alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Al Jihad Sudah Cabut Stiker Pembatas Saf, Sabilal Muhtadin Belum

BANJARMASIN – Tidak hanya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi saja yang  mencabut pembatas saf. Di Banjarmasin, Masjid Al Jihad melakukan hal serupa. Masjid tersebut beroperasi penuh mulai Minggu (17/10) sore.

Stiker jaga jarak yang ada di ruang induk masjid kini sudah dilepas. Hanya tersisa di bagian luar. Pencabutan stiker di bagian luar, akan dilanjutkan lagi secara bertahap.

“Pembatas saf sudah dicabut setelah salat Ashar,  Minggu tadi,” ungkap Sekretaris Masjid Al Jihad Banjarmasin, Nanang Hairil Muhaidi, Senin (18/10) siang.

Dengan pelonggaran tersebut, masjid ini akan beroperasi dengan kapasitas penuh. Berbeda dengan selama pandemi Covid-19 melanda pada awal tahun 2021, seluruh masjid di Banjarmasin, termasuk Al Jihad, menerapkan protokol kesehatan ketat. Pengelola memasang stiker pembatas saf. Jaraknya sekitar satu meter.

Di sejumlah titik di lingkungan masjid juga dipasang spanduk aturan protokol kesehatan. Bagi jemaah yang sakit diimbau agar melaksanakan salat di rumah saja.

Nanang menjelaskan, pelonggaran ini tidak lantaran melihat Pemerintah Arab Saudi, tapi karena ada beberapa pertimbangan.  Salah satunya desakan yang  datang dari para jemaah. Namun, pengelola tidak bisa langsung menyetujui, karena ada berbagai alasan.

Diantaranya, melihat perkembangan kasus Covid-19 di Banjarmasin yang melandai. Dapat dilihat dari pemberitaan, disebutkan rumah sakit sudah tidak ada lagi pasien Covid-19. Selain itu, level PPKM di kota ini juga sudah turun.

“Tingkat vaksinasi jemaah, karyawan, pengurus sudah hampir semuanya, baik melalui mandiri, atau lembaga mereka sendiri,” jelasnya.

Meski begitu, Nanang mengimbau kepada jemaah agar tetap waspada. Caranya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. “Tetap prokes ketat, pakai masker, tempat cuci tangan dan hand sanitizer kita siapkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Masjid Raya Sabilal Muhtadin Syamsu Rani mengungkapkan hal yang sama. Rencana, pencabutan stiker pembatas saf sudah dibicarakan mulai Jumat (15/10) lalu. Namun realisasinya masih belum.

“Untuk merapatkan barisan salat belum kami laksanakan, karena belum rapat pengurus,” ucapnya.

Kasi Binmas Islam Kemenag Banjarmasin Ahmad Sya’rani belum bisa berkomentar banyak, karena masih menunggu arahan pusat. Sementara ini masih mengacu pada Surat Edaran (SE) dari Menteri Agama RI.  “Menjaga jarak itu sebenarnya untuk menjaga kesehatan kita juga,” katanya.

Menurut dia, sejauh ini tidak ada kasus penyebaran Covid-19 di lingkungan masjid. Ini harus dipertahankan. Tetap waspada dan patuhi protokol kesehatan saat beribadah.

“Dari 220 masjid di Banjarmasin tidak ada kasus di masjid yang terpapar. Artinya masyarakat semakin sadar pentingnya protokol kesehatan,” ucapnya.

Ahmad Sya’rani menyampaikan, jika ada surat edaran baru, pihaknya  segera menyampaikan ke pengurus masjid. (gmp)

BANJARMASIN – Tidak hanya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi saja yang  mencabut pembatas saf. Di Banjarmasin, Masjid Al Jihad melakukan hal serupa. Masjid tersebut beroperasi penuh mulai Minggu (17/10) sore.

Stiker jaga jarak yang ada di ruang induk masjid kini sudah dilepas. Hanya tersisa di bagian luar. Pencabutan stiker di bagian luar, akan dilanjutkan lagi secara bertahap.

“Pembatas saf sudah dicabut setelah salat Ashar,  Minggu tadi,” ungkap Sekretaris Masjid Al Jihad Banjarmasin, Nanang Hairil Muhaidi, Senin (18/10) siang.

Dengan pelonggaran tersebut, masjid ini akan beroperasi dengan kapasitas penuh. Berbeda dengan selama pandemi Covid-19 melanda pada awal tahun 2021, seluruh masjid di Banjarmasin, termasuk Al Jihad, menerapkan protokol kesehatan ketat. Pengelola memasang stiker pembatas saf. Jaraknya sekitar satu meter.

Di sejumlah titik di lingkungan masjid juga dipasang spanduk aturan protokol kesehatan. Bagi jemaah yang sakit diimbau agar melaksanakan salat di rumah saja.

Nanang menjelaskan, pelonggaran ini tidak lantaran melihat Pemerintah Arab Saudi, tapi karena ada beberapa pertimbangan.  Salah satunya desakan yang  datang dari para jemaah. Namun, pengelola tidak bisa langsung menyetujui, karena ada berbagai alasan.

Diantaranya, melihat perkembangan kasus Covid-19 di Banjarmasin yang melandai. Dapat dilihat dari pemberitaan, disebutkan rumah sakit sudah tidak ada lagi pasien Covid-19. Selain itu, level PPKM di kota ini juga sudah turun.

“Tingkat vaksinasi jemaah, karyawan, pengurus sudah hampir semuanya, baik melalui mandiri, atau lembaga mereka sendiri,” jelasnya.

Meski begitu, Nanang mengimbau kepada jemaah agar tetap waspada. Caranya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. “Tetap prokes ketat, pakai masker, tempat cuci tangan dan hand sanitizer kita siapkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Masjid Raya Sabilal Muhtadin Syamsu Rani mengungkapkan hal yang sama. Rencana, pencabutan stiker pembatas saf sudah dibicarakan mulai Jumat (15/10) lalu. Namun realisasinya masih belum.

“Untuk merapatkan barisan salat belum kami laksanakan, karena belum rapat pengurus,” ucapnya.

Kasi Binmas Islam Kemenag Banjarmasin Ahmad Sya’rani belum bisa berkomentar banyak, karena masih menunggu arahan pusat. Sementara ini masih mengacu pada Surat Edaran (SE) dari Menteri Agama RI.  “Menjaga jarak itu sebenarnya untuk menjaga kesehatan kita juga,” katanya.

Menurut dia, sejauh ini tidak ada kasus penyebaran Covid-19 di lingkungan masjid. Ini harus dipertahankan. Tetap waspada dan patuhi protokol kesehatan saat beribadah.

“Dari 220 masjid di Banjarmasin tidak ada kasus di masjid yang terpapar. Artinya masyarakat semakin sadar pentingnya protokol kesehatan,” ucapnya.

Ahmad Sya’rani menyampaikan, jika ada surat edaran baru, pihaknya  segera menyampaikan ke pengurus masjid. (gmp)

Most Read

Artikel Terbaru

/