alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Vaksinasi Lansia di Banjarbaru, Meski Tinggi Masih Ada yang Anti

BANJARBARU – Di tingkat Kalsel, cakupan vaksinasi untuk kategori lanjut usia (lansia) jadi yang tertinggi. Pemko Banjarbaru mengklaim bahwa vaksinasi lansia terus berprogres.

Menurut data teranyar Dinkes Banjarbaru, cakupan vaksinasi lansia hingga Kamis (21/10) sudah mencapai 32,9 persen untuk dosis pertama. Sementara dosis kedua mengikuti di angka 23 persen.

“Target vaksinasi lansia kira adalah 13.639 orang, nah dari target tersebut sudah tercapai 32 persen atau setara dengan 4.404 orang. Kalau dosis kedua itu ada 3.165 orang atau 23 persennya,” kata Kadinkes Banjarbaru, Rizana Mirza.

Jika dibandingkan dengan kab/kota lainnya di Kalsel. Banjarbaru tegas Rizana memang tertinggi, bahkan mampu melampaui Kota tetangga: Banjarmasin yang persentase cakupannya 27,79 persen per 20 Oktober 2021.

“Alhamdulillah cakupan kita bagus, untuk Provinsi sendiri menurut data cakupannya sudah 15 persen sedangkan Indonesia cakupannya 36,2 persen,” rincinya.

Dari pusat sendiri ujar Mirza menargetkan tiap-tiap daerah bisa mencapai 40 persen untuk kalangan lansia. Bahkan hal ini disebut-sebut jadi salah satu indikator penentuan tingkatan level PPKM.

“Karena sebetulnya vaksinasi lansia ini sangat penting, sebab mereka adalah kelompok dengan risiko sangat tinggi. Dari data kita banyak korban yang meninggal adalah lansia dan sangat dipengaruhi komorbit atau penyakit penyertanya,” tambahnya.

Meski jadi yang tertinggi, masalah klasik vaksinasi lansia kata Rizana tak dapat dipungkiri. Misalnya yang kerap ia dapati adalah minimnya peran anggota keluarga dari lansia yang membantu proses vaksinasi lansia.

“Kalangan lansia ini kan mereka kadang kesulitan ke lokasi vaksin, nah harapan kita anggota keluarganya atau ketua RT setempat bisa mengantar. Ini cukup masih jadi kendala kita di lapangan, karena kita juga tidak memungkinkan mendatangi satu per satu,” katanya.

Selain soal sulitnya mobilitas, Rizana menyebut jika sudut pandang ihwal vaksinasi bagi lansia juga masih ditemui. “Masih ada juga lansia yang bisa dikatakan anti divaksin karena berbagai alasan dan hal.”

Melihat situasi ini, Rizana kembali berharap agar pihak keluarga bisa memberikan edukasi dan pandangan. Termasuk menurutnya ada peran dari lembaga atau instansi terkait untuk mengatasi kendala ini.

“Saya kira ada beberapa sudut pandang atau pendekatan yang bisa dilakukan, salah satu yang utamanya adalah terkait status vaksinasi ini yang sudah dinyatakan halal oleh MUI, nah ini perlu disosialisasikan,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Di tingkat Kalsel, cakupan vaksinasi untuk kategori lanjut usia (lansia) jadi yang tertinggi. Pemko Banjarbaru mengklaim bahwa vaksinasi lansia terus berprogres.

Menurut data teranyar Dinkes Banjarbaru, cakupan vaksinasi lansia hingga Kamis (21/10) sudah mencapai 32,9 persen untuk dosis pertama. Sementara dosis kedua mengikuti di angka 23 persen.

“Target vaksinasi lansia kira adalah 13.639 orang, nah dari target tersebut sudah tercapai 32 persen atau setara dengan 4.404 orang. Kalau dosis kedua itu ada 3.165 orang atau 23 persennya,” kata Kadinkes Banjarbaru, Rizana Mirza.

Jika dibandingkan dengan kab/kota lainnya di Kalsel. Banjarbaru tegas Rizana memang tertinggi, bahkan mampu melampaui Kota tetangga: Banjarmasin yang persentase cakupannya 27,79 persen per 20 Oktober 2021.

“Alhamdulillah cakupan kita bagus, untuk Provinsi sendiri menurut data cakupannya sudah 15 persen sedangkan Indonesia cakupannya 36,2 persen,” rincinya.

Dari pusat sendiri ujar Mirza menargetkan tiap-tiap daerah bisa mencapai 40 persen untuk kalangan lansia. Bahkan hal ini disebut-sebut jadi salah satu indikator penentuan tingkatan level PPKM.

“Karena sebetulnya vaksinasi lansia ini sangat penting, sebab mereka adalah kelompok dengan risiko sangat tinggi. Dari data kita banyak korban yang meninggal adalah lansia dan sangat dipengaruhi komorbit atau penyakit penyertanya,” tambahnya.

Meski jadi yang tertinggi, masalah klasik vaksinasi lansia kata Rizana tak dapat dipungkiri. Misalnya yang kerap ia dapati adalah minimnya peran anggota keluarga dari lansia yang membantu proses vaksinasi lansia.

“Kalangan lansia ini kan mereka kadang kesulitan ke lokasi vaksin, nah harapan kita anggota keluarganya atau ketua RT setempat bisa mengantar. Ini cukup masih jadi kendala kita di lapangan, karena kita juga tidak memungkinkan mendatangi satu per satu,” katanya.

Selain soal sulitnya mobilitas, Rizana menyebut jika sudut pandang ihwal vaksinasi bagi lansia juga masih ditemui. “Masih ada juga lansia yang bisa dikatakan anti divaksin karena berbagai alasan dan hal.”

Melihat situasi ini, Rizana kembali berharap agar pihak keluarga bisa memberikan edukasi dan pandangan. Termasuk menurutnya ada peran dari lembaga atau instansi terkait untuk mengatasi kendala ini.

“Saya kira ada beberapa sudut pandang atau pendekatan yang bisa dilakukan, salah satu yang utamanya adalah terkait status vaksinasi ini yang sudah dinyatakan halal oleh MUI, nah ini perlu disosialisasikan,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/