alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Ini Ternyata Salah Satu Produk Kebanggaan Masyarakat Papua

JAYAPURA – Noken salah satu suvenir yang diburu wisatawan yang berkunjung ke Papua. Tas tradisional ini juga tersedia dalam ajang PON XX Papua.

Noken dibanderol dengan harga Rp50 ribu sampai Rp500 ribu. Variasi harga itu sesuai dengan ukurannya.

Dulu noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang hanya digunakan orang berada dan ternama. Biasanya digunakan untuk mengangkut hasil kebun. Tak jarang juga digunakan untuk menggendong anak-anak. Namun, seiring perkembangan mode fashion, tas ini sudah bisa dipakai berbagai kalangan.

Salah satu penjual suvenir di venue cabor dayung yang berada di kawasan teluk Youtefa, Henike Mandenas menyebut noken adalah tas kebanggaan masyarakat Papua. Tas ini bisa diolah berbagai macam model. Tidak hanya dari rajutan serat kayu, tas ini juga bisa dibuat dengan rajutan benang nilon.

Bahkan sembari berdagang, para penjual ini langsung merajut tas tersebut di tempat. “Namun, tidak semua kami rajut di sini. Ada yang sudah kami rajut di rumah sebagian. Intinya untuk mengisi kekosongan saja,” ucap Henike.(bir/dye/ema)
 

JAYAPURA – Noken salah satu suvenir yang diburu wisatawan yang berkunjung ke Papua. Tas tradisional ini juga tersedia dalam ajang PON XX Papua.

Noken dibanderol dengan harga Rp50 ribu sampai Rp500 ribu. Variasi harga itu sesuai dengan ukurannya.

Dulu noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang hanya digunakan orang berada dan ternama. Biasanya digunakan untuk mengangkut hasil kebun. Tak jarang juga digunakan untuk menggendong anak-anak. Namun, seiring perkembangan mode fashion, tas ini sudah bisa dipakai berbagai kalangan.

Salah satu penjual suvenir di venue cabor dayung yang berada di kawasan teluk Youtefa, Henike Mandenas menyebut noken adalah tas kebanggaan masyarakat Papua. Tas ini bisa diolah berbagai macam model. Tidak hanya dari rajutan serat kayu, tas ini juga bisa dibuat dengan rajutan benang nilon.

Bahkan sembari berdagang, para penjual ini langsung merajut tas tersebut di tempat. “Namun, tidak semua kami rajut di sini. Ada yang sudah kami rajut di rumah sebagian. Intinya untuk mengisi kekosongan saja,” ucap Henike.(bir/dye/ema)
 

Most Read

Artikel Terbaru

/