alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Meningkat, Konsumsi BBM Warga Banua

BANJARMASIN – Sudah beberapa hari ini Sukma mengeluhkan susahnya mencari BBM. Beberapa SPBU yang ditemuinya kadang kehabisan. Dia pun terpaksa mengisi kendaraannya dengan BBM jenis pertamax. “Saya terpaksa harus beralih isi pertamax. Pertalite selalu kehabisan. Sudah sejak Rabu pekan lalu,” keluhnya kemarin.

Dia tak habis pikir, di saat Pertamina tak lagi menyuplai BBM jenis premium dengan mengalihkan ke BBM dengan RON di atasnya. Malah ketersediaannya susah dicari. “Apakah diharuskan berpindah ke pertamax lagi,” tanyanya.

Keluhan serupa disampaikan Putra. Kendaraan roda empat bututnya pun terpaksa “minum” pertamax beberapa hari ini, karena sempat kesusahan mencari pertalite. Jika ada pun sebutnya harus antre panjang dulu untuk dapat jatah.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan pasir dan barang bekas bangunan ini mengatakan, terganggunya ketersediaan pertalite di beberapa SPBU juga lantaran ramainya para pelangsir yang jumlahnya tak sedikit.

Para pelangsir ini lah sebutnya salah satu yang membuat terganggunya suplai kepada pemakai BBM langsung. “Anda lihat saja. Belum datang tangki BBM, mereka sudah menyemut. Akhirnya jatah kepada pemakai langsung kehabisan,” tuturnya.

Tak hanya BBM jenis pertalite yang beberapa hari ini susah dicari. BBM jenis solar pun demikian. Bahkan untuk mendapat BBM jenis ini, para sopir truk harus rela antre panjang mulai malam hari.

Mirisnya, karena antre panjang di badan jalan, membuat lalu lintas pun terganggu. Padahal mereka sudah diatur jadwal jam mengantre. Demi mendapat antrean, mau tak mau para sopir rela “ngetem” lebih dulu. Pasalnya, jika tak begitu, dipastikan tak mendapat BBM.

Soal antrean ini, beberapa hari yang lalu Satlantas Polresta Banjarmasin melakukan penindakan. Pasalnya antrean panjang truk yang berada di badan jalan tersebut selain mengganggu pengendara yang lain, juga sangat membahayakan.

Madi, salah satu sopir truk yang ditemui koran ini kemarin mengatakan, dirinya harus antre BBM lebih dulu karena takut kehabisan. Dampaknya, dia pun tak bisa bekerja karena kehabisan solar. “Mau bagaimana lagi. Tak antre tak dapat jatah. Ini harus ada solusi,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, antrean panjang ini kembali terjadi sekitar satu bulan ke belakang. Padahal sebutnya, sebelum ramai kembali antrean ini, dia mudah saja mendapat solar. “Paling lama antre 1 jam, sekarang bisa sampai 5 jam,” tukasnya.

***

Soal kondisi ini, Susanto August Satria, Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR VI Pertamina Kalimantan menegaskan, tak ada kelangkaan BBM di Kalsel, baik jenis pertalite maupun solar. Turunnya level PPKM dari level IV ke level 2-3 yang membuat mobilitas masyarakat meningkat dan menyerap banyak BBM.

Surya membuka data, pada bulan September lalu yang status PPKM di Banjarmasin dan Banjarbaru masih di level 4, konsumsi pertalite sebanyak 936 KL/hari. Sedangkan di bulan Oktober yang mana status PPKM mengalami penurunan, konsumsi pertalite di Kalsel rata-rata harian mencapai 1.084 KL/hari.

Dengan data tersebut terangnya, bukan karena kelangkaan yang terjadi. Namun peningkatan konsumsi dikarenakan aktivitas masyarakat yang mulai aktif dengan kebiasaan normal yang baru. “Ada kenaikan konsumsi sebesar 16 persen setelah turunnya status level PPKM ke level 2-3,” sebutnya sembari menegaskan, suplai ke Kalsel tak ada pengurangan.

Bagaimana dengan BBM jenis solar? Dia menegaskan kembali, suplai tak pernah dikurangi, penyalurannya sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh Regulator dalam hal ini pemerintah atau BPH Migas. “Solar masuk jenis BBM tertentu yang merupakan subsidi, makanya penggunaannya diatur oleh undang-undang, kami tak mengurangi sama seperti pertalite,” tambahnya.

Diungkapkannya, jika pertalite dalam beberapa pekan mengalami peningkatan konsumsi sebesar 16 persen. Sementara, BBM jenis solar mengalami peningkatan konsumsi sebesar 1,7 persen dibandingkan dengan bulan September lalu.

Dimana penyaluran solar Jenis BBM Tertentu (JBT) ini pada bulan September rerata harian adalah 557 KL/hari. Sedangkan pada bulan Oktober per tanggal 26 tadi adalah 566 KL/hari. “Ada peningkatan konsumsi. Sekali lagi tak ada pengurangan suplai, karena sesuai dengan kuota yang ditetapkan oleh regulator,” tandasnya. (mof)

Daerah Hulu Sungai, Pertamax Masih Sering Kosong

Di hulu sungai, permasalahan kelangkaan ditengarai karena faktor pengiriman dan banyaknya pelangsiran. SPBU di Balangan misalnya sering sekali kehabisan BBM di bulan ini.

Kepala Operasional SPBU Haur Batu Kecamatan Paringin, Aulia Rahman mengatakan bulan September kemarin pihaknya mendapat jatah 220 kiloliter (22 tangki) Pertamax dan 150 kiloliter Pertalite. Sementara bulan Oktober sampai dengan tanggal 27 tadi hanya mendapat jatah Pertamax 160 kiloliter dan Pertalite 150 kiloliter.

“Sejauh yang kami ketahui, semua lembaga penyalur (SPBU dan Pertashop) se-Kalsel mengalami hal yang sama. Ditanya ke Banjarmasin, alasannya karena minyaknya terbatas jadi jatahnya harus dibagi-bagi. Cuma keterangan resminya belum ada dari Pertamina,” ujarnya.

Sementara itu, di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), pasokan pertamax sudah lama kosong. “Sudah tiga hari kosong pak. Sudah pesan tapi belum datang,” ucap pegawai SPBU di Kota Amuntai.

Kekosongan Pertamax juga terjadi di SPBU Panangkalaan, hanya petugas mesin Pertalite yang terlihat melayani pengendara. “Pertamax kosong pak,” sampai sumber di SPBU tersebut.

Terkait hal ini, Kapolres Hulu Sungai Utara (HSU) AKBP Afri Darmawan meminta anggotanya terjun memantau kondisi BBM pada SPBU di wilayah hukumnya. Apabila terjadi kelangkaan BBM, pihaknya akan melakukan penyelidikan lewat satuan reskrim. “Ada temuan pelanggaran, saya tindak tegas,” tegas kapolres.

Langkanya pertamax juga terjadi di SPBU Desa Mandingin, Kecamatan Barabai. BBM jenis pertamax sudah habis menjelang siang hari. Sama dengan SPBU di Desa Durian Gantang, di SPBU ini terpasang tulisan “Pertamax dalam proses pengiriman” Kamis (28/10) kemarin.

Padahal jika melihat data SPBU tersebut. Pasokan pertamax selalu diterima di bulan Oktober. Tercatat bulan Oktober SPBU ini melakukan pengisian pertamax sebanyak 13 kali. Setiap pengisian jumlah pertamax yang datang sebanyak 8.000 liter.

Anehnya pertamax habis hanya dalam kurun waktu dua hari. Padahal di HST jumlah SPBU lumayan banyak, yakni 10 SPBU. Jika melihat data ini, terlihat tidak ada pengurangan jumlah BBM yang diterima. Jumlahnya selalu konsisten di angka 8.000 liter.

“Pokoknya kalau pertamax ada paling lama hanya tiga jam langsung ludes diambil para pelangsir,” ujar sumber Radar Banjarmasin. Tak hanya di satu SPBU saja, kejadian tersebut berlaku di setiap SPBU di HST.

Daerah lain, pasokan SPBU masih cukup normal. SPBU Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin misalnya mengaku tidak ada pengurangan distribusi Pertamax atau Pertalite.

Hanya memang Pengawas SPBU Zainuddin mengatakan biasa menerima para pelangsir. Namun mereka dibatasi. Hanya 200 liter masing-masing pelanggan. “Jadi kebijakan ini hanya melayani pelangsir yang membagikan ke pelosok-pelosok atau wilayah yang jauh dari pom bensin,” bebernya.

Di Kandangan, Dinas Perdagangan setempat melakukan pengawasan untuk distribusi BBM. Mencegah supaya tidak terjadi penyalahgunaan penjualan BBM, Dinas Perdagangan selalu rutin melakukan pengawasan sampai mengingatkan supaya tidak terjadi pelangsiran.

Kepala Dinas Perdagangan HSS, Sudiono menambahkan jajarannya juga rutin meminta SPBU supaya mengatur melayani penjualan BBM tidak sampai terjadi antrean panjang. “Supaya semua lapisan masyarakat merasakan penjualan BBM,” katanya.

Di Tanah Bumbu, pasokan pertamax terpantau aman. Antrean lancar. ” Kita ambil gak dari Banjarmasin, tapi dari depot Pertamina di Kotabaru,” kata Pengawas SPBU Batulicin, Said Nazamudin.

Dia mengaku, pelangsiran di tempatnya minim. “Masih banyak pembeli umum. Kuota juga, kalau mau habis kita mesan lagi,” tambahnya.

Senada, Pengawas SPBU Pal 8, Arif Hidayat mengatakan kuota lancar. SPBU nya sendiri baru buka dua bulan lalu. “Pelangsir paling cuma dua puluh persen,” akunya.

Terminal BBM Kotabaru juga menepis isu kelangkaan. Adam Malik selaku Distribusi TBBM Kotabaru Group PT Pertamina mengatakan kondisinya bisa dipantau di SPBU. “Bisa dilihat mas, tidak ada mobil yang menumpuk, artinya tidak ada permintaan tidak terpenuhi dan dipastikan aman,” ungkapnya. (mof/bar/why/dly/mar/shn/mar/mal/jum/zal/ran/ema)

BANJARMASIN – Sudah beberapa hari ini Sukma mengeluhkan susahnya mencari BBM. Beberapa SPBU yang ditemuinya kadang kehabisan. Dia pun terpaksa mengisi kendaraannya dengan BBM jenis pertamax. “Saya terpaksa harus beralih isi pertamax. Pertalite selalu kehabisan. Sudah sejak Rabu pekan lalu,” keluhnya kemarin.

Dia tak habis pikir, di saat Pertamina tak lagi menyuplai BBM jenis premium dengan mengalihkan ke BBM dengan RON di atasnya. Malah ketersediaannya susah dicari. “Apakah diharuskan berpindah ke pertamax lagi,” tanyanya.

Keluhan serupa disampaikan Putra. Kendaraan roda empat bututnya pun terpaksa “minum” pertamax beberapa hari ini, karena sempat kesusahan mencari pertalite. Jika ada pun sebutnya harus antre panjang dulu untuk dapat jatah.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan pasir dan barang bekas bangunan ini mengatakan, terganggunya ketersediaan pertalite di beberapa SPBU juga lantaran ramainya para pelangsir yang jumlahnya tak sedikit.

Para pelangsir ini lah sebutnya salah satu yang membuat terganggunya suplai kepada pemakai BBM langsung. “Anda lihat saja. Belum datang tangki BBM, mereka sudah menyemut. Akhirnya jatah kepada pemakai langsung kehabisan,” tuturnya.

Tak hanya BBM jenis pertalite yang beberapa hari ini susah dicari. BBM jenis solar pun demikian. Bahkan untuk mendapat BBM jenis ini, para sopir truk harus rela antre panjang mulai malam hari.

Mirisnya, karena antre panjang di badan jalan, membuat lalu lintas pun terganggu. Padahal mereka sudah diatur jadwal jam mengantre. Demi mendapat antrean, mau tak mau para sopir rela “ngetem” lebih dulu. Pasalnya, jika tak begitu, dipastikan tak mendapat BBM.

Soal antrean ini, beberapa hari yang lalu Satlantas Polresta Banjarmasin melakukan penindakan. Pasalnya antrean panjang truk yang berada di badan jalan tersebut selain mengganggu pengendara yang lain, juga sangat membahayakan.

Madi, salah satu sopir truk yang ditemui koran ini kemarin mengatakan, dirinya harus antre BBM lebih dulu karena takut kehabisan. Dampaknya, dia pun tak bisa bekerja karena kehabisan solar. “Mau bagaimana lagi. Tak antre tak dapat jatah. Ini harus ada solusi,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, antrean panjang ini kembali terjadi sekitar satu bulan ke belakang. Padahal sebutnya, sebelum ramai kembali antrean ini, dia mudah saja mendapat solar. “Paling lama antre 1 jam, sekarang bisa sampai 5 jam,” tukasnya.

***

Soal kondisi ini, Susanto August Satria, Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR VI Pertamina Kalimantan menegaskan, tak ada kelangkaan BBM di Kalsel, baik jenis pertalite maupun solar. Turunnya level PPKM dari level IV ke level 2-3 yang membuat mobilitas masyarakat meningkat dan menyerap banyak BBM.

Surya membuka data, pada bulan September lalu yang status PPKM di Banjarmasin dan Banjarbaru masih di level 4, konsumsi pertalite sebanyak 936 KL/hari. Sedangkan di bulan Oktober yang mana status PPKM mengalami penurunan, konsumsi pertalite di Kalsel rata-rata harian mencapai 1.084 KL/hari.

Dengan data tersebut terangnya, bukan karena kelangkaan yang terjadi. Namun peningkatan konsumsi dikarenakan aktivitas masyarakat yang mulai aktif dengan kebiasaan normal yang baru. “Ada kenaikan konsumsi sebesar 16 persen setelah turunnya status level PPKM ke level 2-3,” sebutnya sembari menegaskan, suplai ke Kalsel tak ada pengurangan.

Bagaimana dengan BBM jenis solar? Dia menegaskan kembali, suplai tak pernah dikurangi, penyalurannya sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh Regulator dalam hal ini pemerintah atau BPH Migas. “Solar masuk jenis BBM tertentu yang merupakan subsidi, makanya penggunaannya diatur oleh undang-undang, kami tak mengurangi sama seperti pertalite,” tambahnya.

Diungkapkannya, jika pertalite dalam beberapa pekan mengalami peningkatan konsumsi sebesar 16 persen. Sementara, BBM jenis solar mengalami peningkatan konsumsi sebesar 1,7 persen dibandingkan dengan bulan September lalu.

Dimana penyaluran solar Jenis BBM Tertentu (JBT) ini pada bulan September rerata harian adalah 557 KL/hari. Sedangkan pada bulan Oktober per tanggal 26 tadi adalah 566 KL/hari. “Ada peningkatan konsumsi. Sekali lagi tak ada pengurangan suplai, karena sesuai dengan kuota yang ditetapkan oleh regulator,” tandasnya. (mof)

Daerah Hulu Sungai, Pertamax Masih Sering Kosong

Di hulu sungai, permasalahan kelangkaan ditengarai karena faktor pengiriman dan banyaknya pelangsiran. SPBU di Balangan misalnya sering sekali kehabisan BBM di bulan ini.

Kepala Operasional SPBU Haur Batu Kecamatan Paringin, Aulia Rahman mengatakan bulan September kemarin pihaknya mendapat jatah 220 kiloliter (22 tangki) Pertamax dan 150 kiloliter Pertalite. Sementara bulan Oktober sampai dengan tanggal 27 tadi hanya mendapat jatah Pertamax 160 kiloliter dan Pertalite 150 kiloliter.

“Sejauh yang kami ketahui, semua lembaga penyalur (SPBU dan Pertashop) se-Kalsel mengalami hal yang sama. Ditanya ke Banjarmasin, alasannya karena minyaknya terbatas jadi jatahnya harus dibagi-bagi. Cuma keterangan resminya belum ada dari Pertamina,” ujarnya.

Sementara itu, di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), pasokan pertamax sudah lama kosong. “Sudah tiga hari kosong pak. Sudah pesan tapi belum datang,” ucap pegawai SPBU di Kota Amuntai.

Kekosongan Pertamax juga terjadi di SPBU Panangkalaan, hanya petugas mesin Pertalite yang terlihat melayani pengendara. “Pertamax kosong pak,” sampai sumber di SPBU tersebut.

Terkait hal ini, Kapolres Hulu Sungai Utara (HSU) AKBP Afri Darmawan meminta anggotanya terjun memantau kondisi BBM pada SPBU di wilayah hukumnya. Apabila terjadi kelangkaan BBM, pihaknya akan melakukan penyelidikan lewat satuan reskrim. “Ada temuan pelanggaran, saya tindak tegas,” tegas kapolres.

Langkanya pertamax juga terjadi di SPBU Desa Mandingin, Kecamatan Barabai. BBM jenis pertamax sudah habis menjelang siang hari. Sama dengan SPBU di Desa Durian Gantang, di SPBU ini terpasang tulisan “Pertamax dalam proses pengiriman” Kamis (28/10) kemarin.

Padahal jika melihat data SPBU tersebut. Pasokan pertamax selalu diterima di bulan Oktober. Tercatat bulan Oktober SPBU ini melakukan pengisian pertamax sebanyak 13 kali. Setiap pengisian jumlah pertamax yang datang sebanyak 8.000 liter.

Anehnya pertamax habis hanya dalam kurun waktu dua hari. Padahal di HST jumlah SPBU lumayan banyak, yakni 10 SPBU. Jika melihat data ini, terlihat tidak ada pengurangan jumlah BBM yang diterima. Jumlahnya selalu konsisten di angka 8.000 liter.

“Pokoknya kalau pertamax ada paling lama hanya tiga jam langsung ludes diambil para pelangsir,” ujar sumber Radar Banjarmasin. Tak hanya di satu SPBU saja, kejadian tersebut berlaku di setiap SPBU di HST.

Daerah lain, pasokan SPBU masih cukup normal. SPBU Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin misalnya mengaku tidak ada pengurangan distribusi Pertamax atau Pertalite.

Hanya memang Pengawas SPBU Zainuddin mengatakan biasa menerima para pelangsir. Namun mereka dibatasi. Hanya 200 liter masing-masing pelanggan. “Jadi kebijakan ini hanya melayani pelangsir yang membagikan ke pelosok-pelosok atau wilayah yang jauh dari pom bensin,” bebernya.

Di Kandangan, Dinas Perdagangan setempat melakukan pengawasan untuk distribusi BBM. Mencegah supaya tidak terjadi penyalahgunaan penjualan BBM, Dinas Perdagangan selalu rutin melakukan pengawasan sampai mengingatkan supaya tidak terjadi pelangsiran.

Kepala Dinas Perdagangan HSS, Sudiono menambahkan jajarannya juga rutin meminta SPBU supaya mengatur melayani penjualan BBM tidak sampai terjadi antrean panjang. “Supaya semua lapisan masyarakat merasakan penjualan BBM,” katanya.

Di Tanah Bumbu, pasokan pertamax terpantau aman. Antrean lancar. ” Kita ambil gak dari Banjarmasin, tapi dari depot Pertamina di Kotabaru,” kata Pengawas SPBU Batulicin, Said Nazamudin.

Dia mengaku, pelangsiran di tempatnya minim. “Masih banyak pembeli umum. Kuota juga, kalau mau habis kita mesan lagi,” tambahnya.

Senada, Pengawas SPBU Pal 8, Arif Hidayat mengatakan kuota lancar. SPBU nya sendiri baru buka dua bulan lalu. “Pelangsir paling cuma dua puluh persen,” akunya.

Terminal BBM Kotabaru juga menepis isu kelangkaan. Adam Malik selaku Distribusi TBBM Kotabaru Group PT Pertamina mengatakan kondisinya bisa dipantau di SPBU. “Bisa dilihat mas, tidak ada mobil yang menumpuk, artinya tidak ada permintaan tidak terpenuhi dan dipastikan aman,” ungkapnya. (mof/bar/why/dly/mar/shn/mar/mal/jum/zal/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/