alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Kasus Menurun, karena Tes Berkurang

BANJARMASIN – Klaim penurunan kasus di Banjarmasin dibantah oleh anggota Tim Pakar COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin.

Ia menilai, penurunan kasus positif itu erat kaitannya dengan berkurangnya jumlah penduduk dites.
Mengacu data Kementerian Kesehatan, pada tanggal 2 Agustus jumlah warga yang menjalani tes dalam sepekan sebanyak 3.546.

“Sedangkan sepekan kemudian, hingga tanggal 8 Agustus, yang menjalani tes hanya sebanyak 2.997 orang,” bebernya.

Maka, ia tak heran jika pusat masih memandang ibu kota Kalsel ini masih berada di level 4.
“Secara sederhana, risiko masyarakat terinfeksi virus corona sangat tinggi. Sementara respons yang berkaitan dengan 3T (testing, tracing dan treatment) masih sangat terbatas,” bebernya.

Kembali pada data di atas, sampai 9 Agustus, bertambah 122 kasus per 100 ribu penduduk.
Sedangkan pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit di Banjarmasin bertambah sebesar 91 pasien per 100 ribu penduduk dan yang meninggal bertambah 12 kasus per 100 ribu penduduk.
Maka, Muttaqin kembali mengingatkan pemko dan satgas bahwa tujuan dari PPKM level 4 adalah untuk menurunkan insidensi kasus, risiko tertular, serta meningkatkan kapasitas respons kesehatan.

Caranya, selain meningkatkan kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan, juga mesti menurunkan mobilitas penduduk secara signifikan.

Menurut Muttaqin, setidaknya pemerintah mesti menekan mobilitas penduduk sebanyak 50 persen.
“Sayangnya, apa yang kita lihat selama dua pekan terakhir, mobilitas penduduk tidak mengalami penurunan. Bahkan ada kecenderungan meningkat,” kritiknya.

“Padahal jika dua hal itu dicapai, tentu sangat membantu dalam menurunkan insidensi kasus. Ini memerlukan keseriusan pemerintah dan masyarakat,” tutupnya. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Klaim penurunan kasus di Banjarmasin dibantah oleh anggota Tim Pakar COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin.

Ia menilai, penurunan kasus positif itu erat kaitannya dengan berkurangnya jumlah penduduk dites.
Mengacu data Kementerian Kesehatan, pada tanggal 2 Agustus jumlah warga yang menjalani tes dalam sepekan sebanyak 3.546.

“Sedangkan sepekan kemudian, hingga tanggal 8 Agustus, yang menjalani tes hanya sebanyak 2.997 orang,” bebernya.

Maka, ia tak heran jika pusat masih memandang ibu kota Kalsel ini masih berada di level 4.
“Secara sederhana, risiko masyarakat terinfeksi virus corona sangat tinggi. Sementara respons yang berkaitan dengan 3T (testing, tracing dan treatment) masih sangat terbatas,” bebernya.

Kembali pada data di atas, sampai 9 Agustus, bertambah 122 kasus per 100 ribu penduduk.
Sedangkan pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit di Banjarmasin bertambah sebesar 91 pasien per 100 ribu penduduk dan yang meninggal bertambah 12 kasus per 100 ribu penduduk.
Maka, Muttaqin kembali mengingatkan pemko dan satgas bahwa tujuan dari PPKM level 4 adalah untuk menurunkan insidensi kasus, risiko tertular, serta meningkatkan kapasitas respons kesehatan.

Caranya, selain meningkatkan kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan, juga mesti menurunkan mobilitas penduduk secara signifikan.

Menurut Muttaqin, setidaknya pemerintah mesti menekan mobilitas penduduk sebanyak 50 persen.
“Sayangnya, apa yang kita lihat selama dua pekan terakhir, mobilitas penduduk tidak mengalami penurunan. Bahkan ada kecenderungan meningkat,” kritiknya.

“Padahal jika dua hal itu dicapai, tentu sangat membantu dalam menurunkan insidensi kasus. Ini memerlukan keseriusan pemerintah dan masyarakat,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/