alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Berwisata ke Air Terjun Lano di Tabalong

Berada di ujung Kabupaten Tabalong, dan hanya berjarak sekitar 500 meter dari gerbang perbatasan Kalsel-Kaltim, Air Terjun Lano menawarkan wisata alam yang masih asri. Kini destinasi wisata ini kembali ramai, setelah setahun lebih ditutup karena pandemi Covid-19.

— Oleh: SUTRISNO, Tanjung

Bersama rombongan Press Tour Pemprov Kalsel, Radar Banjarmasin, Kamis (28/10) mengunjungi Air Terjun Lano di Desa Lano, Kecamatan Karo, Kabupaten Tebalong.

Berada di sisi kanan ruas jalan nasional trans Kalsel-Kaltim, untuk menuju lokasi wisata yang dikelola Pokdarwis Nagarawi itu hanya memerlukan waktu sekitar dua jam menggunakan mobil atau bus dari kota Tanjung.

Sementara untuk bisa mencapai ke lokasi air terjun, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 600 meter dari Balai Rakyat Desa Lano atau pintu masuk wisata.

Meski berjalan cukup jauh dengan medan sedikit menanjak, namun perjalanan yang ditempuh tidak begitu terasa. Karena rindangnya pepohonan di sepanjang rute membuat suasana teduh.

Hanya saja, pengunjung harus sedikit berhati-hati, karena rute ke air terjun sering menyeberangi sungai kecil. Selain itu, jalan cor di sepanjang rute juga sedikit licin apabila basah.

Anggota Pokdarwis Nagarawi, Taufik mengatakan, untuk sampai ke air terjun rata-rata pengunjung memerlukan waktu 30 menit hingga satu jam. Tergantung kemampuan fisik masing-masing.

Namun, sesampainya di air terjun, rasa lelah berjalan kaki akan terbayarkan dengan keindahan air terjun setinggi 50 meter. “Air terjun tidak bisa kering. Walaupun kemarau panjang, tetap ada airnya,” katanya.

Dia mengungkapkan, Air Terjun Lano sempat ditutup setahun lebih lantaran pandemi Covid-19. Baru kembali dibuka September 2021. “Sejak dibuka, kunjungan ramai lagi. Pada hari biasa ada puluhan pengunjung sehari, tapi kalau hari libur bisa sampai ratusan,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pokdarwis Nagarawi Jamin Effendi menuturkan, sebelumnya wilayah Air Terjun Lano merupakan hutan lindung yang berbatasan dengan Kaltim. “Kami kemudian mengajukan agar statusnya jadi LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) ke Dinas Kehutanan Kalsel,” tuturnya.

Diceritakannya, Pokdarwis sudah mengantongi izin mengelola kawasan hutan di lokasi itu sejak 2013 silam, namun surat keputusan (SK) sebagai Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) baru didapatkan pada 2015 oleh Gubernur Kalsel, H. Sahbirin Noor.

Kini pokdarwis tersebut diberikan tanggung jawab mengelola kawasan hutan seluas 1.005 hektare. Air Terjun Leno menjadi andalah mereka untuk menarik minat wisatan.

Sebelum pandemi Covid-19, Pokdarwis mampu menghasilkan kurang lebih Rp100 juta per tahun dari sektor retribusi. “Ketika Covid-19 melanda jumlah pengunjung menurun drastis, hingga akhirnya ditutup untuk menghindari penularan virus,” kata Jamin.

Di sisi lain, Sunari pendamping dari KPH Tabalong mengatakan, selain dimanfaatkan sebagai pengelola wisata, LPHD Lano juga merupakan sumber air bersih untuk desa Lano. “Ada pula agroforestry. Masyarakat bisa berkebun karet, kemiri, dan lainnya,” katanya.

Terkait wisata air terjun Lano, dia menuturkan, tempat itu dibuka secara resmi setelah mendapatkan dukungan langsung dari Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. “Waktu itu Paman Birin berkunjung. Lalu hujan, beliau tak bisa berteduh. Beliau kemudian berinisiatif secara pribadi membangun balai rakyat dan gazebo,” tuturnya. (ris/ran/ema)

Berada di ujung Kabupaten Tabalong, dan hanya berjarak sekitar 500 meter dari gerbang perbatasan Kalsel-Kaltim, Air Terjun Lano menawarkan wisata alam yang masih asri. Kini destinasi wisata ini kembali ramai, setelah setahun lebih ditutup karena pandemi Covid-19.

— Oleh: SUTRISNO, Tanjung

Bersama rombongan Press Tour Pemprov Kalsel, Radar Banjarmasin, Kamis (28/10) mengunjungi Air Terjun Lano di Desa Lano, Kecamatan Karo, Kabupaten Tebalong.

Berada di sisi kanan ruas jalan nasional trans Kalsel-Kaltim, untuk menuju lokasi wisata yang dikelola Pokdarwis Nagarawi itu hanya memerlukan waktu sekitar dua jam menggunakan mobil atau bus dari kota Tanjung.

Sementara untuk bisa mencapai ke lokasi air terjun, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 600 meter dari Balai Rakyat Desa Lano atau pintu masuk wisata.

Meski berjalan cukup jauh dengan medan sedikit menanjak, namun perjalanan yang ditempuh tidak begitu terasa. Karena rindangnya pepohonan di sepanjang rute membuat suasana teduh.

Hanya saja, pengunjung harus sedikit berhati-hati, karena rute ke air terjun sering menyeberangi sungai kecil. Selain itu, jalan cor di sepanjang rute juga sedikit licin apabila basah.

Anggota Pokdarwis Nagarawi, Taufik mengatakan, untuk sampai ke air terjun rata-rata pengunjung memerlukan waktu 30 menit hingga satu jam. Tergantung kemampuan fisik masing-masing.

Namun, sesampainya di air terjun, rasa lelah berjalan kaki akan terbayarkan dengan keindahan air terjun setinggi 50 meter. “Air terjun tidak bisa kering. Walaupun kemarau panjang, tetap ada airnya,” katanya.

Dia mengungkapkan, Air Terjun Lano sempat ditutup setahun lebih lantaran pandemi Covid-19. Baru kembali dibuka September 2021. “Sejak dibuka, kunjungan ramai lagi. Pada hari biasa ada puluhan pengunjung sehari, tapi kalau hari libur bisa sampai ratusan,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pokdarwis Nagarawi Jamin Effendi menuturkan, sebelumnya wilayah Air Terjun Lano merupakan hutan lindung yang berbatasan dengan Kaltim. “Kami kemudian mengajukan agar statusnya jadi LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) ke Dinas Kehutanan Kalsel,” tuturnya.

Diceritakannya, Pokdarwis sudah mengantongi izin mengelola kawasan hutan di lokasi itu sejak 2013 silam, namun surat keputusan (SK) sebagai Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) baru didapatkan pada 2015 oleh Gubernur Kalsel, H. Sahbirin Noor.

Kini pokdarwis tersebut diberikan tanggung jawab mengelola kawasan hutan seluas 1.005 hektare. Air Terjun Leno menjadi andalah mereka untuk menarik minat wisatan.

Sebelum pandemi Covid-19, Pokdarwis mampu menghasilkan kurang lebih Rp100 juta per tahun dari sektor retribusi. “Ketika Covid-19 melanda jumlah pengunjung menurun drastis, hingga akhirnya ditutup untuk menghindari penularan virus,” kata Jamin.

Di sisi lain, Sunari pendamping dari KPH Tabalong mengatakan, selain dimanfaatkan sebagai pengelola wisata, LPHD Lano juga merupakan sumber air bersih untuk desa Lano. “Ada pula agroforestry. Masyarakat bisa berkebun karet, kemiri, dan lainnya,” katanya.

Terkait wisata air terjun Lano, dia menuturkan, tempat itu dibuka secara resmi setelah mendapatkan dukungan langsung dari Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. “Waktu itu Paman Birin berkunjung. Lalu hujan, beliau tak bisa berteduh. Beliau kemudian berinisiatif secara pribadi membangun balai rakyat dan gazebo,” tuturnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/