alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Indeks Risiko Bencana Kalsel Tinggi

BANJARBARU – Dihajar banjir besar pada awal 2021, dan rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat indeks risiko bencana (IRB) di Kalimantan Selatan masuk kategori tinggi.

Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Mujiyat mengatakan, indeks risiko bencana di Kalsel tinggi karena skornya mencapai 144. “Tahun depan kami harapkan bisa turun menjadi 138, dengan kategori sedang,” katanya.

Dia mengungkapkan, sejumlah kegiatan dan program sedang mereka lakukan untuk menurunkan IRB di Kalsel. “Salah satunya berkoordinasi dan melakukan sosialisasi kepada semua BPBD di kabupaten/kota di Kalsel terkait mitigasi bencana,” ungkapnya.

Terutama untuk daerah rawan bencana, seperti Tanah Laut, Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Banjar dan Tanah Bumbu menurutnya menjadi perhatian khusus mereka.  “Karena indeks kebencanaan akumulasi dari semua bencana yang terjadi,” ujarnya.

Disampaikan Mujiyat, di Banua ada empat bencana yang sering terjadi. Yakni, banjir, karhutla, tanah longsor, dan puting beliung.  “Kami berharap nantinya setiap daerah sudah siap menghadapi bencana dan mengerti langkah untuk antisipasi bencana,” ucapnya.

Selain rutin melakukan koordinasi dan sosialisasi, dia menuturkan, Kalsel juga akan menambah Early Warning Sistem (EWS) untuk daerah rawan bencana di Kalsel. “Untuk jumlahnya kita melihat ketersediaan anggarannya tahun nanti,” tuturnya.

Kalsel saat ini sebenarnya punya 8 EWS yang tersebar di kabupaten/kota. Namun, sebagian besar kondisinya kurang baik. Sehingga, diperlukan penambahan agar bencana dapat terdeteksi sejak dini.

“Nanti begitu kita beli, kita minta agar daerah bisa bertanggungjawab merawat dan mengoperasikannya. Sehingga, dapat dijaga dengan baik,” kata Mujiyat.

Waspada bencana memang sudah harus dilakukan, karena kini sebagian besar wilayah Kalsel memasuki musim hujan. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan akan meninggi pada akhir tahun.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto mengatakan, peluang curah hujan pada Oktober 2021 ini sebenarnya mengalami penurunan dibanding September 2021. Namun, mulai meningkat pada bulan November, Desember hingga Februari 2022.

Dia mengungkapkan, kondisi umum prakiraan curah hujan di Kalsel pada Oktober 2021 diperkirakan didominasi kriteria menengah (150-200 mm). Kemudian, November 2021 didominasi kriteria menengah (200 – 300 mm), dan Desember 2021 didominasi kriteria tinggi (300-400) mm.

Terkait wilayah yang sudah memasuki musim hujan, Goeroeh menyebut, hingga kini sudah ada tujuh daerah yang memasuki musim hujan. Yakni, Banjarmasin, Banjarbaru, Tanah Laut, Barito Kuala, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Tabalong.

Sedangkan wilayah yang belum memasuki musim hujan, Hulu Sungai Utara, Balangan bagian Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin dan Banjar bagian Utara. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Dihajar banjir besar pada awal 2021, dan rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat indeks risiko bencana (IRB) di Kalimantan Selatan masuk kategori tinggi.

Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Mujiyat mengatakan, indeks risiko bencana di Kalsel tinggi karena skornya mencapai 144. “Tahun depan kami harapkan bisa turun menjadi 138, dengan kategori sedang,” katanya.

Dia mengungkapkan, sejumlah kegiatan dan program sedang mereka lakukan untuk menurunkan IRB di Kalsel. “Salah satunya berkoordinasi dan melakukan sosialisasi kepada semua BPBD di kabupaten/kota di Kalsel terkait mitigasi bencana,” ungkapnya.

Terutama untuk daerah rawan bencana, seperti Tanah Laut, Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Banjar dan Tanah Bumbu menurutnya menjadi perhatian khusus mereka.  “Karena indeks kebencanaan akumulasi dari semua bencana yang terjadi,” ujarnya.

Disampaikan Mujiyat, di Banua ada empat bencana yang sering terjadi. Yakni, banjir, karhutla, tanah longsor, dan puting beliung.  “Kami berharap nantinya setiap daerah sudah siap menghadapi bencana dan mengerti langkah untuk antisipasi bencana,” ucapnya.

Selain rutin melakukan koordinasi dan sosialisasi, dia menuturkan, Kalsel juga akan menambah Early Warning Sistem (EWS) untuk daerah rawan bencana di Kalsel. “Untuk jumlahnya kita melihat ketersediaan anggarannya tahun nanti,” tuturnya.

Kalsel saat ini sebenarnya punya 8 EWS yang tersebar di kabupaten/kota. Namun, sebagian besar kondisinya kurang baik. Sehingga, diperlukan penambahan agar bencana dapat terdeteksi sejak dini.

“Nanti begitu kita beli, kita minta agar daerah bisa bertanggungjawab merawat dan mengoperasikannya. Sehingga, dapat dijaga dengan baik,” kata Mujiyat.

Waspada bencana memang sudah harus dilakukan, karena kini sebagian besar wilayah Kalsel memasuki musim hujan. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan akan meninggi pada akhir tahun.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto mengatakan, peluang curah hujan pada Oktober 2021 ini sebenarnya mengalami penurunan dibanding September 2021. Namun, mulai meningkat pada bulan November, Desember hingga Februari 2022.

Dia mengungkapkan, kondisi umum prakiraan curah hujan di Kalsel pada Oktober 2021 diperkirakan didominasi kriteria menengah (150-200 mm). Kemudian, November 2021 didominasi kriteria menengah (200 – 300 mm), dan Desember 2021 didominasi kriteria tinggi (300-400) mm.

Terkait wilayah yang sudah memasuki musim hujan, Goeroeh menyebut, hingga kini sudah ada tujuh daerah yang memasuki musim hujan. Yakni, Banjarmasin, Banjarbaru, Tanah Laut, Barito Kuala, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Tabalong.

Sedangkan wilayah yang belum memasuki musim hujan, Hulu Sungai Utara, Balangan bagian Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin dan Banjar bagian Utara. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/