alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Tambahan Kasus Tinggi di Banjarbaru, Sudah 279 Meninggal, Dinkes Dilema

BANJARBARU – Tak kurang beberapa pekan terakhir. Kasus terkonfirmasi positif di Banjarbaru meroket. Bahkan dalam sehari, kasus baru capai rekor sampai 300 kasus. Tentu angka yang tidak sedikit.

Menilik data dari Gugus Tugas Kota Banjarbaru, kini per tanggal 10 Agustus 2021, jumlah kasus positif Covid-19 di Banjarbaru sudah tembus 7666 kasus. Untuk pasien sembuh ada 6113 orang dan yang meninggal dunia 279 kasus.

Tingginya kasus harian di Banjarbaru memang jadi sorotan. Bahkan menjadi salah satu daerah yang tertinggi di Kalsel. Terlebih akhir-akhir ini tambahan kasus kian menjadi-jadi. Belum lagi soal meningkatnya angka kematian karena virus menular ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Rizana Mirza mengaku juga cukup dilematis. Sebab, ia mengklaim bahwa data yang ditunjukkan itu memang data yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Banyaknya yang terkonfirmasi itu menandakan bahwa tim kita bekerja, upaya tracking dan testing berjalan. Tapi memang kita juga sadari di satu sisi, kasus tinggi itu dipandang berbeda,” ungkapnya.

Kendati ada pandangan kasus tinggi dikarenakan wabah yang tak terkendali. Rizana menilai bahwa kasus tinggi ini justru lebih ideal dalam hal mitigasi ke depannya.

“Makanya ketika ada kasus terkonfirmasi, tim langsung melacak dan melakukan tes. Dan seperti inilah faktanya, memang tambahan kasus itu ril adanya. Kalau daerah lain kita tidak mengetahui bagaimana,” ujarnya.

Masih katanya, banyaknya kasus positif yang berhasil dilacak ini katanya juga mencegah terjadinya ledakan atau bom waktu penularan meluas hingga risiko kematian.

“Kita tidak ingin jadi bom waktu, tidak dilacak dan orang yang tak bergejala dan berkeliaran malah menularkan ke banyak orang. Yang kita khawatirkan ini kan penularan yang tidak terkendali, makanya kita memandang lebih ideal dengan penguatan tracking serta testing ini,” ungkapnya.

Saat ini kata Rizana, sesuai dengan standar oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang diturunkan dalam Permenkes RI. Bahwa jumlah ideal upaya 3T dengan rasio 1 per 1000 penduduk untuk setiap pekannya.

“Untuk jumlah atau persentase pastinya tidak bisa dihitung, karena kasus ini turun naik, kadang 300 kadang 10. Tapi yang jelas kita upayakan sesuai standarisasinya, jadi satu pekan kita berkisar di 200-250 testing,” ujarnya.

Kemudian turut diumbar Rizana, bahwa sekarang tren penularan sudah tak terlalu spesifik di klaster tertentu. Meskipun dari data, bahwa penularan di Rumah Tangga serta perkantoran masih cukup banyak ditemukan.

“Sekarang ini jika dibagi klaster saya kira sudah tidak terlalu spesifik, karena penularan ini sudah cepat dan meluas. Tapi memang kebanyakan masih dari rumah tangga,” ujarnya.

Rumah tangga ini kata Rizana memang sangat rawan. Sebah anggota keluarga yang punya perbedaan usia dan aktivitas nilainya yang jadi pemicu klaster inu begitu naik kasusnya.

“Contohnya saja ada anggota keluarga yang masih muda dan sering jalan-jalan ke luar rumah, katakanlah nongkrong. Nah dia kan bisa saja tertular di luar tapi tanpa gejala, akhirnya datang ke rumah menularkan ke orang tua, ini yang rawan sekali terjadi,” tuntasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Tak kurang beberapa pekan terakhir. Kasus terkonfirmasi positif di Banjarbaru meroket. Bahkan dalam sehari, kasus baru capai rekor sampai 300 kasus. Tentu angka yang tidak sedikit.

Menilik data dari Gugus Tugas Kota Banjarbaru, kini per tanggal 10 Agustus 2021, jumlah kasus positif Covid-19 di Banjarbaru sudah tembus 7666 kasus. Untuk pasien sembuh ada 6113 orang dan yang meninggal dunia 279 kasus.

Tingginya kasus harian di Banjarbaru memang jadi sorotan. Bahkan menjadi salah satu daerah yang tertinggi di Kalsel. Terlebih akhir-akhir ini tambahan kasus kian menjadi-jadi. Belum lagi soal meningkatnya angka kematian karena virus menular ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Rizana Mirza mengaku juga cukup dilematis. Sebab, ia mengklaim bahwa data yang ditunjukkan itu memang data yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Banyaknya yang terkonfirmasi itu menandakan bahwa tim kita bekerja, upaya tracking dan testing berjalan. Tapi memang kita juga sadari di satu sisi, kasus tinggi itu dipandang berbeda,” ungkapnya.

Kendati ada pandangan kasus tinggi dikarenakan wabah yang tak terkendali. Rizana menilai bahwa kasus tinggi ini justru lebih ideal dalam hal mitigasi ke depannya.

“Makanya ketika ada kasus terkonfirmasi, tim langsung melacak dan melakukan tes. Dan seperti inilah faktanya, memang tambahan kasus itu ril adanya. Kalau daerah lain kita tidak mengetahui bagaimana,” ujarnya.

Masih katanya, banyaknya kasus positif yang berhasil dilacak ini katanya juga mencegah terjadinya ledakan atau bom waktu penularan meluas hingga risiko kematian.

“Kita tidak ingin jadi bom waktu, tidak dilacak dan orang yang tak bergejala dan berkeliaran malah menularkan ke banyak orang. Yang kita khawatirkan ini kan penularan yang tidak terkendali, makanya kita memandang lebih ideal dengan penguatan tracking serta testing ini,” ungkapnya.

Saat ini kata Rizana, sesuai dengan standar oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang diturunkan dalam Permenkes RI. Bahwa jumlah ideal upaya 3T dengan rasio 1 per 1000 penduduk untuk setiap pekannya.

“Untuk jumlah atau persentase pastinya tidak bisa dihitung, karena kasus ini turun naik, kadang 300 kadang 10. Tapi yang jelas kita upayakan sesuai standarisasinya, jadi satu pekan kita berkisar di 200-250 testing,” ujarnya.

Kemudian turut diumbar Rizana, bahwa sekarang tren penularan sudah tak terlalu spesifik di klaster tertentu. Meskipun dari data, bahwa penularan di Rumah Tangga serta perkantoran masih cukup banyak ditemukan.

“Sekarang ini jika dibagi klaster saya kira sudah tidak terlalu spesifik, karena penularan ini sudah cepat dan meluas. Tapi memang kebanyakan masih dari rumah tangga,” ujarnya.

Rumah tangga ini kata Rizana memang sangat rawan. Sebah anggota keluarga yang punya perbedaan usia dan aktivitas nilainya yang jadi pemicu klaster inu begitu naik kasusnya.

“Contohnya saja ada anggota keluarga yang masih muda dan sering jalan-jalan ke luar rumah, katakanlah nongkrong. Nah dia kan bisa saja tertular di luar tapi tanpa gejala, akhirnya datang ke rumah menularkan ke orang tua, ini yang rawan sekali terjadi,” tuntasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/