alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Jadi Indikator Status PPKM, Tapi Cakupan Vaksinasi Banjarbaru Belum 50 Persen

BANJARBARU – Cakupan vaksinasi jadi salah satu indikator penetapan status PPKM. Cakupan yang masih belum mencapai 50 persen menurut pemerintah pusat jadi pertimbangan untuk berada di level empat.

Kota Banjarbaru sendiri dalam penetapan terakhirnya masih harus menjalani status level 4, setidaknya sampai 4 Oktober nanti. Salah satu indikator yang mengganjal adalah cakupan vaksinasi.

Menurut pengolahan data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, hingga kemarin cakupan vaksinasi memang masih di bawah 50 persen atau belum separo dari target sasaran vaksinasi.

“Per update tanggal 29 September 2021, cakupan vaksinasi kita adalah 87.318 orang atau setara 44,57 persen untuk dosis satu. Sementara dosis kedua 27,42 persen atau setara 53.505 orang,” kata Koordinator Tim Surveilens Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana.

Meski masih belum menyentuh angka 50 persen, kemajuan yang dicatatkan perharinya menurut Edi sudah tergolong bagus. Sebab, percepatan vaksin ini ujarnya kini sudah banyak berkolaborasi dengan berbagai lini dan sektor.

Oleh karenanya, ia sendiri mengharapkan bahwa vaksinasi bisa mencapai 50 persen dalam waktu dekat. Hal ini berbanding lurus dengan beberapa rencana vaksinasi massal di Banjarbaru ke depannya.

“Untuk bulan September saja ada 25.808 warga Banjarbaru yang sudah mendapat suntikan vaksin pertama. Ini jika dirata-ratakan artinya ada 889,93 orang perhari yang berhasil divaksin,” ungkapnya.

Dilanjutnya, jika vaksin dosis pertama seharinya nyari seribu orang. Maka dosis vaksin kedua setiap harinya di bulan September bisa mencapai 7.884 orang. “Rata-rata sekitar 271 orang perhari.”

Di luar dari vaksinasi, terkait kondisi Covid-19 di Kota Banjarbaru terang Edi juga sudah mulai membaik. Hal ini setidaknya terpantau dari rentang waktu 22-28 September 2021.

“Positivity rate dalam sepekan terakhir di angka 2,24 persen, ini sudah ideal karena di bawah 5 persen. Kemudian keterisian bed di RS juga turun jadi 27,03 persen, tergolong ideal karena kurang dari 60 persen,” bebernya.

Meski testing dan treatment tergolong memadai, namun untuk tracing jelas Edi masih berstatus kapasitas respons terbatas. Hal ini dikarenakan rasio kontak erat per kasus konfirmasi dalam satu pekan terakhir cuma 3,34 persen.

“Untuk mencapai Memadai atau ideal itu memang tracing kita harus di atas 14 persen. Ini yang masih terus kita coba tingkatkan,” rincinya.

Ditanya terkait kategori Transmisi Komunitas (TK) kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk yang kerap jadi perhatian. Edi menjawab jika di Banjarbaru untuk kategori ini sudah ideal atau TK 1.

“Ada 16,82 kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk dalam 1 pekan terakhir. Jadi transmisi komunitasnya termasuk kategori TK 1, sudah ideal,” tegasnya.

Hanya saja, untuk kategori TK dari sisi kasus yang perlu rawat inap di RS dan juga kasus yang wafat ujar Edi bahwa Banjarbaru masih masuk dalam kategori TK 2.

“Untuk yang rawat inap dalam ada 8,04 orang per 100 ribu penduduk dalam satu pekan terakhir, ini TK 2 karena rentang 5-10. Idealnya di bawah 5. Lalu kasus wafat ada 1,10 orang per 100 ribu penduduk dalam satu pekan terakhir, ini masuk TK 2 (rentang 1-2), idealnya di bawah 1,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Cakupan vaksinasi jadi salah satu indikator penetapan status PPKM. Cakupan yang masih belum mencapai 50 persen menurut pemerintah pusat jadi pertimbangan untuk berada di level empat.

Kota Banjarbaru sendiri dalam penetapan terakhirnya masih harus menjalani status level 4, setidaknya sampai 4 Oktober nanti. Salah satu indikator yang mengganjal adalah cakupan vaksinasi.

Menurut pengolahan data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, hingga kemarin cakupan vaksinasi memang masih di bawah 50 persen atau belum separo dari target sasaran vaksinasi.

“Per update tanggal 29 September 2021, cakupan vaksinasi kita adalah 87.318 orang atau setara 44,57 persen untuk dosis satu. Sementara dosis kedua 27,42 persen atau setara 53.505 orang,” kata Koordinator Tim Surveilens Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana.

Meski masih belum menyentuh angka 50 persen, kemajuan yang dicatatkan perharinya menurut Edi sudah tergolong bagus. Sebab, percepatan vaksin ini ujarnya kini sudah banyak berkolaborasi dengan berbagai lini dan sektor.

Oleh karenanya, ia sendiri mengharapkan bahwa vaksinasi bisa mencapai 50 persen dalam waktu dekat. Hal ini berbanding lurus dengan beberapa rencana vaksinasi massal di Banjarbaru ke depannya.

“Untuk bulan September saja ada 25.808 warga Banjarbaru yang sudah mendapat suntikan vaksin pertama. Ini jika dirata-ratakan artinya ada 889,93 orang perhari yang berhasil divaksin,” ungkapnya.

Dilanjutnya, jika vaksin dosis pertama seharinya nyari seribu orang. Maka dosis vaksin kedua setiap harinya di bulan September bisa mencapai 7.884 orang. “Rata-rata sekitar 271 orang perhari.”

Di luar dari vaksinasi, terkait kondisi Covid-19 di Kota Banjarbaru terang Edi juga sudah mulai membaik. Hal ini setidaknya terpantau dari rentang waktu 22-28 September 2021.

“Positivity rate dalam sepekan terakhir di angka 2,24 persen, ini sudah ideal karena di bawah 5 persen. Kemudian keterisian bed di RS juga turun jadi 27,03 persen, tergolong ideal karena kurang dari 60 persen,” bebernya.

Meski testing dan treatment tergolong memadai, namun untuk tracing jelas Edi masih berstatus kapasitas respons terbatas. Hal ini dikarenakan rasio kontak erat per kasus konfirmasi dalam satu pekan terakhir cuma 3,34 persen.

“Untuk mencapai Memadai atau ideal itu memang tracing kita harus di atas 14 persen. Ini yang masih terus kita coba tingkatkan,” rincinya.

Ditanya terkait kategori Transmisi Komunitas (TK) kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk yang kerap jadi perhatian. Edi menjawab jika di Banjarbaru untuk kategori ini sudah ideal atau TK 1.

“Ada 16,82 kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk dalam 1 pekan terakhir. Jadi transmisi komunitasnya termasuk kategori TK 1, sudah ideal,” tegasnya.

Hanya saja, untuk kategori TK dari sisi kasus yang perlu rawat inap di RS dan juga kasus yang wafat ujar Edi bahwa Banjarbaru masih masuk dalam kategori TK 2.

“Untuk yang rawat inap dalam ada 8,04 orang per 100 ribu penduduk dalam satu pekan terakhir, ini TK 2 karena rentang 5-10. Idealnya di bawah 5. Lalu kasus wafat ada 1,10 orang per 100 ribu penduduk dalam satu pekan terakhir, ini masuk TK 2 (rentang 1-2), idealnya di bawah 1,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/