasa diminum langsung, tetap tidak diperkenankan,” pesannya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/