alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Mengikuti Perjalanan Guru Mengajar ke Pedalaman Meratus

Mengajar di sekolah perkotaan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan mengajar sekolah pedalaman. Tantangan para guru yang mengajar di pedalaman sudah dimulai sejak awal perjalanan menuju sekolah.

– Oleh: JAMALUDDIN, Barabai

Jarum jam tangan menunjukkan pukul 08.00 Wita. Supian bersiap. Ia nampak semangat berangkat ke sekolah untuk mengajar. Pria kelahiran 3 April 1986 ini adalah seorang guru Sekolah Dasar di Desa Muara Hungi, Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah.

Mengenakan setelan baju sasirangan dilapisi jaket dan celana kain hitam, Supian menggeber motor bebeknya menuju SDN Muara Hungi. Jarak sekolah dari rumahnya di Kecamatan Barabai sejauh 35 kilometer. Perlu waktu 1 jam lebih untuk sampai ke sekolah.

Pelan tapi pasti, Supian melewati lika-liku jalan pegunungan Meratus. Sepintas tak ada yang sulit. Jalan beraspal begitu mulus. Memang, ada beberapa titik aspal amblas. 30 menit perjalanan, Supian sampai di Desa Pembakulan. Satu desa sebelum Desa Muara Hungi.

Di sana dia ditunggu tiga guru koleganya. Mereka akhirnya bersama-sama melanjutkan perjalanan. Hari itu Sabtu (25/10) cuaca sangat cerah. Cahaya matahari sangat menyilaukan. Tapi bukan itu tantangan sebenarnya.

Tantangan baru dirasakan tepat diujung jalan aspal Desa Pembakulan.

Di sana, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi jalan berbatu. Tak hanya itu, kondisi jalan juga sangat terjal. Beruntung motor Supian perfomanya prima. Jadi medan seperti ini bisa dilalui meski tidak mudah.

Bagi Supian, tak ada kata mengeluh, tapi rasa khawatir jika terjatuh tak bisa dipungkiri. Apalagi di beberapa titik jalan medannya begitu sulit, menanjak dan jalannya tanah. Jika hujan lebat, medan akan semakin sulit.

“Biasanya kalau hujannya lebat saya tidak mengajar. Sudah dipastikan enggak bisa lewat,” ceritanya sambil menghela nafas karena berhasil melewati tanjakan. Jika diamati sepintas motor yang dikendarai Supian tak jauh beda dengan motor bebek umumnya.

Tak ada modifikasi khusus yang meniru kendaraan tempur untuk ke jalan pegunungan. Hanya saja ban motornya diganti dengan ban yang “bergigi”. Perjalanan dilanjutkan, tapi perjuangan belum selesai.

Supain dan guru lainnya juga harus melewati jembatan gantung. Panjangnya sekitar 50 meter membentang di atas sungai Batang Alai. Karena ada jembatan ini lah, akses roda empat ke desa dan sekolah tidak bisa dilalui.

Setelah melewati jembatan, maju beberapa kilometer, jalan berbatu berganti jalan tanah. Jalan ini seperti di atas bukit yang dipaprs. Lebarnya sekitar 5-7 meter. Diapit tebing dan lereng. Sudah dipastikan, jalan menuju ke sekolah jauh dari kata mulus. “kalau hujan jalan tanah ini licin dan becek, motor biasa pasti kesulitan lewat,” ceritanya.

Sepanjang perjalanan terlihat paving menumpuk. Sepertinya jalan tersebut akan diprbaiki agar aman dilewati ketika hujan. Singkat cerita sampai di Desa Muara Hungi. Jarak antara rumah penduduk terlihat berjauhan.

Dari pemukiman warga, ternyata masih harus masuk ke dalam hutan untuk sampai ke sekolah. Jaraknya sekitar 100 meter. Jalannya pun sangat kecil lebarnya hanya sekitar 1,5 meter lebih. Kondisi ini membuat jalan tak bisa digunakan untuk berpapasan dua motor.

Sebelum melintas para guru pun harus memberikan isyarat dengan membunyikan klakson sebagai tanda ada orang yang mau lewat. Parahnya di titik jalan tertentu, kondisinya sangat menakutkan. Jalan yang lebarnya 1,5 meter itu diapit tebing dan sungai.

Jika pengendara motor kehilangan keseimbangan dan oleng maka pilihannya yang terjadi hanya dua. Kalau tidak menabrak tebing otomatis langsung terjun bebas ke sungai Batang Alai. “Alhamdulillah selama ini tidak pernah ada kejadian,” bebernya yang selalu berhati-hati ketika melintasi jalan tersebut.

Supian lulusan D2 tahun 2009 di Universitas Lambung Mangkurat jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selama ini dia sudah 10 tahun mengajar. Selama itu juga dia bolak-balik turun dan naik gunung.

Sedari awal dia berniat mendidikasikan dirinya untuk mengabdi di sekolah terpencil. Untuk itu saat ada lowongan CPNS tahun 2011, dia langsung memilih formasi di SDN Muara Hungi. “Alhamdulillah saya lulus tes.Tahun 2012 saya diangkat menjadi PNS,” ungkapnya.

SDN Muara Hungi merupakan satu dari empat sekolah terpencil lainnya yang ada di HST. Ada sekolah lain yang keadaannya tak jauh berbeda, seperti SDN Juhu, SDN Aing Bantai, SDN Batu Perahu, SDN Datar Batung, SDN Datar Ajab.

SDN Muara Hungi berdiri tahun 2001. Memiliki 6 ruangan, total siswa saat ini ditahun ajaran 2021/2022 yaitu 43 orang. Di sekolah ini ada 10 guru, rinciannya 8 guru PNS dan 2 guru kontrak. Kemudian ditambah 1 orang honorer sebagai penjaga sekolah.

Sekolah ini memiliki enam kelas. Kelas pertama siswanya berjumlah 6 orang, kelas dua siswanya 10 orang, kelas tiga 8 orang, kelas empat 7 orang, kelas lima 6 orang, dan kelas enam tujuh orang. Walaupun berada di desa terpencil, semangat anak-anak di sana untuk mengenyam pendidikan patut diapresiasi. Di sekolah inilah mereka menggantungkan harapan untuk mengejar masa depan yang lebih gemilang. (by/ran)

Mengajar di sekolah perkotaan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan mengajar sekolah pedalaman. Tantangan para guru yang mengajar di pedalaman sudah dimulai sejak awal perjalanan menuju sekolah.

– Oleh: JAMALUDDIN, Barabai

Jarum jam tangan menunjukkan pukul 08.00 Wita. Supian bersiap. Ia nampak semangat berangkat ke sekolah untuk mengajar. Pria kelahiran 3 April 1986 ini adalah seorang guru Sekolah Dasar di Desa Muara Hungi, Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah.

Mengenakan setelan baju sasirangan dilapisi jaket dan celana kain hitam, Supian menggeber motor bebeknya menuju SDN Muara Hungi. Jarak sekolah dari rumahnya di Kecamatan Barabai sejauh 35 kilometer. Perlu waktu 1 jam lebih untuk sampai ke sekolah.

Pelan tapi pasti, Supian melewati lika-liku jalan pegunungan Meratus. Sepintas tak ada yang sulit. Jalan beraspal begitu mulus. Memang, ada beberapa titik aspal amblas. 30 menit perjalanan, Supian sampai di Desa Pembakulan. Satu desa sebelum Desa Muara Hungi.

Di sana dia ditunggu tiga guru koleganya. Mereka akhirnya bersama-sama melanjutkan perjalanan. Hari itu Sabtu (25/10) cuaca sangat cerah. Cahaya matahari sangat menyilaukan. Tapi bukan itu tantangan sebenarnya.

Tantangan baru dirasakan tepat diujung jalan aspal Desa Pembakulan.

Di sana, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi jalan berbatu. Tak hanya itu, kondisi jalan juga sangat terjal. Beruntung motor Supian perfomanya prima. Jadi medan seperti ini bisa dilalui meski tidak mudah.

Bagi Supian, tak ada kata mengeluh, tapi rasa khawatir jika terjatuh tak bisa dipungkiri. Apalagi di beberapa titik jalan medannya begitu sulit, menanjak dan jalannya tanah. Jika hujan lebat, medan akan semakin sulit.

“Biasanya kalau hujannya lebat saya tidak mengajar. Sudah dipastikan enggak bisa lewat,” ceritanya sambil menghela nafas karena berhasil melewati tanjakan. Jika diamati sepintas motor yang dikendarai Supian tak jauh beda dengan motor bebek umumnya.

Tak ada modifikasi khusus yang meniru kendaraan tempur untuk ke jalan pegunungan. Hanya saja ban motornya diganti dengan ban yang “bergigi”. Perjalanan dilanjutkan, tapi perjuangan belum selesai.

Supain dan guru lainnya juga harus melewati jembatan gantung. Panjangnya sekitar 50 meter membentang di atas sungai Batang Alai. Karena ada jembatan ini lah, akses roda empat ke desa dan sekolah tidak bisa dilalui.

Setelah melewati jembatan, maju beberapa kilometer, jalan berbatu berganti jalan tanah. Jalan ini seperti di atas bukit yang dipaprs. Lebarnya sekitar 5-7 meter. Diapit tebing dan lereng. Sudah dipastikan, jalan menuju ke sekolah jauh dari kata mulus. “kalau hujan jalan tanah ini licin dan becek, motor biasa pasti kesulitan lewat,” ceritanya.

Sepanjang perjalanan terlihat paving menumpuk. Sepertinya jalan tersebut akan diprbaiki agar aman dilewati ketika hujan. Singkat cerita sampai di Desa Muara Hungi. Jarak antara rumah penduduk terlihat berjauhan.

Dari pemukiman warga, ternyata masih harus masuk ke dalam hutan untuk sampai ke sekolah. Jaraknya sekitar 100 meter. Jalannya pun sangat kecil lebarnya hanya sekitar 1,5 meter lebih. Kondisi ini membuat jalan tak bisa digunakan untuk berpapasan dua motor.

Sebelum melintas para guru pun harus memberikan isyarat dengan membunyikan klakson sebagai tanda ada orang yang mau lewat. Parahnya di titik jalan tertentu, kondisinya sangat menakutkan. Jalan yang lebarnya 1,5 meter itu diapit tebing dan sungai.

Jika pengendara motor kehilangan keseimbangan dan oleng maka pilihannya yang terjadi hanya dua. Kalau tidak menabrak tebing otomatis langsung terjun bebas ke sungai Batang Alai. “Alhamdulillah selama ini tidak pernah ada kejadian,” bebernya yang selalu berhati-hati ketika melintasi jalan tersebut.

Supian lulusan D2 tahun 2009 di Universitas Lambung Mangkurat jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selama ini dia sudah 10 tahun mengajar. Selama itu juga dia bolak-balik turun dan naik gunung.

Sedari awal dia berniat mendidikasikan dirinya untuk mengabdi di sekolah terpencil. Untuk itu saat ada lowongan CPNS tahun 2011, dia langsung memilih formasi di SDN Muara Hungi. “Alhamdulillah saya lulus tes.Tahun 2012 saya diangkat menjadi PNS,” ungkapnya.

SDN Muara Hungi merupakan satu dari empat sekolah terpencil lainnya yang ada di HST. Ada sekolah lain yang keadaannya tak jauh berbeda, seperti SDN Juhu, SDN Aing Bantai, SDN Batu Perahu, SDN Datar Batung, SDN Datar Ajab.

SDN Muara Hungi berdiri tahun 2001. Memiliki 6 ruangan, total siswa saat ini ditahun ajaran 2021/2022 yaitu 43 orang. Di sekolah ini ada 10 guru, rinciannya 8 guru PNS dan 2 guru kontrak. Kemudian ditambah 1 orang honorer sebagai penjaga sekolah.

Sekolah ini memiliki enam kelas. Kelas pertama siswanya berjumlah 6 orang, kelas dua siswanya 10 orang, kelas tiga 8 orang, kelas empat 7 orang, kelas lima 6 orang, dan kelas enam tujuh orang. Walaupun berada di desa terpencil, semangat anak-anak di sana untuk mengenyam pendidikan patut diapresiasi. Di sekolah inilah mereka menggantungkan harapan untuk mengejar masa depan yang lebih gemilang. (by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/