alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Banjarmasin Waspada Banjir Rob, Puncaknya Tiba Januari

Senin (8/11), sejak jam 9 malam, air dari sungai yang pasang perlahan menggenangi sejumlah permukiman di Banjarmasin. Diprediksi, banjir rob masih terjadi sampai dua hari ke depan.

***

BANJARMASIN – Malam itu, sejumlah anggota Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin diterjunkan ke lapangan. Mendata kawasan mana saja yang tergenang.

Hasilnya, kawasan tergenang ditemukan di tiga kecamatan. Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara.

“Pantauan kami, genangan paling parah muncul di Jalan Jafri Zamzam. Meliputi kawasan Rawasari dan Kompleks DPR. Tingginya sekitar 30 sentimeter,” ucap anggota BPBD, Hanafi. “Umumnya melanda permukiman yang berada di pinggiran sungai,” tambahnya.

Di Kuin Utara dan Selatan, air juga merendam jalan raya. Rumah-rumah yang posisinya rendah juga terdampak.
Warga Kuin Utara, Roby menceritakan, air pasang sudah terjadi selama dua malam terakhir. Selalu dimulai pukul 21.00 Wita. “Baru surut sekitar jam satu dini hari,” sebutnya.

“Kami harus berjaga-jaga. Mewaspadai ular. Memperhatikan kabel dan barang elektronik. Kemudian mengamankan barang-barang berharga. Semoga lekas mereda,” harapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Fahrurrazi menjelaskan, sekarang sungai pasang datang lebih cepat.

“Padahal biasanya terjadi di pertengahan bulan. Tapi walau lebih cepat, ketinggian air masih dalam batas aman,” jelasnya.

Terkait kesiapan personel, armada hingga logistik, Fahrurrazi mengklaim siap.

Sebagai antisipasi, relawan kebencanaan dari semua kecamatan akan dikumpulkan. “Kalau-kalau ada yang perlu dievakuasi,” tukasnya.

Mengacu data Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), rob yang dihadapi saat ini belum apa-apa. Karena puncaknya baru tiba Januari, awal tahun depan.

“Mudah-mudahan saja tidak terjadi. Yang dikhawatirkan adalah sungai pasang, ditambah air kiriman dari hulu dan curah hujan tinggi,” tekannya.

Saat ini, Banjarmasin berada pada status siaga banjir. Tapi bisa saja berubah mendadak menjadi status darurat. Mengingat beberapa kabupaten sudah melaporkan tibanya banjir.

“Kami sudah rapat daring dengan Pemprov Kalsel. Bahwa per tanggal 15 November mendatang, provinsi ini sudah berstatus darurat bencana,” tutupnya.

Anggaran Dinsos Sudah Siap

Seiring ancaman air pasang, Dinas Sosial Banjarmasin juga mulai bersiaga. Dari menyiapkan tempat pengungsian hingga pendirian dapur umum.

“Tapi kami masih menunggu informasi dari BPBD. Kalau diprediksi seperti banjir awal tahun kemarin, maka kami siapkan,” kata Kepala Dinsos Banjarmasin, Iwan Ristianto, kemarin (9/11).

Perihal kesiapan anggaran, berkaca dari peristiwa terakhir, Iwan menyebutkan, setidaknya digelontorkan Rp300 juta untuk dapur umum di lima kecamatan.

“Anggarannya sudah kami siapkan. Tinggal apakah separah kemarin atau berkurang. Mengingat sudah ada normalisasi sungai,” tambahnya.

Lebih jauh, sebelum mendirikan dapur umum, posisinya juga perlu dievaluasi. Apakah titik-titik dapur umum itu harus digeser atau dipertahankan.

“Apakah tempatnya masih layak atau tidak. Karena tidak hanya sebatas tempat kumpul saja. Perlu diperhatikan hal lain, contoh sanitasi,” tambahnya.

Iwan juga berharap, penanganan dampak banjir tak hanya dibebankan ke Dinsos. “Karena kalau yang menyokong bantuan cuma kami, takkan cukup. Apalagi kalau skala bencananya luas,” tutupnya. (war/fud/ema)

Senin (8/11), sejak jam 9 malam, air dari sungai yang pasang perlahan menggenangi sejumlah permukiman di Banjarmasin. Diprediksi, banjir rob masih terjadi sampai dua hari ke depan.

***

BANJARMASIN – Malam itu, sejumlah anggota Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin diterjunkan ke lapangan. Mendata kawasan mana saja yang tergenang.

Hasilnya, kawasan tergenang ditemukan di tiga kecamatan. Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara.

“Pantauan kami, genangan paling parah muncul di Jalan Jafri Zamzam. Meliputi kawasan Rawasari dan Kompleks DPR. Tingginya sekitar 30 sentimeter,” ucap anggota BPBD, Hanafi. “Umumnya melanda permukiman yang berada di pinggiran sungai,” tambahnya.

Di Kuin Utara dan Selatan, air juga merendam jalan raya. Rumah-rumah yang posisinya rendah juga terdampak.
Warga Kuin Utara, Roby menceritakan, air pasang sudah terjadi selama dua malam terakhir. Selalu dimulai pukul 21.00 Wita. “Baru surut sekitar jam satu dini hari,” sebutnya.

“Kami harus berjaga-jaga. Mewaspadai ular. Memperhatikan kabel dan barang elektronik. Kemudian mengamankan barang-barang berharga. Semoga lekas mereda,” harapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Fahrurrazi menjelaskan, sekarang sungai pasang datang lebih cepat.

“Padahal biasanya terjadi di pertengahan bulan. Tapi walau lebih cepat, ketinggian air masih dalam batas aman,” jelasnya.

Terkait kesiapan personel, armada hingga logistik, Fahrurrazi mengklaim siap.

Sebagai antisipasi, relawan kebencanaan dari semua kecamatan akan dikumpulkan. “Kalau-kalau ada yang perlu dievakuasi,” tukasnya.

Mengacu data Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), rob yang dihadapi saat ini belum apa-apa. Karena puncaknya baru tiba Januari, awal tahun depan.

“Mudah-mudahan saja tidak terjadi. Yang dikhawatirkan adalah sungai pasang, ditambah air kiriman dari hulu dan curah hujan tinggi,” tekannya.

Saat ini, Banjarmasin berada pada status siaga banjir. Tapi bisa saja berubah mendadak menjadi status darurat. Mengingat beberapa kabupaten sudah melaporkan tibanya banjir.

“Kami sudah rapat daring dengan Pemprov Kalsel. Bahwa per tanggal 15 November mendatang, provinsi ini sudah berstatus darurat bencana,” tutupnya.

Anggaran Dinsos Sudah Siap

Seiring ancaman air pasang, Dinas Sosial Banjarmasin juga mulai bersiaga. Dari menyiapkan tempat pengungsian hingga pendirian dapur umum.

“Tapi kami masih menunggu informasi dari BPBD. Kalau diprediksi seperti banjir awal tahun kemarin, maka kami siapkan,” kata Kepala Dinsos Banjarmasin, Iwan Ristianto, kemarin (9/11).

Perihal kesiapan anggaran, berkaca dari peristiwa terakhir, Iwan menyebutkan, setidaknya digelontorkan Rp300 juta untuk dapur umum di lima kecamatan.

“Anggarannya sudah kami siapkan. Tinggal apakah separah kemarin atau berkurang. Mengingat sudah ada normalisasi sungai,” tambahnya.

Lebih jauh, sebelum mendirikan dapur umum, posisinya juga perlu dievaluasi. Apakah titik-titik dapur umum itu harus digeser atau dipertahankan.

“Apakah tempatnya masih layak atau tidak. Karena tidak hanya sebatas tempat kumpul saja. Perlu diperhatikan hal lain, contoh sanitasi,” tambahnya.

Iwan juga berharap, penanganan dampak banjir tak hanya dibebankan ke Dinsos. “Karena kalau yang menyokong bantuan cuma kami, takkan cukup. Apalagi kalau skala bencananya luas,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/