alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Ekonomi Sulit, Picu Lonjakan Perceraian di Banjarmasin

BANJARMASIN – Angka kasus COVID-19 di Banjarmasin terus meningkat. Ironisnya, seakan berlomba dengan angka perceraian.

Humas Pengadilan Agama (PA) Banjarmasin, Bakhtiar mengatakan, tren perceraian ini mulai mengkhawatirkan.
Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2020, pihaknya menerima 1.245 perkara perceraian.

“Sementara tahun ini, dari Januari sampai Juli saja 1.409 kasus,” sebutnya (6/8). “Bayangkan sampai Desember nanti berapa,” tambahnya risau. Disinggung pemicu perceraian, Bakhtiar melihat ada banyak faktor. Seperti pasangan yang dihukum penjara, poligami, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kawin paksa dan tentu saja masalah ekonomi.

“Sumbu utamanya selalu ekonomi. Lalu sering cekcok, akhirnya berujung kekerasan,” jelasnya.

Apalagi selama pandemi dan masa pembatasan, ekonomi masyarakat semakin susah.

Apakah dari sekian perkara itu, banyak yang kembali rujuk? Menurutnya, sangat tergantung dari waktu perpisahan. Lama atau sebentar.

“Kalau berpisahnya sudah lama, sulit. Biasanya ada orang ketiga yang memanas-manasi sehingga sulit didamaikan,” tukasnya.

Di internal PA sendiri, seorang pegawai terinfeksi virus corona pada Juli. Sejak itu, jumlah perkara yang diterima dibatasi.

Rata-rata dalam sehari ada 20 perkara yang masuk. Sekarang, untuk yang mendaftar langsung ke PA, dibatasi lima saja. Sisanya akan dilayani secara daring lewat e-Court.

Bakhtiar berharap, pembatasan itu bisa mengerem hasrat perceraian yang semakin banyak. “Kami prediksi pada Agustus (jumlah perkaranya) sudah menurun,” tutupnya. (gmp/fud/ema)

BANJARMASIN – Angka kasus COVID-19 di Banjarmasin terus meningkat. Ironisnya, seakan berlomba dengan angka perceraian.

Humas Pengadilan Agama (PA) Banjarmasin, Bakhtiar mengatakan, tren perceraian ini mulai mengkhawatirkan.
Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2020, pihaknya menerima 1.245 perkara perceraian.

“Sementara tahun ini, dari Januari sampai Juli saja 1.409 kasus,” sebutnya (6/8). “Bayangkan sampai Desember nanti berapa,” tambahnya risau. Disinggung pemicu perceraian, Bakhtiar melihat ada banyak faktor. Seperti pasangan yang dihukum penjara, poligami, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kawin paksa dan tentu saja masalah ekonomi.

“Sumbu utamanya selalu ekonomi. Lalu sering cekcok, akhirnya berujung kekerasan,” jelasnya.

Apalagi selama pandemi dan masa pembatasan, ekonomi masyarakat semakin susah.

Apakah dari sekian perkara itu, banyak yang kembali rujuk? Menurutnya, sangat tergantung dari waktu perpisahan. Lama atau sebentar.

“Kalau berpisahnya sudah lama, sulit. Biasanya ada orang ketiga yang memanas-manasi sehingga sulit didamaikan,” tukasnya.

Di internal PA sendiri, seorang pegawai terinfeksi virus corona pada Juli. Sejak itu, jumlah perkara yang diterima dibatasi.

Rata-rata dalam sehari ada 20 perkara yang masuk. Sekarang, untuk yang mendaftar langsung ke PA, dibatasi lima saja. Sisanya akan dilayani secara daring lewat e-Court.

Bakhtiar berharap, pembatasan itu bisa mengerem hasrat perceraian yang semakin banyak. “Kami prediksi pada Agustus (jumlah perkaranya) sudah menurun,” tutupnya. (gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/