alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Lagi, Gagal Buka Sekolah Gara-Gara Aturan

BANJARBARU – Meski sudah diperkenankan  menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) sejak Senin (4/10) tadi, namun hingga kini sejumlah SMA/SMK dan SLB piloting di Kalsel belum juga membuka sekolah.

SMAN 2 Banjarbaru misalnya, kemarin (7/10) tampak masih sepi. Belum ada aktivitas belajar mengajar di sekolah yang menjadi salah satu percontohan PTM di Banjarbaru ini.

Kepala SMAN 2 Banjarbaru, Eksan Wasesa mengatakan, sekolah belum mereka buka lantaran sejumlah siswa baru menjalani vaksinasi Covid-19. “Siswa yang baru divaksin istirahat dulu. Mungkin, pekan depan sekolah baru dibuka,” katanya.

Dia mengungkapkan, vaksinasi sekarang sudah tidak menjadi persoalan bagi sekolah yang ingin menggelar PTM. Sebab, hampir semuanya sebagian besar siswanya sudah divaksin. “Kalau di sini, dari 960 siswa sudah 96 persen yang divaksin,” ungkapnya.

Namun, disampaikan Eksan, persoalan lain yang membuat mereka bingung saat ini ialah memenuhi syarat wajib rapid tes antigen bagi seluruh warga sekolah yang ingin mengikuti PTM. “Kalau misal setiap hari semuanya dites antigen, biayanya dari mana? Kalau ada 900 siswa, maka kita memerlukan dana 90 jutaan sehari,” ucapnya.

Dia berharap, ada solusi bagi sekolah yang tidak punya anggaran untuk melaksanakan rapid tes antigen. “Kalau kami, rencananya para siswa melakukan rapid tes secara mandiri. Tapi, kalau setiap hari tidak mungkin,” paparnya.

Selain SMAN 2 Banjarbaru, sekolah piloting PTM lainnya: SMKN 2 Banjarbaru juga masih bingung bagaimana melaksanakan rapid tes antigen untuk 1.222 siswanya. “Ini masih kami konsultasikan dengan Dinas Kesehatan, karena perlu biaya besar,” kata Kepala Sekolah SMKN 2, Suyani.

Dia menuturkan, berdasarkan informasi sekolah dari Kabupaten/kota lain, ternyata ada Dinas Kesehatan yang membolehkan SMA/SMK dibuka meski tidak melakukan tes antigen. “Tapi, ini harus kita konsultasikan dulu. Takutnya, terjadi apa-apa,” tuturnya.

Disinggung bagaimana dengan vaksinasi Covid-19, Yani menyebut para siswanya segera menerima jatah vaksin dari Puskesmas Banjarbaru Selatan. “Akhirnya dapat. Rencananya, vaksinasi dijadwalkan 12 Oktober nanti,” ujarnya.

Sementara itu, terkait syarat rapid tes antigen yang dibingungkan para sekolah. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, M Yusuf Effendi meminta agar satuan pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di daerahnya masing-masing.

“Jadi, sekolah tidak perlu mengeluarkan biaya. Kerja sama saja, agar alat antigen disediakan oleh Dinas Kesehatan,” paparnya.

Pelaksanaan tes antigen sendiri kata Yusuf, tak perlu setiap hari. Melainkan, hanya pada hari pertama masuk sekolah. “Selebihnya, mungkin kalau ada yang bergejala baru dilakukan tes antigen. Intinya, sering-sering berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” bebernya.

Sementara itu, pembukaan sekolah menengah atas di Banjarmasin terganjal status PPKM yang masih level 4. Yusuf Effendi mengatakan ada dua sekolah di Banjarmasin yang gagal dibuka, yakni SMAN 5 dan SMKN 3 Banjarmasin.

“Hanya dua sekolah di Banjarmasin yang tertunda. Karena syaratnya tak terpenuhi. Yakni soal status PPKM yang masih level 4,” ujar  Yusuf Effendi.

Dia mengklaim di luar Banjarmasin  PTM sudah mulai dilaksanakan. “ “Dari laporan pengawasan, evaluasi, alhamdulillah tak ada kendala dan berjalan dengan baik,” kata Yusuf.

Lalu bagimana dengan vaksinasi dan antigen yang sebagai syarat PTM? Dia menerangkan, sudah dilengkapi sekolah. Yusuf menjelaskan soal vaksinasi ini tak harus 100 persen.  Pasalnya saat ini vaksinasi untuk pelajar masih berjalan. “Tak bisa memaksakan vaksinasi harus 100 persen. Bagaimana jika vaksinnya tak tersedia,” ujarnya.
 
Wakil Kepala SMK Negeri 3 Banjarmasin, Norhalisah menuturkan, pihaknya sedianya sudah siap menggelar PTM mulai Senin tadi. Namun,  status PPKM level 4 di Kota Banjarmasin membatalkan rencana itu.“Penundaan ini memberikan kesempatan kepada siswa yang belum divaksin untuk segera divaksinasi,” tuturnya.

Pihaknya sendiri sudah berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk melakukan vaksinasi di sekolah. “Ada sebanyak 1.700 dosis kami dapat jatah. Vaksinasi ini akan lebih memantapkan lagi kesiapan kami menggelar PTM jika nanti sudah memenuhi syarat,” ujarnya. (ris/mof/by/ran)

BANJARBARU – Meski sudah diperkenankan  menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) sejak Senin (4/10) tadi, namun hingga kini sejumlah SMA/SMK dan SLB piloting di Kalsel belum juga membuka sekolah.

SMAN 2 Banjarbaru misalnya, kemarin (7/10) tampak masih sepi. Belum ada aktivitas belajar mengajar di sekolah yang menjadi salah satu percontohan PTM di Banjarbaru ini.

Kepala SMAN 2 Banjarbaru, Eksan Wasesa mengatakan, sekolah belum mereka buka lantaran sejumlah siswa baru menjalani vaksinasi Covid-19. “Siswa yang baru divaksin istirahat dulu. Mungkin, pekan depan sekolah baru dibuka,” katanya.

Dia mengungkapkan, vaksinasi sekarang sudah tidak menjadi persoalan bagi sekolah yang ingin menggelar PTM. Sebab, hampir semuanya sebagian besar siswanya sudah divaksin. “Kalau di sini, dari 960 siswa sudah 96 persen yang divaksin,” ungkapnya.

Namun, disampaikan Eksan, persoalan lain yang membuat mereka bingung saat ini ialah memenuhi syarat wajib rapid tes antigen bagi seluruh warga sekolah yang ingin mengikuti PTM. “Kalau misal setiap hari semuanya dites antigen, biayanya dari mana? Kalau ada 900 siswa, maka kita memerlukan dana 90 jutaan sehari,” ucapnya.

Dia berharap, ada solusi bagi sekolah yang tidak punya anggaran untuk melaksanakan rapid tes antigen. “Kalau kami, rencananya para siswa melakukan rapid tes secara mandiri. Tapi, kalau setiap hari tidak mungkin,” paparnya.

Selain SMAN 2 Banjarbaru, sekolah piloting PTM lainnya: SMKN 2 Banjarbaru juga masih bingung bagaimana melaksanakan rapid tes antigen untuk 1.222 siswanya. “Ini masih kami konsultasikan dengan Dinas Kesehatan, karena perlu biaya besar,” kata Kepala Sekolah SMKN 2, Suyani.

Dia menuturkan, berdasarkan informasi sekolah dari Kabupaten/kota lain, ternyata ada Dinas Kesehatan yang membolehkan SMA/SMK dibuka meski tidak melakukan tes antigen. “Tapi, ini harus kita konsultasikan dulu. Takutnya, terjadi apa-apa,” tuturnya.

Disinggung bagaimana dengan vaksinasi Covid-19, Yani menyebut para siswanya segera menerima jatah vaksin dari Puskesmas Banjarbaru Selatan. “Akhirnya dapat. Rencananya, vaksinasi dijadwalkan 12 Oktober nanti,” ujarnya.

Sementara itu, terkait syarat rapid tes antigen yang dibingungkan para sekolah. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, M Yusuf Effendi meminta agar satuan pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di daerahnya masing-masing.

“Jadi, sekolah tidak perlu mengeluarkan biaya. Kerja sama saja, agar alat antigen disediakan oleh Dinas Kesehatan,” paparnya.

Pelaksanaan tes antigen sendiri kata Yusuf, tak perlu setiap hari. Melainkan, hanya pada hari pertama masuk sekolah. “Selebihnya, mungkin kalau ada yang bergejala baru dilakukan tes antigen. Intinya, sering-sering berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” bebernya.

Sementara itu, pembukaan sekolah menengah atas di Banjarmasin terganjal status PPKM yang masih level 4. Yusuf Effendi mengatakan ada dua sekolah di Banjarmasin yang gagal dibuka, yakni SMAN 5 dan SMKN 3 Banjarmasin.

“Hanya dua sekolah di Banjarmasin yang tertunda. Karena syaratnya tak terpenuhi. Yakni soal status PPKM yang masih level 4,” ujar  Yusuf Effendi.

Dia mengklaim di luar Banjarmasin  PTM sudah mulai dilaksanakan. “ “Dari laporan pengawasan, evaluasi, alhamdulillah tak ada kendala dan berjalan dengan baik,” kata Yusuf.

Lalu bagimana dengan vaksinasi dan antigen yang sebagai syarat PTM? Dia menerangkan, sudah dilengkapi sekolah. Yusuf menjelaskan soal vaksinasi ini tak harus 100 persen.  Pasalnya saat ini vaksinasi untuk pelajar masih berjalan. “Tak bisa memaksakan vaksinasi harus 100 persen. Bagaimana jika vaksinnya tak tersedia,” ujarnya.
 
Wakil Kepala SMK Negeri 3 Banjarmasin, Norhalisah menuturkan, pihaknya sedianya sudah siap menggelar PTM mulai Senin tadi. Namun,  status PPKM level 4 di Kota Banjarmasin membatalkan rencana itu.“Penundaan ini memberikan kesempatan kepada siswa yang belum divaksin untuk segera divaksinasi,” tuturnya.

Pihaknya sendiri sudah berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk melakukan vaksinasi di sekolah. “Ada sebanyak 1.700 dosis kami dapat jatah. Vaksinasi ini akan lebih memantapkan lagi kesiapan kami menggelar PTM jika nanti sudah memenuhi syarat,” ujarnya. (ris/mof/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/