alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Sekolah Umum Kalah Populer di HST

BARABAI – Sekolah agama lebih populer di Hulu Sungai Tengah (HST). Bahkan perbandingannya dengan sekolah umum cukup mencolok. Khususnya tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama. Tiga tahun terakhir motivasi para orang tua lebih tinggi memilih madrasah. Di MTs ada 2.294 siswa, sedangkan di SMP hanya 1.324 siswa.

Alasan orang tua rata-rata sama. Ingin agar anaknya belajar akhlak, budi pekerti, dan mendalami agama Islam. Contohnya, Muhammad Husaini memilih memasukkan anaknya ke pondok pesantren. “Kita tentu ingin yang terbaik untuk anak-anak. Ilmu agama akan menjadi tuntunan dalam hidupnya,” katanya, Rabu (6/10).

Namun, ada juga orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pilihan sekolah kepada anak. “Terserah anak, asal mau sekolah saja. Anak saya sekolah di sekolah negeri,” kata Rusli warga Desa Banua Jingah.

Dari fenomena ini, muncul kekhawatiran sekolah negeri mulai tidak diminati lagi. Anggota DPRD HST, Supianor menginginkan Dinas Pendidikan setempat menyikapi dengan serius. “Sekolah SMP yang ada di daerah kita agar dapat lebih ditingkatkan pembelajaran agamanya,” pinta Supianor.
Dia juga ingin agar kualitas para guru di sekolah negeri ditingkatkan. Melalui bimbingan teknis, atau peningkatan mutu. Selain itu juga perlu dilakukan pengembangan fasilitas sekolah-sekolah negeri. “Pendidikan keagamaan juga menjadi perhatian di sekolah negeri,” lanjutnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar menyadari jika ada penurunan penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah umum. Namun, dia menegaskan dalam hal ini jangan sampai dijadikan sebuah persaingan. Justru minat anak untuk bersekolah ini yang patut diapresiasi. Artinya masyarakat mulai peduli jika pendidikan anak itu sangat penting. “Malah kita berterima kasih dengan adanya sekolah agama,” ucapnya.

Menurutnya, kepopuleran sekolah agama ini menjadi satu perubahan sosial yang bisa menyadarkan para pemangku kebijakan di Dinas Pendidikan HST. “Artinya ada yang perlu disesuaikan. Konsep kami ke depan juga akan menguatkan kurikulum lokal, termasuk bidang agama,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya akan mengadakan program-program yang diminati siswa. “Siswa ini pasti perlu panggung. Kami akan sediakan agar mereka punya kegiatan olahraga, kebudayaan, termasuk keagamaan,” janjinya.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mutiani mengatakan jika setiap sekolah itu memiliki segmen masing-masing bagi peserta didik. Artinya ada peserta didik yang masuk sekolah umum, masuk sekolah agama, dan masuk pesantren. “Jadi harus diklarifikasi ini kekhawatiran seperti apa. Karena pendidikan agama maupun umum itu yang paling penting bentuk kurikulumnya,” jelasnya.

Jika dipotret dari sisi lain, banyaknya orang tua memilih sekolah agama karena kultur budaya masyarakat setempat yang religius. Tak hanya di Hulu Sungai Tengah, namun secara menyeluruh di Kalimantan Selatan. “Bisa dipahami, masih ditemui kepercayaan atau nilai religius yang melekat. Artinya keselamatan hidup itu tidak bersifat materiel, tetapi keyakinan terhadap agama,” pungkasnya. (mal/az/dye)

PPDB MTs dan SMP di HST

Tahun       MTs         Umum
2019/2020   2.260 siswa 1.491 siswa
2020/2021   2.355 siswa 1.500 siswa
2021/2022   2.294 siswa 1.324 siswa

BARABAI – Sekolah agama lebih populer di Hulu Sungai Tengah (HST). Bahkan perbandingannya dengan sekolah umum cukup mencolok. Khususnya tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama. Tiga tahun terakhir motivasi para orang tua lebih tinggi memilih madrasah. Di MTs ada 2.294 siswa, sedangkan di SMP hanya 1.324 siswa.

Alasan orang tua rata-rata sama. Ingin agar anaknya belajar akhlak, budi pekerti, dan mendalami agama Islam. Contohnya, Muhammad Husaini memilih memasukkan anaknya ke pondok pesantren. “Kita tentu ingin yang terbaik untuk anak-anak. Ilmu agama akan menjadi tuntunan dalam hidupnya,” katanya, Rabu (6/10).

Namun, ada juga orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pilihan sekolah kepada anak. “Terserah anak, asal mau sekolah saja. Anak saya sekolah di sekolah negeri,” kata Rusli warga Desa Banua Jingah.

Dari fenomena ini, muncul kekhawatiran sekolah negeri mulai tidak diminati lagi. Anggota DPRD HST, Supianor menginginkan Dinas Pendidikan setempat menyikapi dengan serius. “Sekolah SMP yang ada di daerah kita agar dapat lebih ditingkatkan pembelajaran agamanya,” pinta Supianor.
Dia juga ingin agar kualitas para guru di sekolah negeri ditingkatkan. Melalui bimbingan teknis, atau peningkatan mutu. Selain itu juga perlu dilakukan pengembangan fasilitas sekolah-sekolah negeri. “Pendidikan keagamaan juga menjadi perhatian di sekolah negeri,” lanjutnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar menyadari jika ada penurunan penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah umum. Namun, dia menegaskan dalam hal ini jangan sampai dijadikan sebuah persaingan. Justru minat anak untuk bersekolah ini yang patut diapresiasi. Artinya masyarakat mulai peduli jika pendidikan anak itu sangat penting. “Malah kita berterima kasih dengan adanya sekolah agama,” ucapnya.

Menurutnya, kepopuleran sekolah agama ini menjadi satu perubahan sosial yang bisa menyadarkan para pemangku kebijakan di Dinas Pendidikan HST. “Artinya ada yang perlu disesuaikan. Konsep kami ke depan juga akan menguatkan kurikulum lokal, termasuk bidang agama,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya akan mengadakan program-program yang diminati siswa. “Siswa ini pasti perlu panggung. Kami akan sediakan agar mereka punya kegiatan olahraga, kebudayaan, termasuk keagamaan,” janjinya.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mutiani mengatakan jika setiap sekolah itu memiliki segmen masing-masing bagi peserta didik. Artinya ada peserta didik yang masuk sekolah umum, masuk sekolah agama, dan masuk pesantren. “Jadi harus diklarifikasi ini kekhawatiran seperti apa. Karena pendidikan agama maupun umum itu yang paling penting bentuk kurikulumnya,” jelasnya.

Jika dipotret dari sisi lain, banyaknya orang tua memilih sekolah agama karena kultur budaya masyarakat setempat yang religius. Tak hanya di Hulu Sungai Tengah, namun secara menyeluruh di Kalimantan Selatan. “Bisa dipahami, masih ditemui kepercayaan atau nilai religius yang melekat. Artinya keselamatan hidup itu tidak bersifat materiel, tetapi keyakinan terhadap agama,” pungkasnya. (mal/az/dye)

PPDB MTs dan SMP di HST

Tahun       MTs         Umum
2019/2020   2.260 siswa 1.491 siswa
2020/2021   2.355 siswa 1.500 siswa
2021/2022   2.294 siswa 1.324 siswa

Most Read

Artikel Terbaru

/