alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Bayar Insentif Nakes, Banyak Proyek Ditunda

BANJARBARU – Kembali adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19, membuat sejumlah proyek di Banua terpaksa ditunda.

Kabag Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa pada Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setdaprov Kalsel, Khairil anwar mengatakan, dari sekitar 350 rencana lelang proyek hingga September baru 265 paket yang terlaksana. “Beberapa mungkin masuk ke anggaran perubahan. Sebagian ada yang ditunda,” katanya.

Dia mengungkapkan, tender yang ditunda di antaranya ialah proyek renovasi Stadion 17 Mei tahap dua, pembangunan gedung laboratorium kesehatan tahap dua, pengadaan alat laboratorium mikrobiologi dan pengadaan fasilitas di RSJ Sambang Lihum.  “Serta, rehab jaringan irigasi di Alalak, Kabupaten Banjar,” ungkapnya.

Selain lelang proyek konstruksi dan pengadaan barang, Khairil menyebut, sejumlah tender berupa perencanaan atau kajian juga ada yang ditunda.

Di antaranya ucap dia, penyusunan rencana induk pengembangan industri berbasis hilirisasi dan pembuatan masterplant kawasan wisata. “Juga kajian kereta ke bandara (Syamsudin Noor),” sebutnya.

Lalu bagaimana dengan proyek jalan dan jembatan? Khairil menyatakan, tahun ini semua tendernya terlaksana. ” Karena sudah dilakukan pada awal tahun, sebelum adanya refocusing,” katanya.

Akibat adanya refocusing sendiri kata dia, dalam dua tahun terakhir paket tender yang terlaksana memang menurun. Pada 2019 misalnya, ada 400 paket terlaksana. Kemudian, 2020 turun jadi 315 paket dan 2021 hingga September baru 265 paket.

Sementara itu, Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setdaprov Kalsel, Rahmaddin menyampaikan, dalam pelaksanaan lelang pihaknya hanya menjalankan apa yang diusulkan SKPD. “Kalau SKPD minta dibatalkan, maka kami batalkan,” ucapnya.

Dengan waktu hanya tersisa sekitar tiga bulan pada tahun ini, menurutnya sudah tidak ada lagi paket tender konstruksi yang diajukan. “Karena kalau melaksanakan konstruksi, waktunya sudah mepet,” ujarnya.

Dalam pengadaan barang dan jasa ungkap Rahmaddin, pihaknya melaksanakannya secara profesional, berkeadilan dan tidak memihak. “Semua diperlakukan sama. Dengan syarat, sudah lulus administrasi, kompetensi dan harganya bersaing,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel, Nurul Fajar Desira memang mengatakan bahwa kajian kereta api bandara ditunda. Ini dikarenakan, anggarannya direfocusing untuk menutupi keuangan daerah. “Mungkin tahun berikutnya kajian kami usulkan lagi,” katanya.

Diungkapkannya, tahun ini Pemprov Kalsel memerlukan dana miliaran untuk membayar insentif tenaga kesehatan (nakes) Covid-19. Sehingga, pemerintah memutuskan untuk menunda sejumlah program yang belum masuk lelang guna menjaga keuangan daerah. Termasuk kajian kereta bandara.

“Karena tahun ini insentif nakes tidak lagi ditanggung APBN dan dibebankan ke APBD, sehingga kita harus melakukan refocusing untuk menutupinya,” ungkapnya.

Refocusing yang dilakukan kata Fajar, tidak dipatok berapa persentasenya, melainkan menunda semua proyek yang belum masuk lelang. “Jadi, anggaran proyek yang belum lelang itu dikumpulkan untuk menutupi anggaran daerah. Kalau yang sudah lelang, tetap dikerjakan,” ucapnya.

Namun menurutnya, refocusing yang dilakukan tidak banyak mengganggu pekerjaan fisik. Sebab, sebagian besar sudah masuk lelang. “Yang belum lelang kebanyakan kegiatan kajian, kalau fisik sebagian besar sudah lelang semua,” pungkasnya. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Kembali adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19, membuat sejumlah proyek di Banua terpaksa ditunda.

Kabag Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa pada Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setdaprov Kalsel, Khairil anwar mengatakan, dari sekitar 350 rencana lelang proyek hingga September baru 265 paket yang terlaksana. “Beberapa mungkin masuk ke anggaran perubahan. Sebagian ada yang ditunda,” katanya.

Dia mengungkapkan, tender yang ditunda di antaranya ialah proyek renovasi Stadion 17 Mei tahap dua, pembangunan gedung laboratorium kesehatan tahap dua, pengadaan alat laboratorium mikrobiologi dan pengadaan fasilitas di RSJ Sambang Lihum.  “Serta, rehab jaringan irigasi di Alalak, Kabupaten Banjar,” ungkapnya.

Selain lelang proyek konstruksi dan pengadaan barang, Khairil menyebut, sejumlah tender berupa perencanaan atau kajian juga ada yang ditunda.

Di antaranya ucap dia, penyusunan rencana induk pengembangan industri berbasis hilirisasi dan pembuatan masterplant kawasan wisata. “Juga kajian kereta ke bandara (Syamsudin Noor),” sebutnya.

Lalu bagaimana dengan proyek jalan dan jembatan? Khairil menyatakan, tahun ini semua tendernya terlaksana. ” Karena sudah dilakukan pada awal tahun, sebelum adanya refocusing,” katanya.

Akibat adanya refocusing sendiri kata dia, dalam dua tahun terakhir paket tender yang terlaksana memang menurun. Pada 2019 misalnya, ada 400 paket terlaksana. Kemudian, 2020 turun jadi 315 paket dan 2021 hingga September baru 265 paket.

Sementara itu, Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setdaprov Kalsel, Rahmaddin menyampaikan, dalam pelaksanaan lelang pihaknya hanya menjalankan apa yang diusulkan SKPD. “Kalau SKPD minta dibatalkan, maka kami batalkan,” ucapnya.

Dengan waktu hanya tersisa sekitar tiga bulan pada tahun ini, menurutnya sudah tidak ada lagi paket tender konstruksi yang diajukan. “Karena kalau melaksanakan konstruksi, waktunya sudah mepet,” ujarnya.

Dalam pengadaan barang dan jasa ungkap Rahmaddin, pihaknya melaksanakannya secara profesional, berkeadilan dan tidak memihak. “Semua diperlakukan sama. Dengan syarat, sudah lulus administrasi, kompetensi dan harganya bersaing,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel, Nurul Fajar Desira memang mengatakan bahwa kajian kereta api bandara ditunda. Ini dikarenakan, anggarannya direfocusing untuk menutupi keuangan daerah. “Mungkin tahun berikutnya kajian kami usulkan lagi,” katanya.

Diungkapkannya, tahun ini Pemprov Kalsel memerlukan dana miliaran untuk membayar insentif tenaga kesehatan (nakes) Covid-19. Sehingga, pemerintah memutuskan untuk menunda sejumlah program yang belum masuk lelang guna menjaga keuangan daerah. Termasuk kajian kereta bandara.

“Karena tahun ini insentif nakes tidak lagi ditanggung APBN dan dibebankan ke APBD, sehingga kita harus melakukan refocusing untuk menutupinya,” ungkapnya.

Refocusing yang dilakukan kata Fajar, tidak dipatok berapa persentasenya, melainkan menunda semua proyek yang belum masuk lelang. “Jadi, anggaran proyek yang belum lelang itu dikumpulkan untuk menutupi anggaran daerah. Kalau yang sudah lelang, tetap dikerjakan,” ucapnya.

Namun menurutnya, refocusing yang dilakukan tidak banyak mengganggu pekerjaan fisik. Sebab, sebagian besar sudah masuk lelang. “Yang belum lelang kebanyakan kegiatan kajian, kalau fisik sebagian besar sudah lelang semua,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/