alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Hebohkan Medsos, Kartu Nikah Versi Poligami Ternyata Hoaks

BANJARMASIN – Kartu nikah digital beredar di media sosial. Sekilas tak ada yang janggal. Tapi malah bikin heboh netizen.

Mirip seperti KTP, tampak depan ada lambang garuda Pancasila dan logo Kementerian Agama. Lalu kolom foto, nama, alamat dan kode barcode.

Sementara tampak belakang, ada empat kolom untuk foto istri. Jumlah kolom itulah yang menjadi perbincangan riuh.

Ketika dikonfirmasi, Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kemenag Banjarmasin, Ahmad Syahrani memastikan, format resmi milik Kemenag tidak seperti itu.

“Yang beredar di medsos itu hoaks. Itu bukan kartu resmi yang diterbitkan Kemenag,” jelasnya kemarin (27/8).
Intinya, kartu nikah digital versi poligami itu hasil editan. Sebenarnya, jika netizen jeli, kepalsuannya sudah terlihat gamblang.

“Masyarakat bisa membaca, tertulis ‘kementrian’. Padahal penulisan yang benar adalah ‘kementerian’,” bebernya.

Ditekankan Syahrani, kartu nikah digital itu mulai dirilis sejak tahun 2018 lalu. Tapi bukan sebagai pengganti buku nikah yang lama.

Tujuannya hanya untuk memudahkan. Karena saat barcode-nya di-scan, data lengkap pengantin yang telah terkoneksi ke server Bimas akan muncul. (gmp/fud/ema)

BANJARMASIN – Kartu nikah digital beredar di media sosial. Sekilas tak ada yang janggal. Tapi malah bikin heboh netizen.

Mirip seperti KTP, tampak depan ada lambang garuda Pancasila dan logo Kementerian Agama. Lalu kolom foto, nama, alamat dan kode barcode.

Sementara tampak belakang, ada empat kolom untuk foto istri. Jumlah kolom itulah yang menjadi perbincangan riuh.

Ketika dikonfirmasi, Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kemenag Banjarmasin, Ahmad Syahrani memastikan, format resmi milik Kemenag tidak seperti itu.

“Yang beredar di medsos itu hoaks. Itu bukan kartu resmi yang diterbitkan Kemenag,” jelasnya kemarin (27/8).
Intinya, kartu nikah digital versi poligami itu hasil editan. Sebenarnya, jika netizen jeli, kepalsuannya sudah terlihat gamblang.

“Masyarakat bisa membaca, tertulis ‘kementrian’. Padahal penulisan yang benar adalah ‘kementerian’,” bebernya.

Ditekankan Syahrani, kartu nikah digital itu mulai dirilis sejak tahun 2018 lalu. Tapi bukan sebagai pengganti buku nikah yang lama.

Tujuannya hanya untuk memudahkan. Karena saat barcode-nya di-scan, data lengkap pengantin yang telah terkoneksi ke server Bimas akan muncul. (gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/