alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Antrean Plasma Sudah 237 Permintaan, PMI Coba Lacak Penyintas

BANJARMASIN – Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) kewalahan menghadapi permintaan plasma konvalesen. Warga bahkan sampai rela mengantre.

Sampai Ahad (8/8) sore, antrean itu sudah mencapai dua ratus permintaan.

“Antreannya sudah tembus 237 permintaan,” kata Kepala UDD PMI Banjarmasin, dr Aulia Ramadhan Supit.
Peningkatan permintaan sebenarnya sudah terlihat sejak akhir Juni.

Persoalannya, antara permintaan plasma dan jumlah pendonornya tak sebanding. Apakah karena banyak penyintas yang enggan mendonor?

Menjawab itu, diceritakannya, setiap hari ada saja pendonor yang singgah ke UDD.

Tapi berbeda dengan darah biasa, untuk terapi ini, harus lolos seleksi. “Kebanyakan titer antibodi pasien yang kami dapatkan rendah, jadi tak bisa menjadi plasma konvalesen,” jelasnya.

Sekarang, PMI bekerja sama dengan rumah sakit dan Bapelkes untuk melacak para penyintas. Lalu, menghubungi para pendonor yang sudah pernah mendatangi PMI.

Dr Rama sempat meminta bantuan ke provinsi-provinsi lain. Tapi ternyata, PMI di daerah lain juga sama-sama kewalahan.

“Kami mencoba meminta bantuan ke Jakarta dan Sidoarjo, ternyata mereka juga kekurangan. Antreannya juga masih panjang,” tambahnya.

Menghadapi kenyataan ini, ia berharap masyarakat semakin disiplin dalam prokes. Jangan sampai mereka juga sibuk ke sana-sini mencari pendonor plasma. (gmp/fud/ema)

BANJARMASIN – Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) kewalahan menghadapi permintaan plasma konvalesen. Warga bahkan sampai rela mengantre.

Sampai Ahad (8/8) sore, antrean itu sudah mencapai dua ratus permintaan.

“Antreannya sudah tembus 237 permintaan,” kata Kepala UDD PMI Banjarmasin, dr Aulia Ramadhan Supit.
Peningkatan permintaan sebenarnya sudah terlihat sejak akhir Juni.

Persoalannya, antara permintaan plasma dan jumlah pendonornya tak sebanding. Apakah karena banyak penyintas yang enggan mendonor?

Menjawab itu, diceritakannya, setiap hari ada saja pendonor yang singgah ke UDD.

Tapi berbeda dengan darah biasa, untuk terapi ini, harus lolos seleksi. “Kebanyakan titer antibodi pasien yang kami dapatkan rendah, jadi tak bisa menjadi plasma konvalesen,” jelasnya.

Sekarang, PMI bekerja sama dengan rumah sakit dan Bapelkes untuk melacak para penyintas. Lalu, menghubungi para pendonor yang sudah pernah mendatangi PMI.

Dr Rama sempat meminta bantuan ke provinsi-provinsi lain. Tapi ternyata, PMI di daerah lain juga sama-sama kewalahan.

“Kami mencoba meminta bantuan ke Jakarta dan Sidoarjo, ternyata mereka juga kekurangan. Antreannya juga masih panjang,” tambahnya.

Menghadapi kenyataan ini, ia berharap masyarakat semakin disiplin dalam prokes. Jangan sampai mereka juga sibuk ke sana-sini mencari pendonor plasma. (gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/