alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Puluhan Guru Meninggal Karena Covid

BANJARBARU – Hingga kini sudah ada ribuan orang meninggal dunia di Kalsel lantaran tertular virus corona atau Covid-19. Dari jumlah itu, puluhan di antaranya ternyata para guru.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel mencatat, sejak Covid -19 masuk ke Banua Maret 2020 hingga awal Agustus 2021 sudah ada 50 lebih guru yang mengajar di sekolah menengah atas meninggal dunia akibat serangan Covid-19.

Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Disdikbud Kalsel, Abdul Rahim mengatakan, guru yang meninggal dunia karena virus asal Cina tersebut terbanyak dari Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.

Namun, Rahim enggan menyampaikan secara rinci guru yang meninggal dunia mengajar di sekolah mana saja. “Yang jelas, paling banyak dari Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Yang lainnya menyebar di kabupaten lain, seperti Tabalong, Tapin dan Batola,” ucapnya.

Jumlah tersebut, papar Rahim, bisa saja bertambah karena masih ada guru yang meninggal dunia akibat Covid -19 belum dilaporkan ke Disdikbud Kalsel.

Dengan meninggalnya puluhan tenaga pengajar, dia meminta kepada pemerintah daerah untuk mengusulkan guru pengganti. “Kalau guru PNS belum ada, kita akan isi dengan guru honorer,” tegasnya.

Rahim berujar, hampir 100 persen guru yang mengajar di SMA, SMK dan SLB se-Kalsel sudah divaksin. Baik dosis pertama maupun kedua.“Jumlah guru yang divaksin sudah 8.800 orang dari total keseluruhan 9.000 guru. Jadi sudah lebih 90 persen,” imbuhnya.

Vaksinasi terhadap guru sendiri kata dia, masih terkendala ketersediaan vaksin yang sempat kosong. “Kendala lainnya dari kondisi kesehatan guru sendiri yang mengidap penyakit darah tinggi, jantung dan penyakit lainnya. Sehingga belum bisa divaksin Covid-19,” tandasnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, puluhan pasien Covid-19 setiap harinya dilaporkan meninggal dunia. Kondisi ini membuat jumlah angka kematian akibat virus corona di Kalimantan Selatan terus menanjak.

Senin (15/8) kemarin misalnya, Satgas Covid-19 Kalsel melaporkan kasus kematian bertambah 27 orang. Dengan tambahan itu, membuat total angka kematian akibat virus corona menjadi 1.802 kasus.

Dari jumlah itu, terbanyak ada di Kota Banjarmasin dengan 350 kasus. Disusul Banjarbaru, 294 kasus. Kemudian, ada lima kabupaten yang kasus kematiannya di atas 100. Yakni, Tanah Laut, 188 kasus; Tanah Bumbu, 190 kasus; Banjar, 134 kasus; Hulu Sungai Tengah, 144 kasus dan Kotabaru, 118 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim menuturkan, tingginya angka kematian Covid-19 dikarenakan banyak pasien yang terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan.

“Sebagian besar datang ke rumah sakit dalam keadaan sudah kondisi berat sampai dengan sangat kritis. Sehingga tak tertolong,” tuturnya.

Di RSUD Ulin Banjarmasin misalnya, dia menyebut, ada 65 persen pasien Covid-19 yang meninggal dunia karena terlambat. “Banyak meninggal masih berada di UGD. Ada juga baru beberapa waktu perawatan sudah meninggal,” sebutnya.

Selain terlambat dirujuk ke rumah sakit, Muslim menuturkan, pasien Covid-19 yang meninggal dunia juga kebanyakan punya penyakit penyerta atau komorbid. “Jadi bagi masyarakat yang punya gejala Covid-19 jangan ditahan-tahan. Segera lapor ke fasilitas kesehatan,” tuturnya.

Terkait perkembangan kasus, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel ini menyampaikan, jika dibandingkan dengan Juni saat ini ada kenaikan hingga empat kali lipat.

Dia menjelaskan, melihat lonjakan kasus yang terjadi pihaknya tidak memungkiri kemungkinan disebabkan oleh adanya varian delta Covid-19. “Ini mulai terlihat sejak akhir Mei. Sekarang sedang kita telusuri semua,” tuturnya.

Selain menelusuri dari kasus yang sedang berkembang, disampaikan Muslim, tim saat ini juga tengah melakukan penelusuran terhadap satu spesimen yang dinyatakan sebagai varian delta oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes).

“Jadi ada satu spesimen yang kita kirim Juli dinyatakan sebagai varian delta. Saat ini sedang kita telusuri dari mana penularannya dan siapa saja kontak eratnya,” bebernya tanpa menyebutkan dari daerah mana spesimen itu.

Dia meminta agar masyarakat bersabar, tim di lapangan sekarang masih melakukan penelusuran di Banjarbaru dan Banjarmasin. “Nanti akan ketahuan, ke mana saja penularannya dan dari mana saja,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Hingga kini sudah ada ribuan orang meninggal dunia di Kalsel lantaran tertular virus corona atau Covid-19. Dari jumlah itu, puluhan di antaranya ternyata para guru.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel mencatat, sejak Covid -19 masuk ke Banua Maret 2020 hingga awal Agustus 2021 sudah ada 50 lebih guru yang mengajar di sekolah menengah atas meninggal dunia akibat serangan Covid-19.

Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Disdikbud Kalsel, Abdul Rahim mengatakan, guru yang meninggal dunia karena virus asal Cina tersebut terbanyak dari Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.

Namun, Rahim enggan menyampaikan secara rinci guru yang meninggal dunia mengajar di sekolah mana saja. “Yang jelas, paling banyak dari Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Yang lainnya menyebar di kabupaten lain, seperti Tabalong, Tapin dan Batola,” ucapnya.

Jumlah tersebut, papar Rahim, bisa saja bertambah karena masih ada guru yang meninggal dunia akibat Covid -19 belum dilaporkan ke Disdikbud Kalsel.

Dengan meninggalnya puluhan tenaga pengajar, dia meminta kepada pemerintah daerah untuk mengusulkan guru pengganti. “Kalau guru PNS belum ada, kita akan isi dengan guru honorer,” tegasnya.

Rahim berujar, hampir 100 persen guru yang mengajar di SMA, SMK dan SLB se-Kalsel sudah divaksin. Baik dosis pertama maupun kedua.“Jumlah guru yang divaksin sudah 8.800 orang dari total keseluruhan 9.000 guru. Jadi sudah lebih 90 persen,” imbuhnya.

Vaksinasi terhadap guru sendiri kata dia, masih terkendala ketersediaan vaksin yang sempat kosong. “Kendala lainnya dari kondisi kesehatan guru sendiri yang mengidap penyakit darah tinggi, jantung dan penyakit lainnya. Sehingga belum bisa divaksin Covid-19,” tandasnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, puluhan pasien Covid-19 setiap harinya dilaporkan meninggal dunia. Kondisi ini membuat jumlah angka kematian akibat virus corona di Kalimantan Selatan terus menanjak.

Senin (15/8) kemarin misalnya, Satgas Covid-19 Kalsel melaporkan kasus kematian bertambah 27 orang. Dengan tambahan itu, membuat total angka kematian akibat virus corona menjadi 1.802 kasus.

Dari jumlah itu, terbanyak ada di Kota Banjarmasin dengan 350 kasus. Disusul Banjarbaru, 294 kasus. Kemudian, ada lima kabupaten yang kasus kematiannya di atas 100. Yakni, Tanah Laut, 188 kasus; Tanah Bumbu, 190 kasus; Banjar, 134 kasus; Hulu Sungai Tengah, 144 kasus dan Kotabaru, 118 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim menuturkan, tingginya angka kematian Covid-19 dikarenakan banyak pasien yang terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan.

“Sebagian besar datang ke rumah sakit dalam keadaan sudah kondisi berat sampai dengan sangat kritis. Sehingga tak tertolong,” tuturnya.

Di RSUD Ulin Banjarmasin misalnya, dia menyebut, ada 65 persen pasien Covid-19 yang meninggal dunia karena terlambat. “Banyak meninggal masih berada di UGD. Ada juga baru beberapa waktu perawatan sudah meninggal,” sebutnya.

Selain terlambat dirujuk ke rumah sakit, Muslim menuturkan, pasien Covid-19 yang meninggal dunia juga kebanyakan punya penyakit penyerta atau komorbid. “Jadi bagi masyarakat yang punya gejala Covid-19 jangan ditahan-tahan. Segera lapor ke fasilitas kesehatan,” tuturnya.

Terkait perkembangan kasus, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel ini menyampaikan, jika dibandingkan dengan Juni saat ini ada kenaikan hingga empat kali lipat.

Dia menjelaskan, melihat lonjakan kasus yang terjadi pihaknya tidak memungkiri kemungkinan disebabkan oleh adanya varian delta Covid-19. “Ini mulai terlihat sejak akhir Mei. Sekarang sedang kita telusuri semua,” tuturnya.

Selain menelusuri dari kasus yang sedang berkembang, disampaikan Muslim, tim saat ini juga tengah melakukan penelusuran terhadap satu spesimen yang dinyatakan sebagai varian delta oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes).

“Jadi ada satu spesimen yang kita kirim Juli dinyatakan sebagai varian delta. Saat ini sedang kita telusuri dari mana penularannya dan siapa saja kontak eratnya,” bebernya tanpa menyebutkan dari daerah mana spesimen itu.

Dia meminta agar masyarakat bersabar, tim di lapangan sekarang masih melakukan penelusuran di Banjarbaru dan Banjarmasin. “Nanti akan ketahuan, ke mana saja penularannya dan dari mana saja,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/