alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 24 May 2022

Satire Depan Baliho

BANJARMASIN – ZAMAN sekarang, aksi mahasiswa tak perlu mengerahkan massa dalam jumlah besar. Apalagi sampai bentrok dengan aparat.

Contoh, aksi tiga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari ini, kemarin (29/8) pagi.

Mengusung papan tulis kecil, mereka berpose di depan baliho politikus yang mejeng di tengah publik untuk menyongsong Pilpres 2024.

Sindiran mereka sungguh mengena, “Cuma mau bilang, ini masih 2021” tulisnya.

Pemotretan bertempat di tiga titik Jalan Ahmad Yani. Dari kawasan dekat kampus, flyover dan depan Hotel Jelita.
Pencetusnya, Fahrianoor menyebut aksi itu sebenarnya spontan. Setiap melintasi jalan protokol itu, ia rupanya resah melihat baliho-baliho tersebut.

Apalagi, Indonesia sedang diamuk pandemi. Mengingat para politikus itu juga memegang jabatan publik. Tentu akan lebih pantas jika energinya dikerahkan untuk bekerja menghadapi wabah ini.

“Penuhi kebutuhan rakyat untuk hidup. Bukan penuhi jalanan dengan baliho janji-janji,” sindirnya.

“Kalau pandemi sudah teratasi, pasti pemilih akan menilai. Siapa yang pantas menjadi pemimpin,” sambungnya.
Kembali ke aksi trio ini, baginya, terpenting adalah pesan yang hendak disampaikan. Bukan soal jumlah massa yang dikerahkan.

“Bukan seberapa banyak orangnya, tapi sepenting apa pesannya,” tutup Fahri. (gmp/fud/ema) 

BANJARMASIN – ZAMAN sekarang, aksi mahasiswa tak perlu mengerahkan massa dalam jumlah besar. Apalagi sampai bentrok dengan aparat.

Contoh, aksi tiga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari ini, kemarin (29/8) pagi.

Mengusung papan tulis kecil, mereka berpose di depan baliho politikus yang mejeng di tengah publik untuk menyongsong Pilpres 2024.

Sindiran mereka sungguh mengena, “Cuma mau bilang, ini masih 2021” tulisnya.

Pemotretan bertempat di tiga titik Jalan Ahmad Yani. Dari kawasan dekat kampus, flyover dan depan Hotel Jelita.
Pencetusnya, Fahrianoor menyebut aksi itu sebenarnya spontan. Setiap melintasi jalan protokol itu, ia rupanya resah melihat baliho-baliho tersebut.

Apalagi, Indonesia sedang diamuk pandemi. Mengingat para politikus itu juga memegang jabatan publik. Tentu akan lebih pantas jika energinya dikerahkan untuk bekerja menghadapi wabah ini.

“Penuhi kebutuhan rakyat untuk hidup. Bukan penuhi jalanan dengan baliho janji-janji,” sindirnya.

“Kalau pandemi sudah teratasi, pasti pemilih akan menilai. Siapa yang pantas menjadi pemimpin,” sambungnya.
Kembali ke aksi trio ini, baginya, terpenting adalah pesan yang hendak disampaikan. Bukan soal jumlah massa yang dikerahkan.

“Bukan seberapa banyak orangnya, tapi sepenting apa pesannya,” tutup Fahri. (gmp/fud/ema) 

Most Read

Artikel Terbaru

/