alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Blokir Akses Gang Nuri, Inilah PPKM Mikro yang Sesungguhnya

Berada di zona merah, warga Gang Nuri memblokir akses masuk dan keluar lingkungan.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Kemarin (8/8) siang, gang di Jalan Sutoyo S RT 27 Kelurahan Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah itu tampak lengang.

Hanya ada dua orang yang tampak menjempur pakaian di teras rumah. Kelar, mereka langsung masuk ke dalam rumah.

Di mulut gang, terpampang papan triplek berisi pengumuman, “Jalan ditutup untuk umum. Terkecuali warga RT 27. Karena kami sedang PPKM dan isolasi mandiri.”

Pengumuman serupa juga dipasang di perbatasan gang. Di situ, ada pagar putih dengan kunci gembok. Plus palang berupa bangku kayu.

Ketua rukun tetangga setempat, Rolly Ikhsan mengatakan, pemblokiran dimulai sejak Sabtu (7/8). Tujuannya mengerem laju penyebaran virus di tengah warga Gang Nuri.

Disebutkannya, ada empat warganya yang positif COVID-19. Pemblokiran ini juga untuk mendukung mereka yang sedang isoman.

“Tiga orang tinggal di sini. Satu lagi sudah tak tinggal di sini. Keempatnya melapor ke puskesmas dan sedang isoman,” jelasnya.

Setelah berembuk, warga bahu-membahu menolong yang sedang isoman. Soal pemblokiran, ditegaskan Rolly hanya pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu saja. Selama diblokir, warga bergantian berjaga selama 24 jam.

Alasannya, pada dua hari itulah ramai lalu-lalang pengendara. Maklum, gang ini tembus ke Jalan Rawasari dan Sungai Kerukan.

“Kami juga bekerja sama dengan PMI (Palang Merah Indonesia) untuk penyemprotan disinfektan,” tambahnya.
Tentu saja, pemblokiran itu sempat menuai keluhan. Tapi setelah dijelaskan, sedikit demi sedikit yang lain bisa memahami.

Rolly meyakini, sebenarnya sudah banyak warganya yang tertular corona. Tapi takut tes atau takut melapor. Rupanya, masih ada saja yang menganggap terinfeksi virus ini sebagai aib.

“Saya menyayangkannya. Padahal warga gang sini tak masalah, kami saling bantu. Kami sudah seperti saudara,” lanjutnya.

Ia berpendapat, selama tes usap masih berbayar dan mahal, maka memblokir gang dan membatasi mobilitas warga merupakan pilihan yang paling realistis.

“Tiga warga saya yang positif itu, swab-nya mandiri di klinik. Bukan dari puskesmas,” tegasnya.

Masalah lain, puskesmas tak memantau warga isoman. Justru Rolly yang harus rajin-rajin bertanya ke puskesmas.

“Syukur keadaan mereka baik-baik saja. Tak ada gejala berat. Bahkan, sudah tes ulang dan hasilnya negatif,” tutupnya. (war/fud/ema)

Berada di zona merah, warga Gang Nuri memblokir akses masuk dan keluar lingkungan.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Kemarin (8/8) siang, gang di Jalan Sutoyo S RT 27 Kelurahan Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah itu tampak lengang.

Hanya ada dua orang yang tampak menjempur pakaian di teras rumah. Kelar, mereka langsung masuk ke dalam rumah.

Di mulut gang, terpampang papan triplek berisi pengumuman, “Jalan ditutup untuk umum. Terkecuali warga RT 27. Karena kami sedang PPKM dan isolasi mandiri.”

Pengumuman serupa juga dipasang di perbatasan gang. Di situ, ada pagar putih dengan kunci gembok. Plus palang berupa bangku kayu.

Ketua rukun tetangga setempat, Rolly Ikhsan mengatakan, pemblokiran dimulai sejak Sabtu (7/8). Tujuannya mengerem laju penyebaran virus di tengah warga Gang Nuri.

Disebutkannya, ada empat warganya yang positif COVID-19. Pemblokiran ini juga untuk mendukung mereka yang sedang isoman.

“Tiga orang tinggal di sini. Satu lagi sudah tak tinggal di sini. Keempatnya melapor ke puskesmas dan sedang isoman,” jelasnya.

Setelah berembuk, warga bahu-membahu menolong yang sedang isoman. Soal pemblokiran, ditegaskan Rolly hanya pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu saja. Selama diblokir, warga bergantian berjaga selama 24 jam.

Alasannya, pada dua hari itulah ramai lalu-lalang pengendara. Maklum, gang ini tembus ke Jalan Rawasari dan Sungai Kerukan.

“Kami juga bekerja sama dengan PMI (Palang Merah Indonesia) untuk penyemprotan disinfektan,” tambahnya.
Tentu saja, pemblokiran itu sempat menuai keluhan. Tapi setelah dijelaskan, sedikit demi sedikit yang lain bisa memahami.

Rolly meyakini, sebenarnya sudah banyak warganya yang tertular corona. Tapi takut tes atau takut melapor. Rupanya, masih ada saja yang menganggap terinfeksi virus ini sebagai aib.

“Saya menyayangkannya. Padahal warga gang sini tak masalah, kami saling bantu. Kami sudah seperti saudara,” lanjutnya.

Ia berpendapat, selama tes usap masih berbayar dan mahal, maka memblokir gang dan membatasi mobilitas warga merupakan pilihan yang paling realistis.

“Tiga warga saya yang positif itu, swab-nya mandiri di klinik. Bukan dari puskesmas,” tegasnya.

Masalah lain, puskesmas tak memantau warga isoman. Justru Rolly yang harus rajin-rajin bertanya ke puskesmas.

“Syukur keadaan mereka baik-baik saja. Tak ada gejala berat. Bahkan, sudah tes ulang dan hasilnya negatif,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/