alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Menyambut 17 Agustus di Tengah Pandemi: Disebut PPKM, Wajah Pedagang Mendadak Muram

Memasuki bulan kemerdekaan republik, pedagang bendera kembali meramaikan kawasan Taman Sari dan Pasar Baru.

— Oleh: ENDANG S, Banjarmasin

Di kawasan perdagangan Banjarmasin Tengah dekat Jembatan Antasari itu, lapak kaki lima berjejer. Menjajakan bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik merah putih lainnya.

Salah seorang pedagang, Rita menuturkan, keluarganya selalu menantikan bulan Agustus.

“Kami menjual pernak-pernik 17 Agustusan ini sudah 20 tahun lebih,” kata perempuan 48 tahun itu, kemarin (4/8).
“Pada bulan-bulan biasa, berjualan stiker saja,” tambah warga Teluk Tiram itu.

Soal harga, bervariasi tergantung ukuran. Contoh bendera, dari Rp10 ribu sampai Rp75 ribu.

Sedangkan untuk umbul-umbul, paling murah Rp35 ribu. Yang terbesar, setengah lingkaran sepanjang lima meter dibanderol Rp150 ribu.

“Bisa lebih murah kalau beli partai, bukan satuan,” jelasnya.

Ketika disinggung soal PPKM level 4, muka Rita berubah muram. Diakuinya, penjualan menurun, ia menduga lantaran banyak warga yang enggan keluar rumah.

“Turun 50 persen lebih. Dibandingkan tahun lalu, sejak pertengahan Juli sudah ramai dicari pembeli. Apalagi sebelum ada pandemi,” kisahnya.

Apalagi, selama corona masih mewabah, kerumunan juga dilarang. Lomba-lomba untuk merayakan hari kemerdekaan di tengah kampung sudah pasti dilarang.

Sama seperti pedagang lainnya, Rita berharap pagebluk lekas berlalu. Dan kehidupan kembali normal.
“Semoga pandemi berakhir dan para pedagang seperti kami tak lagi menjerit,” harapnya.

Bagaimana jika dagangannya banyak yang tak laku sampai Agustus berakhir? Dijawabnya, bendera-bendera itu akan disimpan dan dijual pada Agustus tahun depan.

“Kalau masih ada sisa, disimpan dan dikemas dengan plastik lalu diberi kapur barus untuk dijual lagi pada tahun depan,” tutupnya. (fud/ema)

Memasuki bulan kemerdekaan republik, pedagang bendera kembali meramaikan kawasan Taman Sari dan Pasar Baru.

— Oleh: ENDANG S, Banjarmasin

Di kawasan perdagangan Banjarmasin Tengah dekat Jembatan Antasari itu, lapak kaki lima berjejer. Menjajakan bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik merah putih lainnya.

Salah seorang pedagang, Rita menuturkan, keluarganya selalu menantikan bulan Agustus.

“Kami menjual pernak-pernik 17 Agustusan ini sudah 20 tahun lebih,” kata perempuan 48 tahun itu, kemarin (4/8).
“Pada bulan-bulan biasa, berjualan stiker saja,” tambah warga Teluk Tiram itu.

Soal harga, bervariasi tergantung ukuran. Contoh bendera, dari Rp10 ribu sampai Rp75 ribu.

Sedangkan untuk umbul-umbul, paling murah Rp35 ribu. Yang terbesar, setengah lingkaran sepanjang lima meter dibanderol Rp150 ribu.

“Bisa lebih murah kalau beli partai, bukan satuan,” jelasnya.

Ketika disinggung soal PPKM level 4, muka Rita berubah muram. Diakuinya, penjualan menurun, ia menduga lantaran banyak warga yang enggan keluar rumah.

“Turun 50 persen lebih. Dibandingkan tahun lalu, sejak pertengahan Juli sudah ramai dicari pembeli. Apalagi sebelum ada pandemi,” kisahnya.

Apalagi, selama corona masih mewabah, kerumunan juga dilarang. Lomba-lomba untuk merayakan hari kemerdekaan di tengah kampung sudah pasti dilarang.

Sama seperti pedagang lainnya, Rita berharap pagebluk lekas berlalu. Dan kehidupan kembali normal.
“Semoga pandemi berakhir dan para pedagang seperti kami tak lagi menjerit,” harapnya.

Bagaimana jika dagangannya banyak yang tak laku sampai Agustus berakhir? Dijawabnya, bendera-bendera itu akan disimpan dan dijual pada Agustus tahun depan.

“Kalau masih ada sisa, disimpan dan dikemas dengan plastik lalu diberi kapur barus untuk dijual lagi pada tahun depan,” tutupnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/