alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Tarif BRT Non Tunai Naik Seribu Rupiah

BANJARMASIN – Sejak beroperasi 14 Agustus 2019 lalu, tarif angkutan Bus Rapid Transit (BRT) tak pernah dinaikan. Nah, mulai pertengahan bulan Agustus ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kalsel berencana akan menaikkan tarifnya dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu.

Namun, kenaikan tarif ini tak menyasar pelajar. Kenaikan tarif seribu Rupiah hanya berlaku untuk umum. Itu pun yang bayar dengan tunai. Sementara, untuk non tunai tarifnya tetap. Pembayaran non tunai ini menggunakan kartu Brizzi yang bisa didapat melalui Bank Kalsel. “Naiknya hanya seribu Rupiah. Ini juga untuk membiasakan penumpang untuk tak lagi non tunai, apalagi saat ini pandemi,” tutur Sekretaris Dishub Kalsel, Muhammad Mirhansyah.

Selain alasan itu, dia menjelaskan kenaikan tarif tersebut dilandasi beberapa pertimbangan. Salah satunya untuk menutupi beban operasional yang dikeluarkan pihaknya saat ini. Dicontohkannya, seperti biaya bahan bakar minyak (BBM), gaji driver dan navigator, serta perawatan kendaraan.

“Yang paling mendasar adalah, untuk merangsang pengguna BRT agar beralih ke pembayaran non tunai dari karcis seperti saat ini,” imbuhnya.

Saat pandemi dan PPKM sekarang, BRT tetap beroperasi. Namun jumlah penumpangnya dibatasi. Dari kapasitas 30 penumpang, BRT hanya membawa penumpang maksimal 14 orang. “Tapi sekarang tak sampai 14 penumpang juga. Penumpangnya sepi,” sebutnya.

Dibeberkannya, selama pemberlakuan PPKM Level 3 dan 4 di Kalsel, penumpang BRT mengalami penurunan sampai 40-50 persen. “Sebelum pandemi, penumpangnya bisa antre,” ucap Mirhan.

Tak bisa dipungkiri, sepinya penumpang BRT sekarang selain karena kampus tak menggelar perkuliahan tatap muka, juga pembatasan jumlah karyawan di dalam kantor. “Ini yang juga membuat penumpang turun drastis,” tandasnya.

Sementara, salah satu penumpang BRT, Aprilia mengaku tak keberatan tarif akan dinaikkan seribu Rupiah. Menurutnya, hal tesebut wajar di saat kondisi ekonomi saat ini “Apalagi penumpang BRT bisa dihitung dengan jari. Padahal biaya opersional sama saja. Asal naiknya tak sampai Rp5 ribu saja,” tuturnya kemarin.

Dia juga bersyukur BRT masih beroperasi normal meski pandemi dan pemberlakuan PPKM Level 4 di Banjarmasin dan Banjarbaru. “Asal masih beroperasi. Kasihan juga saya yang pekerja swasta jika harus menggunakan angkutan lain yang biayanya lebih mahal,” ujarnya. (mof/ran/ema)

BANJARMASIN – Sejak beroperasi 14 Agustus 2019 lalu, tarif angkutan Bus Rapid Transit (BRT) tak pernah dinaikan. Nah, mulai pertengahan bulan Agustus ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kalsel berencana akan menaikkan tarifnya dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu.

Namun, kenaikan tarif ini tak menyasar pelajar. Kenaikan tarif seribu Rupiah hanya berlaku untuk umum. Itu pun yang bayar dengan tunai. Sementara, untuk non tunai tarifnya tetap. Pembayaran non tunai ini menggunakan kartu Brizzi yang bisa didapat melalui Bank Kalsel. “Naiknya hanya seribu Rupiah. Ini juga untuk membiasakan penumpang untuk tak lagi non tunai, apalagi saat ini pandemi,” tutur Sekretaris Dishub Kalsel, Muhammad Mirhansyah.

Selain alasan itu, dia menjelaskan kenaikan tarif tersebut dilandasi beberapa pertimbangan. Salah satunya untuk menutupi beban operasional yang dikeluarkan pihaknya saat ini. Dicontohkannya, seperti biaya bahan bakar minyak (BBM), gaji driver dan navigator, serta perawatan kendaraan.

“Yang paling mendasar adalah, untuk merangsang pengguna BRT agar beralih ke pembayaran non tunai dari karcis seperti saat ini,” imbuhnya.

Saat pandemi dan PPKM sekarang, BRT tetap beroperasi. Namun jumlah penumpangnya dibatasi. Dari kapasitas 30 penumpang, BRT hanya membawa penumpang maksimal 14 orang. “Tapi sekarang tak sampai 14 penumpang juga. Penumpangnya sepi,” sebutnya.

Dibeberkannya, selama pemberlakuan PPKM Level 3 dan 4 di Kalsel, penumpang BRT mengalami penurunan sampai 40-50 persen. “Sebelum pandemi, penumpangnya bisa antre,” ucap Mirhan.

Tak bisa dipungkiri, sepinya penumpang BRT sekarang selain karena kampus tak menggelar perkuliahan tatap muka, juga pembatasan jumlah karyawan di dalam kantor. “Ini yang juga membuat penumpang turun drastis,” tandasnya.

Sementara, salah satu penumpang BRT, Aprilia mengaku tak keberatan tarif akan dinaikkan seribu Rupiah. Menurutnya, hal tesebut wajar di saat kondisi ekonomi saat ini “Apalagi penumpang BRT bisa dihitung dengan jari. Padahal biaya opersional sama saja. Asal naiknya tak sampai Rp5 ribu saja,” tuturnya kemarin.

Dia juga bersyukur BRT masih beroperasi normal meski pandemi dan pemberlakuan PPKM Level 4 di Banjarmasin dan Banjarbaru. “Asal masih beroperasi. Kasihan juga saya yang pekerja swasta jika harus menggunakan angkutan lain yang biayanya lebih mahal,” ujarnya. (mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/