alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Kenapa Daerah Hulu Sungai Masih "Haramkan" Jaringan Ritel Waralaba?

Indomaret dan Alfamart adalah dua jaringan waralaba minimarket yang merajai Indonesia. Di Kalsel, dua minimarket ini sudah mengubah kebiasaan belanja urang banua. Namun di daerah hulu sungai Kalsel, kehadiran mereka masih “diharamkan”. Kenapa?

—-

Pemerintah Kabupaten Tabalong tidak akan memberi peluang kepada toko ritel nasional di wilayahnya. Pasalnya kehadiran mereka dapat mengganggu pedagang lokal setempat. Untuk itu, Alfamart dan Indomaret masih belum ada di Tabalong. Padahal perekonomian daerah tambang ini sangat baik.

“Ya alasannya kami ingin menghidupkan tokol ritel lokal. Sampai sekarang masih berlaku,” ucap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tabalong, Husin Ansari.

Meski demikian, pelarangan ini juga memberi berkah bagi pendapatan Pemda. Pasalnya ada toko ritel yang dikelola perusahaan umum daerah (Perumda) milik Pemkab Tabalong. Husin mengatakan hadirnya Alfamart dan Indomaret akan mengancam usaha itu. “Kami ingin melindungi mereka,” cetusnya.

Di daerah Hulu Sungai Utara, Kepala Dinas Penanaman Modal Syarif Fajerian Noor juga belum memberikan izin kedua merk waralaba itu masuk. Namun tidak menutup kemungkinan dalam waktu mendatang, keputusan ini berubah. Disperindag HSU sedang membuat regulasi yang membolehkan berdirinya minimarket di daerah ini.

Regulasi yang digodok akan mengatur lokasi tempat pendirian dan radius antara minimarket.”Ini penting agar usaha yang ada tidak saling mematikan. Namun kehadiran minimarket waralaba ini, sebenarnya motor penggerak ekonomi daerah, dan pilihan bagi konsumen,” tandasnya.

Di Kabupaten HSS juga belum ada satupun gerai waralaba Alfamart dan Indomaret yang berdiri. Padahal kabupaten ini berada di perlintasan jalan Trans Kalimantan.

Bupati HSS, Achmad Fikry menjelaskan pertimbangan belum memberikan izin berdirinya toko ritel modern berjaringan Alfamart dan Indomaret di Kabupaten HSS. Karena Pemkab setempat ingin membesarkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.“Kalau mereka (UMKM,red) sudah mapan, bisa saja nanti (dibuka),” ujarnya.

Dia mengatakan meski belum memberikan izin, Pemkab HSS tidak anti dengan toko ritel jaringan.“Kita butuh mereka, tapi waktunya saat ini belum lah,” ucapnya.

Sebelumnya, Pemkab HSS pernah menawarkan pembangunan ritel modern di kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brigjen H Hassan Basry Kandangan.

“Tapi pertimbangan mereka lain. Karena di rumah sakit butuh 24 jam,” tuturnya.

Sulitnya investasi jaringan ritel waralaba di hulu sungai dibaca sebagai peluang oleh para pengusaha di Hulu Sungai Tengah. Ada beberapa minimarket yang dibuat hampir sama dengan Alfamart dan Indomaret. Baik dari segi bangunan dan bahan-bahan pokok yang dijual.

Pemerintah setempat melihat semangat para pengusaha lokal untuk berkompetisi. Namun, untuk melepaskan mereka melawan para pemodal besar, pemerintah masih pikir-pikir. “Hasil kajian ini akan menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah. Ini sedang kita rumuskan,” kata Pj Sekda HST, Muhammad Yani.

Dia mengatakan sebenarnya bahan pokok di Alfamart dan Indomaret lebih mahal daripada di toko lain, sebab mereka wajib membayar pajak sebanyak 10 persen. “Pajak yang ada saja saat ini masih belum beres. Artinya kita masih perlu memikirkan matang-matang,” jelasnya.

Bersama dinas terkait dia akan merumuskan bagaimana agar memberikan kesempatan yang sama kepada pemodal besar agar berkompetisi dengan sehat di HST. Pemda sebenarnya tak ingin menghalangi atau membatasi pengusaha yang masuk ke wilayahnya. Jika terus-terusan dilakukan ekonomi di HST akan terus tidak sehat. “Jadi kita cari formula supaya ekonomi di HST bisa sehat dan pengusaha bisa berkompetisi secara baik,” ucapnya.(ibn/shn/mal/mar/by/ran)

Indomaret dan Alfamart adalah dua jaringan waralaba minimarket yang merajai Indonesia. Di Kalsel, dua minimarket ini sudah mengubah kebiasaan belanja urang banua. Namun di daerah hulu sungai Kalsel, kehadiran mereka masih “diharamkan”. Kenapa?

—-

Pemerintah Kabupaten Tabalong tidak akan memberi peluang kepada toko ritel nasional di wilayahnya. Pasalnya kehadiran mereka dapat mengganggu pedagang lokal setempat. Untuk itu, Alfamart dan Indomaret masih belum ada di Tabalong. Padahal perekonomian daerah tambang ini sangat baik.

“Ya alasannya kami ingin menghidupkan tokol ritel lokal. Sampai sekarang masih berlaku,” ucap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tabalong, Husin Ansari.

Meski demikian, pelarangan ini juga memberi berkah bagi pendapatan Pemda. Pasalnya ada toko ritel yang dikelola perusahaan umum daerah (Perumda) milik Pemkab Tabalong. Husin mengatakan hadirnya Alfamart dan Indomaret akan mengancam usaha itu. “Kami ingin melindungi mereka,” cetusnya.

Di daerah Hulu Sungai Utara, Kepala Dinas Penanaman Modal Syarif Fajerian Noor juga belum memberikan izin kedua merk waralaba itu masuk. Namun tidak menutup kemungkinan dalam waktu mendatang, keputusan ini berubah. Disperindag HSU sedang membuat regulasi yang membolehkan berdirinya minimarket di daerah ini.

Regulasi yang digodok akan mengatur lokasi tempat pendirian dan radius antara minimarket.”Ini penting agar usaha yang ada tidak saling mematikan. Namun kehadiran minimarket waralaba ini, sebenarnya motor penggerak ekonomi daerah, dan pilihan bagi konsumen,” tandasnya.

Di Kabupaten HSS juga belum ada satupun gerai waralaba Alfamart dan Indomaret yang berdiri. Padahal kabupaten ini berada di perlintasan jalan Trans Kalimantan.

Bupati HSS, Achmad Fikry menjelaskan pertimbangan belum memberikan izin berdirinya toko ritel modern berjaringan Alfamart dan Indomaret di Kabupaten HSS. Karena Pemkab setempat ingin membesarkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.“Kalau mereka (UMKM,red) sudah mapan, bisa saja nanti (dibuka),” ujarnya.

Dia mengatakan meski belum memberikan izin, Pemkab HSS tidak anti dengan toko ritel jaringan.“Kita butuh mereka, tapi waktunya saat ini belum lah,” ucapnya.

Sebelumnya, Pemkab HSS pernah menawarkan pembangunan ritel modern di kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brigjen H Hassan Basry Kandangan.

“Tapi pertimbangan mereka lain. Karena di rumah sakit butuh 24 jam,” tuturnya.

Sulitnya investasi jaringan ritel waralaba di hulu sungai dibaca sebagai peluang oleh para pengusaha di Hulu Sungai Tengah. Ada beberapa minimarket yang dibuat hampir sama dengan Alfamart dan Indomaret. Baik dari segi bangunan dan bahan-bahan pokok yang dijual.

Pemerintah setempat melihat semangat para pengusaha lokal untuk berkompetisi. Namun, untuk melepaskan mereka melawan para pemodal besar, pemerintah masih pikir-pikir. “Hasil kajian ini akan menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah. Ini sedang kita rumuskan,” kata Pj Sekda HST, Muhammad Yani.

Dia mengatakan sebenarnya bahan pokok di Alfamart dan Indomaret lebih mahal daripada di toko lain, sebab mereka wajib membayar pajak sebanyak 10 persen. “Pajak yang ada saja saat ini masih belum beres. Artinya kita masih perlu memikirkan matang-matang,” jelasnya.

Bersama dinas terkait dia akan merumuskan bagaimana agar memberikan kesempatan yang sama kepada pemodal besar agar berkompetisi dengan sehat di HST. Pemda sebenarnya tak ingin menghalangi atau membatasi pengusaha yang masuk ke wilayahnya. Jika terus-terusan dilakukan ekonomi di HST akan terus tidak sehat. “Jadi kita cari formula supaya ekonomi di HST bisa sehat dan pengusaha bisa berkompetisi secara baik,” ucapnya.(ibn/shn/mal/mar/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/