alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Surat Buat Atasannya Atasan

Dear Pak Jokowi,

SEMOGA surat ini menemui Anda di server yang tepat. Saya mewakili pekerja UMKM yg merasa dirugikan dengan perpanjangaaaaaaan PPKM ini. Saya bekerja part-time di kafe dan hampir tiap malam kucing-kucingan dengan petugas razia gabungan.

— Oleh: Randu Alamsyah

Disklemer. Saya bukan tipe orang yang melanggar aturan pemerintah, lho pak. Naik motor malam-malam aja sejauh jauhnya saya tetap cari U-turn kalo mau mutar. Jadi melanggar PPKM ini sepertinya udah terlalu banyak.

Saya tidak ingin catatan bersih saya akhirnya dibaca oleh anak-anak saya atau malah menjadi bahan kebanggaan di depan teman-teman mereka, “Bapakku dulu lho, nakal, dia pernah pernah melanggar PPKM.. “

Tapi yo opo pak, kayaknya susah sekali gak melanggar, Pak. Sudah terlalu lama. Pandemi udah hampir dua tahun ini diwarnai macam-macam pembatasan. Saya saja saat PPKM dimulai di awal Juni lalu, saya kaget: lho, emang pembatasan udah selesai?

Soalnya Pak, sebelum itu juga kafe udah sering dirazia. Bukan cuma kafe tempat saya bekerja, juga kafe-kafe lain di Banjarbaru ini. Saya pernah protes ke pak polisinya, jawabnya: “Kamu mau tanggung jawab kalau terjadi penularan dan banyak orang mati?”

Saya sedih mendengarnya, Pak. Teman saya juga dibilangin gitu. Jadi supaya orang-orang gak mati, kami terpaksa harus menutup kafe. Seolah-olah, malaikat siapa itu pak, lupa saya, yang cabut-cabut nyawa itu lho, tinggalnya di mesin espresso atau sachet kapal api.

Padahal kafe ya sama aja dengan tempat-tempat laen. Iya kan, Pak. Sama aja dengan kantor-kantor, warung pecel, pasar sayur, atau bak mobil satpol PP. Malahan di kafe, kita lebih minim penularan karena duduknya di tempat terbuka.

Ini saya baca di penelitian, Pak. Katanya penularan virus corona itu sangat sedikit sekali atau malah gak ada yang tercatat, terjadi di tempat terbuka. Kebanyakan terjadi di rumah. Nah, artinya risikonya minim sekali. Kok malah sukanya anak buah sampeyan ngejar yang minim-minim ini, Pak?

Belum lagi, kalo dilihat waktunya. Saya pernah usul pak: harusnya jam operasional kafe gak disamakan dengan warung makan. Warung makan udah banyak dapat pelanggan sejak pagi, kafe gak begitu. Di kafe Jam 8 malam baru ada yang datang. Kami harus tutup sebelum ada yang datang.

Jadi memang gak adil, Pak. Harusnya kan kalau mau dibatasi, pemerintah bisa lihat segmen dulu. Memang agak repot, Pak. Tapi pemimpin yang baik harus mau direpotin hal-hal remeh-temeh kayak gini.

Selama ini, kami nangkapnya pemerintah gak mau repot, Pak. Kasus naik, ya PPKM. Kalau masih naik, ya PPKM lagi. Begitu terus. Pandemi udah 2 tahun, kita masih mbulet di sini sini aja. Rafathar aja udah mau punya adek, Pak. Gak ada cara lain apa gitu, Pak, yang gak terlalu nyakitin ekonomi masyarakat?

Misalnya penanganan berbasis risiko dan data aja. Yang tua-tua dijaga, diimbau jangan keluar rumah, trus yang muda-muda yang kuat terus aja jalan asal jaga protokol kesehatan. Kan bagus, Pak. Kayaknya cermat dan efektif. Juga cerdas.

Kalo disamain semua malah kacau Pak karena gak ada fokus yang jelas.

Lagipula, Pak, setiap PPKM selesai (dan diperpanjang), saya buka– kok gak ada hasil analisisnya atau apa gitu. Saya sarapan ketupat sambil baca koran pagi-pagi: ketupat di lutut kiri, koran di paha kanan. Satu tangan buka-buka koran. Mencari berita analisis PPKM yang udah dilakukan.

Tapi sampai habis halaman, gak ada beritanya. Cuma ada biasanya Pak Luhut yang ngumumin perpanjangan. Ketupat saya sampai tumpah, dan Pak Luhut, Pak Tito, Cristiano Ronaldo, dan Taliban yang ada dalam koran, pagi-pagi udah ikut mencicipi ketupat kandangan.

Apa memang gak ada analisanya, Pak. Kan harusnya ada hitung-hitungan tepatnya: sejauh mana PPKM efektif menurunin jumlah kematian, di mana aja kasus yang terjadi saat pembatasan, dll. Kita gak tahu. Pokoknya, tahu-tahunya diperpanjang lagi. Alasannya mudah: masih banyak masyarakat abai prokes.

Saya bilangin nih Pak, ya. Kalau bapak nunggu masyarakat gak abai, Bapak mungkin bakal nunggu oh lama, selama-lama, lama lama lama lamanya (baca dengan lirik lagu Roma, Pak). Harusnya kebijakan yang diambil udah memperhitungkan semua ini, Pak. Situ kan pemerentah. Lebih punya sumber daya dan instrumen analisa untuk ambil kebijakan tepat.

Karakteristik masyarakat kita beda, Pak. Orang Jakarta misalnya beda dengan orang di Banjar. Budayanya, masyarakatnya, ketahanan ekonominya, dll. Kalau semua desain pembatasan di Jakarta dianggap juga cocok diterapkan di luar Jakarta, ya bangkrut pak. Bangkrut orang-orangnya, ide-idenya, juga otonominya.

Lama-lama gak ada lagi yang mau jadi kepala daerah. Karena semua ide datangnya dari pusat. Kalopun mau, banyak kepala daerah pakewuh. Gak enak dengan Forkopimda. Jadi gak ada lagi pikiran otentik, semuanya didikte pikiran kelompok.

Padahal kalo ditanya satu-satu, ya sama aja, Pak. Semua juga gak ingin PPKM. Capek pak, kata seorang babinsa kepada saya. Cuma mau gimana lagi, katanya, perintah atasan. Atasan kata pimpinan, pimpinan disuruh atasan. Terus sampai ke atas lagi, ke persiden.

Jadi akhirnya mau gak mau, sampeyan juga yang bisa memutuskan Pak. Intinya begitu lah, Pak. Sebenarnya saya bisa memperpanjang surat ini sampai berbagai level, tapi saya cukupkan aja sampai di sini aja. Saya paham dan maklum ekonomi masyarakat, dan gak ingin merugikan kuota mereka. Semoga sampeyan juga seperti saya, Pak. ()

****

Pandemi telah mengubah kehidupan. Banyak cerita sedih, inspiratif dan lucu yang beredar tentang cara orang-orang bertahan di tengah pembatasan. Mulai edisi ini, Radar Banjarmasin menerbitkan rubrik PPKM Story sebagai media berbagi kepada yang terdampak lain, sekaligus aspirasi bagi penentu kebijakan. Jika Anda punya cerita menarik dari pengalaman Anda dengan PPKM silahkan kirimkan ke email ppkmstory@gmail.com.

Dear Pak Jokowi,

SEMOGA surat ini menemui Anda di server yang tepat. Saya mewakili pekerja UMKM yg merasa dirugikan dengan perpanjangaaaaaaan PPKM ini. Saya bekerja part-time di kafe dan hampir tiap malam kucing-kucingan dengan petugas razia gabungan.

— Oleh: Randu Alamsyah

Disklemer. Saya bukan tipe orang yang melanggar aturan pemerintah, lho pak. Naik motor malam-malam aja sejauh jauhnya saya tetap cari U-turn kalo mau mutar. Jadi melanggar PPKM ini sepertinya udah terlalu banyak.

Saya tidak ingin catatan bersih saya akhirnya dibaca oleh anak-anak saya atau malah menjadi bahan kebanggaan di depan teman-teman mereka, “Bapakku dulu lho, nakal, dia pernah pernah melanggar PPKM.. “

Tapi yo opo pak, kayaknya susah sekali gak melanggar, Pak. Sudah terlalu lama. Pandemi udah hampir dua tahun ini diwarnai macam-macam pembatasan. Saya saja saat PPKM dimulai di awal Juni lalu, saya kaget: lho, emang pembatasan udah selesai?

Soalnya Pak, sebelum itu juga kafe udah sering dirazia. Bukan cuma kafe tempat saya bekerja, juga kafe-kafe lain di Banjarbaru ini. Saya pernah protes ke pak polisinya, jawabnya: “Kamu mau tanggung jawab kalau terjadi penularan dan banyak orang mati?”

Saya sedih mendengarnya, Pak. Teman saya juga dibilangin gitu. Jadi supaya orang-orang gak mati, kami terpaksa harus menutup kafe. Seolah-olah, malaikat siapa itu pak, lupa saya, yang cabut-cabut nyawa itu lho, tinggalnya di mesin espresso atau sachet kapal api.

Padahal kafe ya sama aja dengan tempat-tempat laen. Iya kan, Pak. Sama aja dengan kantor-kantor, warung pecel, pasar sayur, atau bak mobil satpol PP. Malahan di kafe, kita lebih minim penularan karena duduknya di tempat terbuka.

Ini saya baca di penelitian, Pak. Katanya penularan virus corona itu sangat sedikit sekali atau malah gak ada yang tercatat, terjadi di tempat terbuka. Kebanyakan terjadi di rumah. Nah, artinya risikonya minim sekali. Kok malah sukanya anak buah sampeyan ngejar yang minim-minim ini, Pak?

Belum lagi, kalo dilihat waktunya. Saya pernah usul pak: harusnya jam operasional kafe gak disamakan dengan warung makan. Warung makan udah banyak dapat pelanggan sejak pagi, kafe gak begitu. Di kafe Jam 8 malam baru ada yang datang. Kami harus tutup sebelum ada yang datang.

Jadi memang gak adil, Pak. Harusnya kan kalau mau dibatasi, pemerintah bisa lihat segmen dulu. Memang agak repot, Pak. Tapi pemimpin yang baik harus mau direpotin hal-hal remeh-temeh kayak gini.

Selama ini, kami nangkapnya pemerintah gak mau repot, Pak. Kasus naik, ya PPKM. Kalau masih naik, ya PPKM lagi. Begitu terus. Pandemi udah 2 tahun, kita masih mbulet di sini sini aja. Rafathar aja udah mau punya adek, Pak. Gak ada cara lain apa gitu, Pak, yang gak terlalu nyakitin ekonomi masyarakat?

Misalnya penanganan berbasis risiko dan data aja. Yang tua-tua dijaga, diimbau jangan keluar rumah, trus yang muda-muda yang kuat terus aja jalan asal jaga protokol kesehatan. Kan bagus, Pak. Kayaknya cermat dan efektif. Juga cerdas.

Kalo disamain semua malah kacau Pak karena gak ada fokus yang jelas.

Lagipula, Pak, setiap PPKM selesai (dan diperpanjang), saya buka– kok gak ada hasil analisisnya atau apa gitu. Saya sarapan ketupat sambil baca koran pagi-pagi: ketupat di lutut kiri, koran di paha kanan. Satu tangan buka-buka koran. Mencari berita analisis PPKM yang udah dilakukan.

Tapi sampai habis halaman, gak ada beritanya. Cuma ada biasanya Pak Luhut yang ngumumin perpanjangan. Ketupat saya sampai tumpah, dan Pak Luhut, Pak Tito, Cristiano Ronaldo, dan Taliban yang ada dalam koran, pagi-pagi udah ikut mencicipi ketupat kandangan.

Apa memang gak ada analisanya, Pak. Kan harusnya ada hitung-hitungan tepatnya: sejauh mana PPKM efektif menurunin jumlah kematian, di mana aja kasus yang terjadi saat pembatasan, dll. Kita gak tahu. Pokoknya, tahu-tahunya diperpanjang lagi. Alasannya mudah: masih banyak masyarakat abai prokes.

Saya bilangin nih Pak, ya. Kalau bapak nunggu masyarakat gak abai, Bapak mungkin bakal nunggu oh lama, selama-lama, lama lama lama lamanya (baca dengan lirik lagu Roma, Pak). Harusnya kebijakan yang diambil udah memperhitungkan semua ini, Pak. Situ kan pemerentah. Lebih punya sumber daya dan instrumen analisa untuk ambil kebijakan tepat.

Karakteristik masyarakat kita beda, Pak. Orang Jakarta misalnya beda dengan orang di Banjar. Budayanya, masyarakatnya, ketahanan ekonominya, dll. Kalau semua desain pembatasan di Jakarta dianggap juga cocok diterapkan di luar Jakarta, ya bangkrut pak. Bangkrut orang-orangnya, ide-idenya, juga otonominya.

Lama-lama gak ada lagi yang mau jadi kepala daerah. Karena semua ide datangnya dari pusat. Kalopun mau, banyak kepala daerah pakewuh. Gak enak dengan Forkopimda. Jadi gak ada lagi pikiran otentik, semuanya didikte pikiran kelompok.

Padahal kalo ditanya satu-satu, ya sama aja, Pak. Semua juga gak ingin PPKM. Capek pak, kata seorang babinsa kepada saya. Cuma mau gimana lagi, katanya, perintah atasan. Atasan kata pimpinan, pimpinan disuruh atasan. Terus sampai ke atas lagi, ke persiden.

Jadi akhirnya mau gak mau, sampeyan juga yang bisa memutuskan Pak. Intinya begitu lah, Pak. Sebenarnya saya bisa memperpanjang surat ini sampai berbagai level, tapi saya cukupkan aja sampai di sini aja. Saya paham dan maklum ekonomi masyarakat, dan gak ingin merugikan kuota mereka. Semoga sampeyan juga seperti saya, Pak. ()

****

Pandemi telah mengubah kehidupan. Banyak cerita sedih, inspiratif dan lucu yang beredar tentang cara orang-orang bertahan di tengah pembatasan. Mulai edisi ini, Radar Banjarmasin menerbitkan rubrik PPKM Story sebagai media berbagi kepada yang terdampak lain, sekaligus aspirasi bagi penentu kebijakan. Jika Anda punya cerita menarik dari pengalaman Anda dengan PPKM silahkan kirimkan ke email ppkmstory@gmail.com.

Most Read

Artikel Terbaru

/